Selamat Pagi, Nayella !

oleh : Nilna R. Isna

Pagi ini, mentari bersinar seperti biasanya begitupun angin, daun, langit, dan hidupku. Aku terlahir sebagai anak kaku, pendiam, dan serba teratur. Bagiku, kalimat orangtua adalah cambuk kehidupanku. Sekali saja aku tidak mengikuti perintah mereka, berkali-kali aku menerima pesakitannya. Terkadang aku muak dengan diriku sendiri. Aku bosan dengan diriku yang terlahir sedemikian rapi. Sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; begitu seterusnya.

Aku membolak balik Harian pagi ini. Ini penting bagi aku sebelum aku benar-benar ketinggalan. Aku rasa kehidupanku telah memenjarakanku. Sampai saat ini pun aku hanya bisa makan, tidur, dan makan. Aku tidak kenal dengan apa yang disebut teman. Aku terkurung dalam rumah. Rumah besar yang aku diami bertahun-tahun. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi di luar. Harianlah yang menjadi harapan bagiku untuk mengenal dunia di luar sana. Aku ingin menjalani kehidupan seperti orang-orang yang bebas seperti mereka. Bukannya menjadi gelandangan di rumah besar ini.

“Mbak, waktunya sarapan.” Aku membaca kertas berbentuk notepad yang disuguhkan salah satu pekerja di rumahku. Aku mengedipkan mata. Ia mengerti dan berbalik ke dalam. Aku beringsut ke meja makan. Kedua orangtuaku telah duduk di meja makan. Sementara sebelas pekerja duduk di meja yang lainnya. Keluargaku cukup baik untuk mengajak mereka makan dalam waktu yang sama meskipun pada tempat yang berbeda. Dengan ini, kehormatan orangtuaku tetap terjaga.

”Nayella Istana, silahkan duduk dan makan.” Kalimat yang setiap hari aku lihat. ”Andrita Millia, silahkan duduk dan makan.” Begitu juga dengan kata-kata ini. Setelah aku, ayahku, dan ibuku duduk di meja makan, sebelas pekerja ikut duduk di meja yang lain. Sarapan pagi kami adalah sarapan tanpa denting. Tidak boleh sedikitpun terdengar suara. ”Nayella, mama dan papa pergi dulu. Kamu hati-hati di rumah.” Aku mengedipkan mata pelan. Dia ibuku, Andrita Millia, ia selalu menyapaku setiap pagi lewat secarik kertas bergambar hati. Hanya setiap pagi aku bisa melihat senyumnya. Dan ayahku, aku selalu lupa namanya, sedetikpun tak menolehkan pandangannya padaku. Sarapan pagi adalah pertanda waktu bagiku untuk menunggu siang hingga pekerja di rumahku menyerahkan secarik kertas. ”Mbak, waktunya tidur siang.” Dan aku akan beranjak dari tempatku duduk menuju kamar yang telah dirancang khusus untukku.

Aku Nayella Istana. Lahir dari keluarga terhormat tanpa cela. Ayahku dan ibuku mengizinkan aku hidup. Aku beruntung bisa hidup. Pada kenyataannya, aku anak kelima dari lima bersaudara. Tapi, keempat saudaraku lebih memilih untuk berhenti hidup. Akulah yang bertahan hidup. Akulah yang berhasil hadir menemani keluarga terhormat ini. Tapi, aku tak pernah berpikir dan tidak mau sadar bahwa aku anak seorang keluarga tanpa cela. Karena akulah cela itu.

Entah dosa apa yang aku lakukan. Aku terlahir tuna rungu. Aku lemah, lumpuh, dan tidak berguna. Semua yang aku lakukan digerakkan oleh alat. Hidupku hanya di dalam rumah. Aku dijaga oleh belasan pekerja ayahku. Orangtuaku tidak mau menjagaku. Mereka lebih suka menjaga kehormatannya daripada menjaga diriku. Karena itulah, aku tidak pernah tahu keadaan selain di dalam rumahku. Aku tidak sekolah, aku pun tak punya teman, dan aku tidak mengenal Tuhan.

