Judulnya “Patah Hati”

Patah hati emang sakit banget. Lebih sakit dari nggak patah hati ( ya iya lah… ! bego lu ! ). Jadi ceritanya ada teman yang lagi patah hati. Dia minta saran ke aku gimana caranya biar hatinya yang patah itu bisa dibenerin kembali. Dan sampailah dia kepadaku.

Dia dan aku janjian di sebuah kafe. Dia sms aku, “lo dmn? Gw pgn curhat neyh. Gw tgg lo d kafe y. cpt. Pliiiiisssss”. Kebetulan aku emang berada nggak jauh dari kafe. Secepat kilat, aku pun sampai di hadapannya. Siap menjadi tong sampah baginya, tempatnya memuncratkan segala muntahannya, singkatnya saat ini posisiku sangat dibutuhkannya. ( Bagi para sahabat, jangan senang dulu, posisimu setara dengan tong sampah, tapi bersyukurlah karena setidaknya hidupmu berguna bagi orang-orang di sekelilingmu )

Lanjut. Dia cerita panjang lebar. Aku ceritain ulang ya.

“Aku jadian sama cowok dua minggu lalu. Eh bukan dua minggu tapi 18 hari yang lalu. Aku yang suka ke dia. Sejak pertama kali ketemu dia, 6 bulan yang lalu, aku udah suka perhatiin dia. Dia itu orangnya baik. Nggak cakep-cakep amat sih, tapi wajahnya bersih. Wajahnya nyaman dilihat gitu deh, bikin hati damai. Hehe…”

Temanku itu ketawa tapi ketawanya lebih mirip nangis.

Dia ngelanjutin cerita.

“Selain baik, dia juga pintar, agak berwibawa, punya empati yang tinggi, pokoknya segala yang bagus-bagus buat dia deh…. Terus, aku mulai ngedeketin dia. Ternyata dia peduli sama aku. Saat aku lagi ada masalah, dia yang bantu aku buat bangkit lagi. Sampai-sampai, aku hanya percaya kata-katanya, aku hanya nyaman bila curhat dengannya. Dan dia benar-benar bisa merubah hidupku untuk lebih baik lagi.”

“Contohnya ?, ” tanyaku.

“Contohnya, waktu aku berantem sama mama. Dia bilang gini, ‘Tidak ada orangtua yang nggak sayang sama anaknya. Mama kayak gitu pasti karena dia nggak mau kamu kenapa-napa. Gini aja, kalau orang tua nggak bisa merubah persepsi, kitalah yang harus mengubah persepsi. Berpikir positif aja pada orang tua. Itu artinya ortu sayang sama kamu.’ Dia bilang gitu. Nah, gimana nggak menyejukkan tuh kata-katanya ? “

Aku ngangguk-ngangguk. Kalau didengar sekilas, standar sih sarannya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kata-katanya emang keren. Apalagi yang ngedengerin orang yang sayang banget ma dia.

“Standar sih,” katanya.

Ya ampun, aku kaget. Kok dia bisa tahu apa yang aku pikirin ? Udahlah nggak usah dijawab. Aku ngelanjutin denger ceritanya.

“Sarannya standar tapi karena dia yang ngucapin, aku ngerasa tersentuh banget. Kata-katanya mengena. Kebaikannya itu yang bikin aku sayang banget ke dia. Dia selalu ada pas aku lagi down. Hingga akhirnya, aku nyerahin semua catatan harianku padanya. Aku emang biasa nulis catatan harian.”

“Semuanya ?, ” tanyaku.

“Iya. Semuanya. Di catatan harian itu juga ada cerita-cerita tentangnya, tulisan tentang aku mulai suka sama dia, hasil curhat-curhat aku ke dia, kalimat-kalimat bahwa sebenarnya aku itu cinta dan sayang banget sama dia. Tapi, tulisan-tulisan tentang aku mencintainya itu aku password. Jadi, dia cuma bisa baca catatan harianku di luar cerita cinta.”

“Ooh.., ” aku ngangguk-ngangguk. Mulai tertarik dengan ceritanya. Dia kalau cerita emang runtut dari awal. Kita baru bisa ketemu intinya di akhir cerita. Tapi kalau ceritanya langsung ke akhir, jadi nggak jelas gitu deh. Ya, kalau mau ngerti jalan ceritanya, emang harus denger dari awal. “Terus…?, ” tuntutku.

