Aku dan Ibu – 2 *

Beranjak hingga kelas satu SD

Ibu telah mewanti-wanti padaku bahwa setiap anak apabila sudah berumur tujuh tahun harus diajarkan sholat. Kalau anak itu tidak mau sholat maka anak itu harus dipukul dengan rotan. Aku tidak mau dipukul dengan rotan. Kelas satu SD (tujuh tahun), aku sudah hapal bacaan dan gerakan sholat. Sedikit banyak aku juga sudah mengenal syarat wajib dan syarat sah sholat.
Waktu itu, aku berada di kampung. Kakekku menjadi imam untuk sholat Isya. Memang, hari itu, rumahku di kampung ramai sekali karena anak-anak kakek dan nenekku (termasuk ibuku) juga cucu-cucunya tengah berkumpul untuk menyambut hari Raya Idul Fitri (tradisi keluarga besar kami untuk berkumpul setiap hari Raya). Aku ikut dalam barisan sholat berjamaah itu. Rakaat pertama, aku ikuti dengan khusyuk meskipun aku hanya bisa menggerak-gerakkan bibir saat Kakek membacakan Surat Pendek, menurutku ayat-ayat Alquran yang dibaca kakek itu bukan Surat pendek tapi Surat Panjang Sekali. Lanjut ke rakaat kedua, aku mulai gelisah. Kurasa wajahku memerah. Gerakan sholatku mulai tak beraturan. Pikiranku tidak lagi pada ayat-ayat yang dibacakan Kakek. Aku sibuk dengan diriku sendiri. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku keluar dari shaf jamaah itu, berlari sambil menangis mencari-cari Ibu

(saat itu Ibu sedang tidak sholat, alasannya sedang memasak tidak bisa ditinggal, Ibu bilang ia sholat sendiri saja. Padahal saat itu, aku melihat Ibu sedang mengobrol seru dengan tante, bukan sedang memasak). Aku mencari Ibu ke dapur dan menghamburkan diri ke pelukannya. Mukena masih kukenakan. ”Kenapa?,” tanya Ibu. Aku membenamkan kepala ke pangkuannya, terisak-isak. ”Nilna nggak bisa sholat,” kataku. ”Kok nggak bisa sholat ? ,” tanya Ibu lagi. Tangisku semakin keras. Aku tak kuasa menjawab.
Ibu membawaku ke ruang tengah. Aku masih mengenakan mukena. Kakek dan jamaahnya telah selesai sholat. Mereka terheran-heran menyadariku ”kabur” dari jamaah. Tangisku mereda. Ibu bertanya lagi, ”Kenapa Nilna nggak jadi sholat? ” Aku malu. Kali ini semua telinga menunggu jawabanku. Lalu dengan pipi yang kurasa memerah, aku mendekatkan mulut ke telinga Ibu. Aku bisikkan pada Ibu, ”Nilna kentut, Bu.” Seketika Ibu tertawa terbahak-bahak. Kali ini semua mata tertuju pada Ibu, memberi isyarat agar Ibu memberi tahu. Lalu dengan suara yang dimirip-miripkan denganku, Ibu mengulang apa yang aku ucapkan tadi. Lebih hebat lagi, kali ini orang-orang seisi rumah tertawa terbahak-bahak. Mereka tertawa keras dan lama sekali, sampai-sampai air matanya keluar. Aku jengkel. Aku menarik-narik baju Ibu menyuruhnya berhenti tertawa. Tapi Ibu tetap tertawa. Aku semakin jengkel. Lalu aku gunakan senjata terampuhku : menangis sejadi-jadinya agar orang-orang tersebut menghentikan tawanya.
Tapi ternyata senjataku tak ampuh, semakin deras aku menangis, semakin kuat tawa yang kudengar. Akhirnya, Ibu menghentikan tawanya yang terkekeh-kekeh. Ia mulai kasihan melihatku merasakan penderitaan sedemikan pahit.
”Sudah… sudah…. Jangan nangis!,” kata Ibu. Huh, harusnya aku yang mengatakan pada Ibu agar jangan tertawa. Ibu mengelap air mataku, ia membukakan mukenaku, dan mengusap-usap kepalaku penuh kasih sayang. ”Tidak apa-apa,” katanya, ”Sekarang Nilna ambil wudhu lagi. Sholat sendiri saja, tidak usah berjamaah. Nilna bisa sholat sendiri kan? .” Aku mengangguk. Aku beranjak menuju kamar mandi. Dari kamar mandi, aku mendengar suara tawa kembali buncah di ruang tengah.

bersambung…

*Kisah ini sebagai kado untuk Hari Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s