Aku tahu sekolah, teman, dan Tuhan dari Harian. Tiga kata itu aku temukan dimana-mana. Tiga kata itu selalu ada di sudut-sudut yang menyenangkan. Aku juga ingin belajar, pergi ke sekolah, dan bertemu teman-teman. Kurasa tak ada yang lebih baik dari sekolah dan tak ada yang sebaik teman. Tuhan? Oh, seperti apa dia? Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya. Sepertinya Tuhan begitu dicintai oleh semua penduduk bumi. Tapi aku tidak mengenal Tuhan. Siapa dia?

Sh” Aku menyentuh salah satu pekerja di rumahku. Dia menoleh padaku, sedikit terkejut. Kurasa dia mengucapkan kata ’ya’. Dia berjongkok sehingga kepalanya sejajar dengan kepalaku. Segera ia menggerakkan tangannya dengan cepat, ”ada apa mbak?”. Dia satu-satunya pekerja yang mengerti bahasa komunikasiku selain lewat secarik kertas. Dia yang mengajarkannya padaku, bukan ayah atau ibuku. ”Bisakah kau tunjukkan padaku dimana Tuhan? Jelaskan padaku tentang sekolah?Dan beri tahu aku apa yang disebut dengan teman?.” Dia tersenyum. Entah apa maksud senyum itu. Ia menarik napas sejenak lalu mulai menggerakkan tangannya. Kali ini lebih lambat agar aku mengerti. Aku meneliti tiap gerak tangan dan jemarinya yang terlihat lebih tua dari umurnya. ”Tuhan adalah Dia yang memberimu hidup, Dia yang mengatur seluruh alam semesta, dan Dia yang kamu sembah, kepadaNya kamu meminta pertolongan.” Dia mengehela napas lalu melanjutkan, ”Sekolah adalah tempat dimana seluruh ilmu diajarkan dalam garis besa. Di sekolah, kamu akan menemukan teman. Teman adalah dia yang duduk-duduk di beranda bersamamu tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu kau meninggalkannya seakan-akan telah bercakap-cakap lama denganya. Kau mengerti?” Aku diam agak lama. Pikiranku menerawang jauh, mencerna kembali gerak-gerak tangan tadi. Aku memandangnya kemudian mengedipkan mata. Dia tersenyum. Senyum itu membuatnya tampak lebih muda daripada tadi aku menyentuhnya.

Aku meninggalkannya dengan tergesa-gesa. ’Aku akan mencari Tuhan, sekolah, dan teman,’ itu pikirku. Dengan kursi roda, aku berputar-putar di dalam rumah. Banyak pekerja yang terheran-heran denganku. Tidak biasanya aku berada selain di dalam kamar, kecuali jika sarapan dan makan malam.