“Terus…. Singkat aja ya. Akhirnya aku sampai pada hari dimana aku nyerahin password itu. Aku juga nggak tahu dapat keberanian darimana sampai-sampai aku mau nyerahin password itu. Dua hari sebelumnya, temannya sempat nanya ke aku, ‘eh, aku juga ikut baca cathar kamu lho, passwordnya apa sih ?.’ Aku kaget juga. Emang sih aku yang salah, aku sempat bilang ke dia kalau aku nulis untuk dibaca. Jadi ya nggak salah dia kalau temannya ikut baca, toh aku nggak pernah larang. Nah, waktu temannya nanya password ke aku itu, aku sempat ngelirik dia, dia kelihatannya ngelarang temannya itu nanya-nanya password ke aku, tapi keliatan penasaran juga. Malu-malu mau gitu deh.”

“Hmm…. Trus kamu ngasi password ke temannya itu ?. ”

“Bukan ke temannya. Tapi ke dia langsung. Juga bukan hari itu. Tapi besoknya. Besoknya aku nanya ke dia, ‘Kamu mau tahu apa passwordnya ?’ Dia menggeleng. ‘Udah jujur ajalah,’ pancingku. Akhirnya dia ngangguk juga. Trus aku ngasi password itu lewat angka-angka. Maksudnya gini, passwordnya kan nama dia, tapi aku kasi lewat angka. Misalnya baca = 2131. a=1, b= 2, c=3. Ngerti kan?”

Aku ngangguk-angguk. “Kreatif juga kamu,” ujarku. Dia senyum.

“Pas udah tahu passwordnya itu, dia sumringah banget kelihatannya. Wajahnya bahagia gitu. Trus besok paginya, aku ketemu lagi sama temannya dia. Temannya cengengesan gitu pas ketemu aku. Dia langsung nyeletuk, ‘ha… kamu naksir ya sama dia?.

“Lho, temannya itu juga ikut baca dong?,” heranku.

“Nggak. Temannya itu ga ikut baca. Tapi dia yang nyeritain semuanya. Aku sih nggak masalah. Mereka itu kan teman dekat. Nggak apa-apa. Terus temannya itu bilang kalau ternyata ‘dia’ juga suka sama aku.”

“Dia yang mana nih ? Dia, cowok itu, atau dia, temannya ?”

“ ‘Dia’ cowok itu.”

“Lha, bagus dong !, ” sorakku. “Trus patah hatinya dimana ?,” aku jadi heran. Cinta berbalas kok dibilang patah hati.

“Tunggu dulu. Aku belum selesai cerita.”

Aku nyengir.

“ Dan hari itu juga, aku jadian sama dia. Gila aja, aku benar-benar nggak nyangka bisa jadian sama dia. Dia yang aku suka ternyata juga suka sama aku. Siapa yang nggak berbunga-bunga ? Dan yang lebih bikin bahagianya lagi, dia yang nembak aku. Emang sih, aku yang nyatain cinta duluan, tapi dia yang ngajak aku pacaran.”

Aku terus menyimak ceritanya dengan baik.

“Tapi senengnya itu cuma dua minggu. Masuk minggu ketiga, aku ma dia cuek-cuekan. Padahal kami satu kelas. Dia duluan yang cuekin aku. Tiba-tiba aja dia duduk di depan. Aku juga cuekin dia, tiap jam istirahat aku lebih intens ma teman-temanku. Sebenarnya, aku cuekin gitu pengen dia ngedeketin aku, ngajak ke kantin bareng kek, atau kemana gitu. Bahkan pulang bareng pun cuma bisa diitung jari. Masa aku mulu yang duluan deketin. Tapi, dia nggak juga ngedeketin aku atau berusaha biar deket sama aku di kelas. Emang sih, kita nggak memploklamirkan jadian ke depan kelas. Cuma satu dua orang yang tahu kita udah jadian. Lama-lama aku nggak tahan juga. Aku pun sms dia. Tapi nggak dibales. Aku usaha telpon dia tapi waktu itu jaringan lagi macet. Maklumlah Simpati PeDe. Tapi, buat sms masih bisa kok. Malam itu, aku positif thinking aja. Mungkin dia lagi nggak ada pulsa.”

“ Ya bagus. Berpikir positif aja,” ujarku nyeletuk manggut-manggut.

“ Iya. Terus, tadi pagi aku ketemu dia. Aku tanyain baik-baik. Kenapa ? Aku salah apa ? Dia nggak jawab jelas pertanyaanku. Dia bilang aku nggak salah apa-apa. Yang salah itu dia. Aku bingung, Trus dia ngasih surat ke aku. Dan isi suratnya itu…,”

Dia nyerahin surat ke aku. Aku baca. Dari kalimat pertamanya sudah jelas bahwa cowok itu sama sekali nggak suka sama temenku ini. Cowok itu cuma menganggapnya sahabat. Dan alasan cowok itu nembak hanya karena nggak ingin temanku kecewa. Dia hanya pengen ngeliat temanku bahagia. Dia membiarkan dirinya tersiksa karena harus pacaran sama orang yang nggak dia suka. Dia emang cowok yang baik tapi karena kebaikannya itu temanku jadi sakit.

