Masalah dan Siapa yang Salah

Masalah minggu ini.

Ayah marah karena saya pulang lewat magrib.
Saya pulang lewat magrib karena saya mentoring.
Mentoring itu dimulai pukul 5 kurang seperempat.
Dan baru berakhir pukul 6 lewat seperempat, persisnya sesaat sebelum magrib.

Kenapa mulainya bisa molor seperti itu? Karena kakak (senior) yang akan mengisi materi baru selesai menyelesaikan tugasnya sebagai Co Ass di Rumah sakit M. Djamil.
Kenapa pulangnya bisa molor seperti itu? Karena topiknya lagi seru-serunya. Topiknya tentang cinta. Ada banyak pertanyaan yang timbul. Dan pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari kita, peserta mentoring. Kesimpulannya, bukan kakak (pemateri) yang mengulur waktu tapi peserta (termasuk saya) yang mengulur-ngulurnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab kakak tersebut.

Sekarang siapa yang salah?

Apakah universitas yang telah memprogramkan kegiatan mentoring tersebut?
Apakah kakak senior yang mengulur-ngulur waktu pulang?
Apakah jadwalnya yang salah?
Apakah topiknya yang salah?
Apakah peserta yang salah?

Saya rasa universitas tak salah karena kegiatan ini untuk menambah jam mata kuliah agama yang semakin lama semakin sempit karena bertarung dengan mata kuliah lain.
Kakak senior tak salah karena sebagai Co Ass ia harus siap melayani pasien kapan saja dan manusia tak pernah punya jadwal jam berapa ia harus sakit.
Jadwalnya pun tak salah. Jadwal mentoring umum di Fakultas Kedokteran UNAND adalah hari kamis jam 4. Jam ini mengingat jadwal para pemateri yang waktunya dipadati oleh skilllab, praktikum, Co Ass di RS, dll. Sedangkan jadwal yang ditetapkan kakak pemateri kelompok saya adalah hari jumat pukul 12.00 mengingat hari kamis pukul 16.00 adalah jadwal Co Ass sang kakak. Tapi pengecualian untuk hari ini berhubung besok jam 12.00 ada jadwal yang tak bisa ditinggalkan oleh sang kakak pemateri.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apakah topiknya salah atau tidak. Menurut saya, topiknya sama sekali tidak salah.
Pesertakah yang salah? Mungkin. Karena pesertalah yang melancarkan bertubi-tubi pertanyaan yang mengalir demikian deras. Tapi menurut naluri remaja dan wanita saya, peserta sama sekali tidak salah.

Intinya, tidak ada yang salah dengan semua ini.

Wajarkah jika ayah tiba-tiba berdemonstrasi ke dekan Fakultas Kedokteran atau ke rektor Universitas Andalas karena lalai dalam memperhatikan keselamatan mahasiswanya?

Ps : ayah mengancam akan demo ke dekan FK atau rektor UNAND sehubungan dengan kejadian saya pulang telat hari ini. Kata ayah, ”Mentoring apaan kalau pesertanya baru pulang tepat sebelum magrib? Itu berarti akan melalaikan jadwal sholat para peserta. Pun jika peserta sholat di luar rumah, apakah menjamin pakaiannya bersih saat sholat? Bagaimana dengan peserta yang rumahnya jauh dari kampus? Siapa yang akan menjamin keselamatan mahasiswa itu? .”

Saya berpikir ayah berkata demikian karena dia sayang pada saya dan pada teman-teman saya yang ikut kegiatan mentoring ini. Ayah mengkhawatirkan saya karena saya anak satu-satunya alias anak tunggal. Jadi, wajar jika ayah marah.

Salahkah ayah? Saya rasa tidak.

Lalu adakah yang salah?

”Don’t say I have a big problem ,but say I have a big God”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s