Malas Bangun Pagi

oleh : Nilna Rahmi Isna

Setiap aktivitas manusia pasti diawali dengan bangun pagi. Kita semua menyadari itu. Tapi faktanya, banyak manusia yang dengan sengaja kembali merebahkan diri saat seharusnya ia bangun pagi. Kenapa? Apakah karena segan pada ayam yang lebih dulu bangun atau ingin menghindar dari segala aktivitas yang siap menghadang?
Jawabannya simpel saja, manusia banyak yang malas. Kemalasan inilah yang menyebabkan manusia, khususnya yang berada di negara Indonesia, bergerak lamban dengan tingkat kemajuan teramat rendah.
Padahal, bangun di pagi hari merupakan aktivitas penting yang berpengaruh besar terhadap kesehatan jasmani dan rohani seorang manusia. Bangun pagi yang dianjurkan adalah bangun pada pukul 5 pagi. Pada jam tersebut, aktivitas sholat shubuh (bagi yang beragama islam) dapat ditunaikan di awal waktu sebagaimana yang disunnahkan. Pukul lima pagi atau shubuh adalah waktu ketika Allah membuka pintu rahmat-Nya.


Selain itu, pukul 5 pagi adalah waktu yang cukup tenang dan aman bagi seseorang memulai fungsinya sebagai manusia di muka bumi, yaitu bernafas. Berdasarkan penelitian ilmiah, menghirup oksigen di pagi hari dalam rentang waktu 03.00 hingga 06.00 dapat meregangkan otot-otot serta melancarkan peredaran darah sehingga tubuh yang tadinya lelah terasa lebih segar. Udara segar pada waktu shubuh ini akan hilang selepas matahari terbit dan hanya akan muncul pada keesokan hari di jam yang sama.
Bagi seorang pelajar, bangun di pagi hari membuka ruang waktu bagi mereka untuk kembali mengulang pelajaran dan mempersiapkan diri untuk tugas-tugas sekolah selanjutnya. Shubuh adalah waktu yang tepat untuk melatih pikiran dan hati agar bisa berkonsentrasi. Itu sebabnya, orang yang terbiasa bangun pagi mampu berpikir lebih jernih dan cenderung memiliki kesehatan yang prima.
Jadi, alangkah meruginya manusia yang kembali merebahkan kepala setelah terbangun, yang sengaja menutup mata ketika melihat masih ada waktu untuk memejamkannya, yang sengaja melalaikan waktu bangun tidurnya. Orang-orang yang terbiasa bangun setelah matahari terbit tidak akan dapat merasakan kenikmatan-kenikmatan shubuh yang menakjubkan. Mereka seperti kehilangan sembako berupa energi yang diangkut oleh truk bernama pukul 5 pagi.

diterbitkan pada tabloid Pmails edisi 114, 02-08 Desember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s