“Sakit sekali rasanya. Aku benar-benar sakit. Kenapa dia nggak bilang dari dulu? Kenapa kita harus pacaran ? Kamu tahu, aku dibawanya melayang tinggi tapi kemudian aku dijatuhkannya ke bumi. Itu sakit sekali. Sakit….”

Temanku mulai nangis. Aku jadi sedih ngelihatnya. Aku hanya bisa mengusap-usap tangannya buat menenangkan hatinya.

“Padahal dia sempat bilang kalau dia itu nggak akan matahin hati cewek. Dan dia bilang ke teman-temannya kalau dia bakal bertahan sama aku setidaknya sampai kami berdua lulus kuliah. Hari pertama kita jadian, dia yang pertama sms aku, pakai kata-kata ‘dear, sayang, honey’. Apa gunanya dia bilang gitu kalau dia sendiri sebenarnya nggak suka sama aku.”

Percakapan kami terhenti begitu saja sampai disana. Dia udah nggak bisa cerita lagi. Dia nangis sesenggukan. Aku membelai-belai kepalanya. Aku belum memberikan saran apa-apa. Nggak tepat aja rasanya ngasih saran. Dia cuma butuh orang yang bisa mendengarkan ceritanya. Aku jadi pengen ikutan nangis ngelihatnya.

Seminggu berikutnya, dia nelpon aku.

“Aku aja yang bego. Percaya sama kata-katanya. Oke, sekarang aku terima kenyataan kalau dia nggak suka sama aku. Tapi aku nggak bisa nerima kalau dia bohong sama aku. Dia udah nyakitin aku. Tapi anehnya, aku masih aja sayang sama dia. Walaupun dia udah nyakitin aku, walaupun dia udah bohong sama aku, walaupun aku udah tahu dia nggak suka sama aku. Tapi aku masih aja sayang sama dia. Aku nggak ngerti sama diriku sendiri, ” ucapnya di telpon.

Aku diam saja mendengarkan uneg-unegnya.

“Nil, aku mesti gimana ? Suratnya sudah aku balas. Aku bilang kalau aku terima dia nggak suka sama aku. Aku juga bilang sudah memaafkannya. Tapi aku juga bilang kalau aku sakit hati dan ‘maaf’nya tak kan bisa menyembuhkan luka di hatiku. Aku tulis disana, ‘ Kamu tersiksa karena aku. Aku tidak mau kamu tersiksa. Makanya, aku menerima apa yang kamu tulis di surat itu. Sakit memang. Tapi akan lebih sakit jika kamu yang merasa sakit.’ Namun, bagaimanapun aku nggak mau munafik. Aku emang nggak mau dia ‘sakit’ tapi aku juga nggak mau ‘sakit’. Aku masih sayang sama dia. Aku pengen kita balikan lagi. Tapi, aku juga masih punya harga diri. Sekarang, aku malah berantem sama diriku sendiri. Aku nggak tahu mesti gimana lagi. Gimana dong, Nil?. Di satu sisi aku sayang banget sama dia, di sisi lain hatiku sakit karena dia, dan di sisi yang lain kenyataan bahwa dia nggak suka sama aku. Tapi aku masih ngarepin dia. Dia kelihatannya juga nyesal udah nyakitin aku. Aduh,,, aku benar-benar bingung.”

Aku dapat menangkap : temanku itu patah hati. Dia patah hati karena “kebaikan” seorang cowok. Aku benar-benar nggak tahu saran apa yang tepat untuknya. Secara aku itu nggak pengalaman soal ini. Aku jadi ikutan stress nih. Nah, ada yang bisa bantu aku nggak ?

Kasih komen yah….!

2 thoughts on “Judulnya “Patah Hati”

  1. huhhh..
    patah hati ya???

    hmm..
    pandang saja dari sisi positifnya..
    mungkin menurut si cowok, sikap yang dia ambil adalah sikap terbaik untuk si cewek..
    dan cobalah pahami juga perasaannya..

    buat si cewek..
    guru sejarahku bilang, ” yang lalu biarlah berlalu”
    so…..life must go on!!!

    betewe, strategi dirimu nyeritainnya bagus juga..
    u know lah ya…
    keknya saia berniat make cara inih..

  2. Lhaa???*kaget mode ON*

    Ada apa dengan patah hati?? seperti lagu Radja kah??

    Bukanya takut..tuk patah hati!!

    Hehehe…

    Nice blog…asik tempat kos nya!!

    Sebagai balasan.. Plis Visit my blog too…okeh! No smoking dehh….!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s