Edisi Kelebat

Nilna R. Isna

Kelebat 1

Akhirnya kaubuka juga penggalan-penggalan kisah yang disimpan bertahun-tahun lamanya itu. Berkelebat dalam garis-garis nasib. Nasib yang menggiringmu ke dermaga batinku. Ingatanku kembali menyapu ruangan sesak yang membekap dirimu dan diriku di awal pertemuan kita. ”Astaga, negeri apa ini? Sempit. Dan mengapa manusia betah bertahan disini? Lalu untuk apa kita kemari?”

Awal November, percakapan kita dimulai. “Kalau kau takut mati, jangan hidup. Jika telah hidup harus siap menghadapi mati,” katamu. Saat itu tanganku menggaris-garis meja kayu dengan cerutu. ”Apakah aku buruk? ,” tanyaku. ”Tidak. Kau baik. Tak pernah aku melihat orang sebaik dirimu. Dan kau juga cantik.” Aku membuang napas. Sementara kau melebarkan tanganmu. ”Lepaskanlah lalu hiasi rumahmu dengan bunga-bunga yang kau tanam sendiri.” Darahku berdesir, getir.

Kelebat 2

Aku tergantung pada dahan-dahan jalanmu. Terhalang emosi. Terserah aku bulan atau bunga matahari. Merindu tak pernah di batas bumi. Aku menggeruk dadamu mencari hati. Disana aku tak mau pergi, ada cinta, aku tak merasa sepi.

Kelebat 3

Dalam monolog yang kurangkai sekilas. Kadang seperti tidak berarti, seakan merasa dikhianati dan tanpa ekspresi. Menjelmanya menjadi bintang yang sendiri, menahan-nahan rindu. Menyerupai aku. Oh, aku cemburu.

Tak perlu minta izin membersihkan bajumu. Aku tak akan lelah menyembunyikan rinai-rinai tangisku. Jika siang disiram panas, senja diguyur hujan. Payungku tidak cukup besar menampung seratus orang.

Kelebat 4

”Sejak kapan kau bertanya?”

Dan kau memberatkan kaji

Berjanji,nanti.

29 Desember 2007

3 thoughts on “Edisi Kelebat

  1. Membaca “kelebat” seakan membuka tabir Budi Dharma saja. Setiap derak guritannya, selalu merangkaikan kelebat. Katanya ; Kadang dia terus berkelabat dalam fikiran. Tulisan Nilna Bagus. Salam Kenal….

  2. Yang lain turut berkelebat. Seketika memijit-mijit tut-tut keyboard komputer. Kadang juga tidak mengerti tentang kenapa kelebat itu ada. Mungkinkah kelebat ini yang sengaja dibuat agar yang lain juga berkelebat. Dan katapun tumpah ruah di dalamnya.

    Walau terkadang seperti orang kebanyakan, hanya bisa meraba makna di balik tanya. Apa maksudnya. Benarkah? Entahlah.
    Inilah kelebat yang hebat
    Sekali lagi
    Entahlah

  3. kelebat kelebat kelebat 3 kali, wah…. apa itu berarti gawat. sering kelebat cuma hadir sekali dan menjadi misterius. tapi kelebar yang datang tiga kali, mungkin kah dikukuhkan sebagai hoyak???

    nilna, senang menikmati puisinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s