26 Februari

lalu aku terjaga, 26 Februari

ketika matahari merongrong bumi

Baru kini aku merasa lain seperti menggigil

Hawa mencuat membeku di kening dan

rama-rama melesat melewati anggrek

satu biji, dua biji, 26 Februari

dan ranting melintang

dari jarak yang kita atur dengan jemari

oleh rasa yang campuri hati

tiada luka tersakiti, tanpa linang di pipi

hari ini, 26 Februari

Waw, ada kembang merekah di dadaku

seribu salju berjatuhan di jantungku

diguyur musim tersipu aku

26 Februari, memesonaku

Kita mendongak ke atas

di sana warna bertabrakan membiru langit

juga awan, kita bergandengan

dalam kelingking berpelukan

Februari, 26


Antologi Puisi Temu Penyair 2008 : Kampung Dalam Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s