1 Muharam 1429 H di Mesjid Baitul Huda

Malam itu rapat dimulai dengan jumlah anggota seadanya. Itu pun rapatnya nggak resmi, asal-asalan saja. Rapat ini sebenarnya atas usulan Om Yal kemaren agar remaja mesjid mengadakan acara tahun baru Islam. Pagi sebelum rapat, saya kebetulan ketemu Om Yal, langsung saya bilang kalau nanti malam remaja mau mengadakan rapat. Ketika kami sedang rapat asal-asalan, tiba-tiba Om Yal datang diikuti Pak In dan Pak Danil. Maka, rapat formal pun terpaksa dilakukan ketika itu. Untunglah, meski rapat kami sebelumnya asal-asalan, tapi konsep acara telah kami susun, jadi nggak terlalu kelihatan ngasalnya.

Malam-malam berikutnya setelah rapat, kami isi dengan latihan. Adapun acara yang akan ditampilkan adalah penampilan Asmaul Husna, nasyid-akustik remaja dan anak-anak, serta musikalisasi puisi dakwah. Bersyukur sekali, Om Yal dan Pak In dengan baik hati dan kerelaan hatinya mau melatih anak-anak TPA plus remaja mesjid demi suksesnya acara itu.

Masalah terjadi pada H-2, Pak Win selaku ketua pengurus mesjid tidak bersedia menandatangani undangan. Saya tidak tahu jelas apa alasan beliau. (Saya cuma menangkap Pak Win saat itu ngomongin mobil yang sedang diparkir. ???) Pokoknya begitulah, mobil itu dijadikan ”umpama” oleh Pak Win. Jelasnya, saya sendiri nggak ngerti dengan apa yang membuatnya tidak mau menandatangani surat itu. Jelasnya lagi, Pak Win terlihat marah sekali.

Tapi, untunglah, Bapak-bapak mau membantu kami, para remaja, untuk menanggulangi kejadian ini. Hingga, pada akhirnya, Pak Win bersedia juga menandatangani undangan itu.

Paginya, sebelum acara, Ibu-ibu sempat gempar karena ada laporan bahwa Pak Hen belum dapat undangan. Ibu-ibu hiruk pikuk, Bapak-bapak ikutan heboh (nggak dikit juga sih yang ketawa), dan remaja-remaja mendadak repot pagi itu. Saya sendiri paling repot. Pagi itu, Bu Ros dah nyampe ke rumah untuk mencari saya. Saya-nya masih tidur, saya dibangunin, cepat-cepat cuci muka, dan tanpa mandi langsung ganti baju dan lari ke rumah Pak Hen buat ngasi undangan. Sebelum ”lepas landas” dari rumah, Bu Ros sempat teriak, ”Panggil anak Pak Jon juga (bang Afin,-red)”. Makanya sebelum ke rumah Pak Hen saya mampir dulu ke rumah Bang Fin. Sama seperti saya, Bang Fin juga terpaksa bangun. Tanpa mandi dan hanya cuci muka, Bang Fin menyusul ke rumah Pak Hen. Undangan terpaksa saya kasih ke Bu As (istri Pak Hen) karena Pak Hen-nya udah pergi ke balaikota. Oleh Bu As, kita dapat tausyiah panjang lebar.

Hari H

Saya pikir, Pak Win nggak mau datang pada acara tersebut. Tapi ternyata beliau datang. Dan saya juga berpikir bahwa Pak Hen tidak bakalan datang. Tapi kenyataannya Pak Hen datang. Alhamdulillah. Terima Kasih y, Pak.

Acara berjalan lancar.

  • Protokol oleh Yaya : oke. Yaya akhirnya bisa memperlambat tempo bicaranya. Artinya tenang dan tidak tergesa-gesa
  • Pembacaan ayat suci Alquran oleh Redo : Sip. Tapi Redo kedengaran seperti ingin cepat selesai. Mungkin nervous.
  • Terjemahan oleh Ai : Jempol buat Ai. Ternyata Ai bisa serius juga. Cara pembacaannya mantap.
  • Asmaul Husna : Bagus. Tapi karena saat latihan nggak pake mic, jadi pas tampil anak-anak bingung ”siapa yang mau megang mic?” Jadinya mereka saling mengopor mic.
  • Nasyid-akustik oleh remaja : Keren. Tapi kayaknya mic (sekali lagi) menganggu performence mereka. Kali ini mereka bukan saling mengoper mic tapi saling rebutan mic. Hwalah!!!!
  • Nasyid-akustik oleh anak-anak TPA : Nah, inilah yang paling keren. Keren banget pokoknya. I’m spechless!
  • Musikalisasi puisi dakwah : Tidak terlalu baik. Muti tiba-tiba lupa teks. Ia sendiri tidak memegang kertas teks dengan alasan sudah hapal kata-katanya. Mungkin karena sedikit ’sombong’ ini Muti kena batunya. Tapi tak apalah, namanya juga belajar. Dari pengalaman, mereka bisa belajar menjadi lebih baik.

Owyah, ada yang kurang!!! Kata sambutannya mana???

Kata Pak In, nggak usah pakai kata sambutan untuk menghemat waktu.

Sebenarnya saya tidak setuju dengan hal ini. Oke, jika kata sambutan dari ketua pengurus mesjid, ketua RT, dan ketua RW ditiadakan, tapi kata sambutan dari ketua pelaksana jangan ditiadakan dong!!

Soalnya dari kata sambutan itulah tampak kiprah remaja mesjid baitul huda, bahwa remaja mesjid baitul huda itu bergerak dan aktif, dan bahwa yang melaksanakan dan mengangkat acara ini adalah remaja.

Sayangnya kata sambutan dari ketua pelaksana tetap ditiadakan dengan alasan keadilan, padahal Bang Fin udah mengumpulkan segenap kekuatan dan bersiap-siap untuk menyampaikan kata sambutan yang pastinya mampu membangkitkan semangat kaum muda.

Diantara semua acara, maka kata sambutan dari ketua pelaksana-lah yang saya tunggu-tunggu. Sayang sekali, yang saya tunggu-tunggu itu yang tidak ada.

Saya rasa, mengenai kata sambutan ini, banyak Bapak-bapak dan Ibu-ibu jemaah mesjid yang sependapat dengan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s