Sutan Takdir Alisjahbana

Siapakah yang mencetuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa? Bahasa yang pernah menggetarkan dunia linguistik karena dapat menyatukan penduduk yang berada dalam kurang lebih 13.000 pulau di negara ini? Dialah Sutan Takdir Alisjahbana atau yang akrab disebut STA.
STA adalah sastrawan Indonesia yang melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat diterima menjadi bahasa Nasional. Ia yang memberikan landasan pembangunan peradaban Indonesia Modern di bidang bahasa. Oleh karena itu STA lebih dikenal sebagai pejuang bahasa daripada seorang sastrawan.
Pada masa pemerintahan Jepang, ia menjadi ketua Komisi Bahasa. STA menjadi pencetus kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo. Dalam masa itu juga (1936) ia menulis buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia dan berhasil menghimpun 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia.
Akhir perang dunia, kantor komisi bahasa tempatnya bekerja ditutup. Namun, STA tetap berupaya keras agar bahasa Indonesia dapat dipergunakan sebagai bahasa nasional. Lewat majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan sekaligus dipimpinnya, STA tetap mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Tak salah jika Sutan Takdir Alisjahbana mendapat julukan “Bapak Bahasa Indonesia Modern” karena jasa sebagai tokoh peletak dasar bahasa Indonesia yang akhirnya menjadi alat pemersatu sebuah negara yang memiliki beragam bahasa dari berbagai daerah.
Jika STA masih hidup, maka umurnya sekarang telah mencapai 100 tahun. STA lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908. Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987).
Ia telah menulis banyak karya sejak berumur 17 tahun. Setidaknya ada 35 karya terkemuka dimana STA menjadi penulisnya, diantaranya : Layar Terkembang (novel, 1936), Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929), Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932), Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940), beberapa bunga rampai, kumpulan esai, dan juga buku referensi. Atas karya dan jasa-jasanya bagi sastra dan budaya, Sutan Takdir Alisjahbana dianugrahi penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI, Tahun 1970 dan sebagai Pelopor dan tokoh “Pujangga Baru”.
Desa Tugu adalah lokasi dimana Sutan Takdir Alisjahbana menghabiskan masa tuanya. STA adalah teladan bagi perjalanan bangsa Indonesia menuju masa depan penuh harapan. Dalam sebuah jurnal, namanya dicantumkan dalam “100 tokoh yang mengubah Indonesia”. Beliau meninggal di Jakarta pada 17 Juli 1994. (Berbagai Sumber/Nilna Rahmi Isna)

diterbitkan di tabloid Pmails edisi 128, 09-15 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s