Aku dan Ibu – 3, habis *

Kelas tiga SD


Siang itu aku dan teman-temanku bermain petak umpet. Permainan ini biasa kami lakukan di bulan puasa untuk menghilangkan rasa lapar. Saatnya bagi kami untuk sembunyi. Aku dan dua orang temanku, Rani dan Tika, memilih bersembunyi di dahan pohon seri. Teman-teman yang lain ada yang bersembunyi di balik pot bunga, di belakang tiang, di bawah meja tamu, dan tempat-tempat kondusif lainnya. Area bersembunyi kami cukup jauh. Jika dihitung terdapat 7 rumah yang berhadap-hadapan, jumlahnya 14 rumah. Jadi, di sekeliling 14 rumah itu, kami boleh bersembunyi di mana saja. Pohon seri tempatku bersembunyi terletak di belakang rumah, dua rumah dari tempat temanku bertugas jaga.
Ketika di atas pohon seri itulah tragedi terjadi. Aku lupa kalau saat itu sedang berpuasa. Aku melihat satu buah seri merah ranum bergelantung menggiurkan di antara daun-daun, tidak jauh dari tempatku duduk bersembunyi. Dengan santai aku memetik buah itu kemudian memakannya. Nikmat sekali rasanya. Tapi kemudian, kenikmatanku terganggu karena teriakan Rani. ”Nilna nggak puasa! Nilna nggak puasa!.” Aku kaget bukan main. Baru ingat kalau aku sedang berpuasa. Rani dengan kejam menuduhku pembohong. ”Tadi Nilna bilang, Nilna puasa. Tapi sekarang Nilna makan. Nilna pembohong. Nilna pembohong.” Aku geram. Karena suara kami keras, maka Erick yang bertugas  jaga dengan mudah menemukan kami. Kali ini Tika yang marah padaku. Gara-gara aku, tempat persembunyiannya ketahuan. Aku semakin geram.
Dengan cepat, aku berlari ngambek pulang ke rumah. Di rumah, aku langsung menemui Ibu yang sedang mencuci baju. Aku menangis keras-keras. Ibu berpikir bahwa aku baru saja berantem ketika bermain. ”Sudah. Jangan menangis. Makanya kalau main baik-baik. Jangan berantem,” nasehat Ibu. Aku berontak. ”Bukan berantem,” sahutku keras. Ibu heran, juga bingung. ”Lalu kenapa menangis?,” tanya Ibu, ”Ada yang jahat sama kamu? ” Aku menggeleng-geleng kepala cepat. Kemudian aku ceritakan pada ibu insiden buah seri tadi serta tuduhan Rani. Ibu senyum-senyum mesem.
”Oh, itu toh. Nggak apa-apa Nilna. Itu tandanya kamu sedang dijamu oleh malaikat,” kata Ibu. Aku mengerinyitkan dahi. Ibu melanjutkan, ”Biasa kalau kita lupa sedang puasa karena tadi kita sedang asyik bermain. Makanya kalau bermain jangan ninggalin zikir. Nah, tadi kamu diuji sekaligus diingatkan malaikat.” Kali ini aku yang senyum mesem.
”Jadi, puasa Nilna nggak batal ?,” tanyaku. Ibu berpikir sejenak. Mungkin mencari kata-kata yang pas buatku. ”Mm,, puasa Nilna batal tapi Nilna nggak berdosa. Nilna kan masih kecil, masi belajar puasa. Tapi, puasanya dilanjutkan saja. Anggap saja Nilna puasa setengah-setengah hari. Buah seri tadi pabukoannya.” Ibu tersenyum. Aku juga tersenyum.
”Nilna boleh main lagi, Bu?” Ibu mengangguk. Aku kembali berlari ke tempat teman-temanku. Ternyata mereka sudah berkumpul semua. Ternyata Rani bercerita kepada yang lainnya kenapa tadi aku ngambek pulang. Bang Erick, yang bertugas jaga, juga lebih tua setahun usianya dari kami mendekatiku. ”Kalau tidak sengaja, tidak apa-apa Nilna,” katanya padaku. Aku mengembangkan senyum. Lalu kuucapkan kembali apa yang dikatakan ibuku tadi kepada teman-teman. Aku jelaskan juga pada mereka, terutama Rani, bahwa aku tidak berbohong. Aku puasa tapi aku lupa kalau sedang berpuasa.
Tiba-tiba Desi, temanku yang lain, nyeletuk, ”Bagus dong, Nil. Bisa lupa kalau sedang puasa. Jadi nggak kerasa kan laparnya? ” katanya tercekat. Dari wajahnya aku tahu perutnya saat itu sedang bertempur melawan nafsu. ”Oya,” katanya seperti teringat sesuatu, ”Tadi kamu kan makan buah seri. Makanya nggak lapar.” Aku diam saja. Masa’ satu biji buah seri bisa menghilangkan lapar? Kenyataannya, saat itu perutku berorkestra ria. Aku lapar sekali.

* Kisah ini sebagai kado untuk hari Ibu. Sebelumnya, tanggal 22 Desember 2007, tepat  pada hari Ibu. Ibuku bertanya padak, “Apa hadiah kamu untuk Ibu hari, Nilna?”. Aku tersenyum saja untuk menjawabnya. Mungkin hingga saat anda membaca ini pun, Ibuku masih belum tahu apa hadiah hari ibu dariku untuknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s