Menasehati Diri Sendiri Dibilang Bagus

Di sanggar, aku ketemu banyak wajah baru. Sanggar jadi ramai. Ada Rahmi Naska, Amel dan Deli. Disamping Icha dan Dedi. Opie tidak datang karena ia mesti menghadiri penutupan krida UNP.
Aku menyerahkan tiga tugasku pada Om KW, yaitu kisah masa kecil, pengalaman mengharukan, dan menasehati diri sendiri. Dari ketiganya, Om bilang menasehati diri sendiri yang paling bagus. Yang lainnya juga bagus. Pada kisah masa kecil, aku menyerahkan tiga judul : Tuhan Semut, Kisah Nabi Yusuf, dan Kabur dari Sholat. Sedangkan untuk pengalaman mengharukan diberi judul “Ciuman Nenek Maya”. Sempat bikin kakak-kakak dari komunitas Hijaumuda bertanya-tanya, “Maya yang mana?.” Hah, mentang-mentang koordinator hijaumuda bernama Maya. (hehe…, peace kak Maya ).
Berhubung menasehati diri sendiri dibilang bagus, maka saya arsipkan tulisan itu di bawah ini : (Padahal yang paling susah menuliskannya itu ya menasehati diri sendiri ini.)

___

Menasehati diri sendiri
Jangan pulang malam lagi dong, Nil!

Nilna yang baik, semakin lama aku semakin prihatin padamu. Kemarin, kamu pulang malam lagi. Oke, kamu boleh membantah. Bukan pulang malam tapi pulang kelewat senja. Namun itu sama saja bagiku. Pulang kelewat senja membuatmu cepat lelah. Ujung-ujungnya kamu mengorbankan kesehatanmu. Coba pikir, tiap hari kamu pulang malam, tiap hari pula kamu mandi malam-malam. Lalu, sholat magribmu kemana? Kalaupun kamu sholat Magrib pasti udah tidak tepat waktu lagi.
Pikirkan juga ayah dan ibu yang menunggumu di rumah, Nilna. Mereka pasti cemas dengan keadaanmu. Sudah larut begini tapi kok anak gadisnya belum pulang juga. Dan tolong hapuskan di pikiranmu itu kalimat yang menghakimi orangtuamu sebagai orangtua otoriter. Mereka itu tidak otoriter sebenarnya. Mereka hanya memikirkan keselamatanmu. Kamu harus menyadari, kamu itu harapan. Untuk apa lagi orangtuamu bekerja memperjuangkan hidup jika tidak untuk keberlangsunganmu.
Pun orangtua bersikap seperti itu untuk menjaga nama baikmu. Kamu ingat kata Ayah kemaren? “Aku ingin anakku menjadi panutan bagi orang-orang.” Tapi apa yang mesti dipanuti bagi orang-orang jika kamu sering pulang malam. Apa setiap orang juga harus pulang malam agar bisa menjadi anak atau mahasiswa atau remaja seperti dirimu. Ayolah Nilna, pikirkan itu. Mau tak mau kamu itu sudah jadi “buah bibir” bagi orang-orang di sekitarmu, tetangga-tetanggamu itu.
Kamu mungkin pernah berpikir, “Ayah terlalu sok tahu dengan kegiatanmu”. Aku rasa ayah tahu. Bukan sok tahu. Bukankah ia juga pernah muda dulu? Bukankah ia pernah menyelami masa-masa kuliah juga? Dan kamu tahu persis bagaimana ayah giat berorganisasi ini itu. Aku malah berpikir, sebenarnya kamu dan ayahmu itu tak ada bedanya. Sama-sama ‘sering’ aktif, sama-sama menyukai jurnalistik, sama-sama suka berdebat, sama-sama egois, dan sama-sama keras kepala, atau mungkin juga keras hati.
Dan ibu. Sudah berapa kali kamu mengatakan dalam hati ibumu nyinyir, Nilna? Kenyataannya kamu sama nyinyirnya dengan ibumu. Karena setiap kali ibumu nyinyir, setiap itu pula kamu mengatakan ibumu nyinyir. Nah, siapa yang nyinyir sebenarnya?
Sudahlah, ubah saja persepsimu selama ini. Jika orangtua tidak bisa mengubah persepsinya, maka kamulah yang harus mengubah persepsi. Tidak ada orangtua yang tidak sayang pada anaknya. Namun, kita kadang tidak paham dengan semua itu, dengan rahasia di balik ‘keras’nya seorang ayah dan ‘nyinyir’nya seorang ibu.
Jangan pulang kelewat senja lagi ya, Nilna !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s