Aku menemukan sesuatu, seorang bocah berbaju putih dan memakai rok berwarna merah hati. Ada bando merah-putih di kepalanya dan tas besar di punggungnya. Ia sedang asyik bercengkrama dengan seorang lagi, anak laki-laki berbaju putih lengan panjang yang memakai sarung dan sesuatu berwarna putih menutupi kepalanya. Bocah berbando itu tertawa terpingkal-pingkal sedangkan anak laki-laki di sebelahnya diam seribu bahasa namun masih tergurat senyum di bibirnya. Anak laki-laki itu kemudian menggerakkan kedua tangannya ke atas dengan telapak menghadap ke depan, kemudian ia menunjuk pada jam, lalu menyerahkan dua helai kain putih pada bocah berbando. Bocah yang memakai bando itu terlihat mengerti. Ia meletakkan tasnya, membuka sepatunya, dan beranjak ke kamar mandi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan. Bocah berbando itu keluar dengan wajah, tangan, dan kaki yang terlihat basah. Telinga dan rambutnya juga tampak basah. Ia mengenakan dua kain putih tadi. Aku melihat sesuatu yang berbeda darinya, wajahnya tampak lebih cerah daripada yang kulihat pertama kali tadi. Sekilas, aku melihat semburat cahaya yang menaungi mereka. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya. Anak laki-laki tadi kembali mengangkat tangannya, tapi sambil menggumamkan sesuatu. Pemandangan ini sangat aneh bagiku. Apa yang dilakukan anak laki-laki itu? Dan kenapa bocah berbando tadi memakai kain yang menutupi seluruh tubuhnya? Aku hanya bisa melihat wajah cerah si bocah berbando tadi. Bocah yang kini telah berganti pakaian itu mengikuti setiap gerak yang dilakukan anak laki-laki di depannya. Aneh sekali, mereka tidak berhadap-hadapan, mereka tidak saling melihat, tapi mereka bergerak teratur. Lebih teratur dari sarapan pagi yang biasa aku lakukan. Aku bergegas pergi dari tempat itu. Itukah yang dimaksud dengan teman? Itukah yang mereka lakukan untuk Tuhan?

Malam kali ini datang lebih cepat dari yang kemarin. Aku terengah-engah ketika seorang pekerja menyerahkan secarik kertas padaku, ”Mbak, waktunya makan malam.” Aku tidak berkedip. Aku tetap pada tempat dimana aku berada sekarang. Dia, pekerja itu, berlalu meninggalkanku. Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Aku mengerti sekarang, tak ada satu orang pun yang benar-benar memperhatikan aku. Dia pasti mengira aku akan mengedipkan mata, memutar kursi roda, dan beranjak dari tempat aku berada. Dia tidak melihat aku tidak mengedipkan mata kali ini. Dia pergi sebagaimana aku yang juga bisa pergi.

***

Aku membuka mata. ”Selamat pagi dunia! Mentari bersinar seperti biasanya begitu pun angin, daun, langit, dan hidupku. Hidupku?.” Ah, apa yang baru saja aku lakukan?

”Selamat pagi dunia!”

Tidak, hidupku tidak seperti biasanya. Aku mengucapkan kalimat pertama. Kalimat pertama yang terdengar dari mulutku sendiri. Aku tidak seperti biasanya. Aku berbicara. Aku mengeluarkan suara. ”Selamat pagi dunia,” teriakku keras. Aku mendengar gaung suaraku. Oh, apakah aku benar-benar berubah sekarang? Apakah aku benar-benar bisa berbicara dan mendengar? Bermimpikah aku?

”Selamat pagi, Neng.” Aku melihat bapak tua yang sepertinya berbicara denganku. ”Mau ke sekolah ya, Neng?,” tanya Pak tua itu. Aku mengerinyit dan melihat tubuhku sendiri. Astaga, aku benar-benar tidak seperti biasanya. Aku berdiri. Aku memakai baju yang sama dengan orang-orang yang lalu lalang di sekitarku. Dan apa yang diucapkan Bapak tua tadi? Kalau tidak salah dengar, dia mengucapkan kata ’sekolah’. ”Oh, Bapak tau. Neng, pasti yang baru pindah kemarin kan? Rumah Bapak di sebelah rumah Neng. Kita bertetanggaan, Neng.” Bak terkena mantra, aku mengangguk. Bapak tua itu bercakap banyak denganku menjelang sampai ke sekolah. Aku hanya mengangguk, sekali-kali tersenyum. Bapak tua itu dengan baik mengantarkanku ke sekolah, ke tempat yang aku rindukan selama ini.

”Hai, namaku Nayella Istana. Kalian bisa memanggilku Nay. Aku tinggal di dekat sini. Di belakang sekolah, gubuk nomor dua dari kiri, tepat di depan mushalla.” Kalimat kedua yang aku ucapkan dengan lancar, tanpa beban, dan sesungging senyuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s