Wawancara dengan Bu Elyanis, M.Kom

 Belajar Kimia Dengan Metode Sederhana

Dua minggu lalu sosok Bu Elyanis, Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Padang muncul di koran lokal dan nasional. Beliau tampil sebagai bintang iklan Indosat. Sebentuk apresiasi atas kiprah Ibu Elyanis di bidang  pendidikan. Nilna Rahmi Isna, alumni SMAN 2 yang juga reporter P’ Mails, mewawancarai beliau mengenai hal itu. Berikut petikannya.
Bagaimana perasaan Ibu terpilih sebagai bintang iklan Indosat?
(tertawa) biasa aja.
Dengar-dengar Ibu terpilih karena menerapkan program kimia unggulan di sekolah?
Begini, setahun lalu Ibu mengikuti workshop laboratorium guru-guru IPA se-Sumatera Barat di Pangeran Beach Hotel tahun 2006. Workshop tersebut didukung Indosat. Bekerja sama dengan UNP, Universitas Andalas dan Universitas Bung Hatta. Workshop laboratorium untuk guru IPA ini merupakan yang pertama di Indonesia. Sumatera Barat terpilih sebagai daerah penyelenggaraan. Pada workshop tersebut, guru-guru IPA Sumatera Barat dilatih menerapkan program pengajaran ilmiah sederhana. Instruktur pelatihan adalah dosen-dosen dari tiga universitas tadi.


Saat itu, instruktur yang melatih guru-guru kimia seperti Ibu adalah Prof. Dr. Hamzar Suryani, dosen kimia Universitas Andalas. Beliau memperkenalkan cara baru belajar kimia di laboratorium.
Wah, kedengarannya menarik tuh, Bu. Seperti apa sih metodenya?
Metode belajarnya sebenarnya sama saja dengan yang biasa. Yang berbeda adalah peralatan eksperimen kimia yang digunakan. Selama ini, sekolah terkendala melakukan praktek laboratorium. Kendala itu berupa tidak tersedia atau tidak lengkapnya peralatan percobaan di laboratorium. Sebab, alat-alat percobaan itu berharga mahal. Satu tabung reaksi saja bisa berharga puluhan hingga ratusan ribu. Sedangkan siswa yang hendak praktek mencapai puluhan. Hal itu mungkin bisa diatasi sekolah kaya, tapi tidak bagi sekolah yang kekurangan dana.
Apa contoh peralatan kimia yang berubah itu, Bu?
Contohnya tabung reaksi diganti plastik. Pipet tetes diganti  pipet yang biasa dijual di pasar. Pengaduk diganti dengan tusuk gigi. Elektroda untuk menghantarkan listrik cukup menggunakan pensil yang diruncingkan kedua ujungnya, dan alat-alat sederhana lainnya.
Menggunakan alat kimia seperti tabung reaksi, biuret, atau pipet tetes sesungguhnya tidak efektif. Harganya mahal,  jumlahnya pun terbatas. Akibatnya praktikum jalan tapi tidak mencapai tujuan, karena tidak semua siswa dapat mempraktekkannya.
Seperti yang pernah dipraktekkan siswa-siswi Ibu. Untuk mengetahui apakah suatu reaksi dapat menghantarkan energi listrik atau tidak, siswa cukup menyiapkan dua buah pensil 2B yang diruncing kedua ujungnya. Salah satu ujung dari dua pensil tersebut diikat dengan kawat. Kemudian disambungkan ke kabel yang telah terhubung ke  bola lampu. Ujung pensil yang lain dimasukkan ke zat yang telah direaksikan. Dari praktikum itu bisa diketahui, apakah zat yang telah direaksikan tersebut dapat menghantarkan listrik, atau tidak.
Peralatannya memang sederhana, namun ampuh. Siswa jadi cepat mengerti. Dan yang penting, tujuan tercapai. Metode tetap yang lama, peralatannya yang baru.

Trus, apa tanggapan siswa Ibu?
Mereka sangat senang. Bisa melakukan praktek sendiri-sendiri. Jadi lebih cepat paham pelajaran.
Di SMAN 2, Bu Elyanis dikenal disiplin mendidik siswa-siswanya.  Istri dari Bapak Indra Gusmansyah, SH  ini dikenal tegas. Banyak murid yang segan terhadap beliau. Sebagai guru yang juga menjabat  Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Bu Elyanis sering menegur siswa yang terlihat melanggar peraturan. Ada juga beberapa siswa yang mendongkol setelah ditegur. Namun Ibu yang berwibawa ini tidak terlalu mempersoalkan hal itu. “Hal itu tidak menjadi problem,” katanya. Bagi beliau tidak apa-apa jika ada siswa yang kesal kepadanya, yang penting tidak menjadi dendam.

Ngomong-ngomong, sudah berapa tahun sih Ibu mengajar di SMAN 2 ini?
Sudah 26 tahun.

Ibu dikenal sangat tegas menerapkan peraturan. Bahkan tidak segan memarahi siswa yang melanggar kedisiplinan. Ada nggak yang kesal sama Ibu gara-gara itu?
(Tersenyum) Biasanya Ibu suka telepon mantan murid Ibu dulu. Tanya, apa mereka masih kesal, karena pernah dimarahi. Rata-rata jawaban mereka sama. Nggak kesal, nggak marah, bahkan ada juga yang nggak ingat pernah Ibu marahi (tertawa kecil).
Bahkan banyak alumni yang datang hanya untuk menyampaikan rasa terima kasih karena dulu pernah dimarahi. Ada yang bilang ‘coba kalau dulu Ibu tidak memarahi saya, mungkin saya tidak menjadi orang (sukses) sekarang.’
Sebenarnya, Ibu senang melihat anak mengerti dengan pelajaran. Makanya Ibu selalu memastikan setiap anak mengerti. Ibu terapkan disiplin dalam kelas. Ibu akan melihat wajah-wajah setiap murid apakah mengerti atau tidak. Dari wajah murid kan bisa diketahui apakah ia mengerti dengan pelajaran atau tidak.

Ibu guru kelahiran Lintau, 6 September 1953 ini, telah menjadi guru sejak umur 23 tahun. Ia pertama kali mengajar di SPMA. Lalu tahun 1977, SK beliau keluar untuk mengajar di SMA Batusangkar hingga pertengahan tahun 1979. Tahun 1979 sampai 1981, beliau pindah ke SMA Lintau. Dari tahun 1981 hingga sekarang beliau mengajar di SMAN 2 Padang.

Selama puluhan tahun menjadi guru, apa sih dukanya, Bu?

(Terdiam, berpikir agak lama) apa, ya? rasanya tidak ada duka menjadi guru. Yang ada hanya suka. Sekarang siswa siswi Ibu sudah banyak yang sukses. Bagi Ibu, kalau murid Ibu sudah berhasil, ada rasa bangga di hati bahwa Ibu sudah berhasil. Walaupun murid itu nggak menyapa Ibu, nggak apa-apa. Di hati Ibu sudah puas.(Nilna Rahmi Isna)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s