Aku dan Ibu – 1 *

Dulu, saat aku berumur empat tahun. Ibu mengatakan padaku bahwa Allah berada di atas langit ketujuh. ”Langit itu berlapis-lapis. Ada tujuh lapis. Allah berada di atas lapisan ketujuh. Kita berada di bawah langit. Dan semua makhluk yang ada di bawah langit harus patuh dan tunduk pada Allah,” cerita Ibu. Beliau pun melanjutkan, ”Allah selalu memonitor kita dari atas. Ia tidak mau manusia berbuat jahat karena Allah menyayangi kita. Allah menyayangi dan mencintai seluruh makhluknya.”

Aku manggut-manggut. Mataku mengantuk. Sebelum tidur, Ibu selalu mendongengkan cerita untukku, ceritanya macam-macam, ada cerita si Kancil, si Komo, Malin Kundang, dan paling sering Ibu menceritakan kisah nabi.
Pernah suatu kali, aku tidak mau lagi mendengar cerita Ibu. Saat itu Ibu menceritakan kisah nabi Yusuf yang diceburkan ke sumur oleh saudara-saudaranya. Cerita Ibu, ”saudara-saudara Nabi Yusuf iri melihat nabi Yusuf selalu disayang oleh ayahnya, yaitu Nabi Yaqub. Kemudian, saudara-saudaranya itu merencanakan untuk membunuh nabi Yusuf. Nabi Yusuf dilucuti bajunya dan dia diceburkan ke sumur yang dalam, yang jarang didatangi oleh orang-orang, karena sumur itu angker. Setelah nabi Yusuf diceburkan oleh saudara-saudaranya, baju Nabi dilumuri sama darah rusa. Sampai di rumah, saudara-saudara nabi Yusuf menangis meraung-raung, mereka melaporkan pada ayahnya bahwa nabi Yusuf telah dimakan serigala saat mereka tengah bermain-main di hutan.”
Aku bergidik mendengar cerita Ibu. Bulu kudukku merinding. Apalagi Ibu

menceritakannya di malam hari. Aku semakin takut. Tiba-tiba, aku menangis di pangkuan Ibu. Aku menangis sejadi-jadinya sambil menutup telinga. ”Sudah…, sudah…, aku tidak mau dengar lagi,” tangisku mengerang. Ibu heran. ”Ceritanya belum habis, Nak,” ucap Ibu. ”Tidak…. Aku tidak mau dengar lagi! Aku tidak mau dengar cerita lagi! .” Tangisku semakin menjadi-jadi. Ibu berusaha menenangkanku. Aku berontak. Aku beringsut menjauh dari Ibu lalu menangis meraung-raung di bantal. Malam itu aku tertidur dengan bantal yang bersimbah air mata.
Tak cukup seminggu bagi Ibu untuk merayuku kembali mendengar cerita-ceritanya. Minggu-minggu berikutnya aku luluh dan penasaran juga mendengar cerita-cerita yang lain. Dengan perjanjian, Ibu tak akan bercerita tentang pembunuhan lagi. Cerita Nabi Yusuf menggantung begitu saja dan baru dapat aku dengar kelanjutannya setelah duduk di kelas satu SD.
Mengenai cerita Ibu tentang lapis-lapis langit dan bahwa semua yang ada di bawah langit harus patuh pada Allah, aku jadi berpikir dan mengkhayal sendiri. Besoknya, pagi-pagi sekali aku keluar rumah melihat langit. Berpikir-pikir bahwa di atas langit itu ada langit, lalu diatasnya ada langit lagi, kemudian di atasnya kembali ada langit, demikian seterusnya hingga langit ketujuh. Kemudian aku menunduk ke bawah, ke tanah. Di tanah itu, aku melihat semut-semut berjalan ke dalamnya hingga tak tampak oleh mata. Semut-semut itu pergi ke balik bumi, begitu pikirku. Kemudian aku memikirkan langit-nya semut. Apakah berarti tanah yang aku pijak ini adalah langitnya semut? Aku berpikir keras. Semakin lama aku berjongkok memperhatikan, semakin banyak semut yang berjalan ke balik bumi. Dan entah karena apa (atau karena kebodohanku) aku menarik kesimpulan bahwa tanah yang aku pijak ini adalah langitnya para semut. Dan akulah Tuhan semut. Kemudian, dengan sangat berwibawa, aku mengusap-ngusap tanah tempat semut menghilang tadi, sembari mengatakan, ”Semut, kamu baik-baik di bawah sana ya! Aku sayang sama kamu. Aku tidak mau kamu berbuat jahat. Hati-hati ya, semut. Jangan nakal!,” ucapku seakan-akan semut-semut tersebut mendengarkan pituahku, pituah tuhan mereka. Ah, jika aku mengingat-ingat cerita ini, aku jadi malu. Malu sekali. Jelas sekali, kalau sejak kecil, aku ini suka sok tahu.

Bersambung…

*Kisah ini sebagai kado untuk hari Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s