Bang On, Habis-habisan dan Terus-terusan

Siang ini menjadi siang penuh umpatan bagiku. Habis-habisan dan terus-terusan Bang On memprotes apa yang aku tulis.

Aku menulis judul ‘Om KW Orangtua Kita’ pada  pesan kesan berbentuk tulisan yang akan dihadiahkan untuk ulang tahun Om KW nanti. Bang On tidak henti-hentinya menertawakan judul yang aku pilih itu. Aku bertanya, “kenapa tertawa?.” Tapi Bang On terus tertawa tanpa mengindahkan pertanyaanku. Kemudian aku mengganti pertanyaan, “Nggak bagus ya, Bang? Jadi gimana? Diganti judulnya?” Bang On malah tertawa lebih keras. Saya kesal. Bingung. Bang On terus-terusan mengucapkan kalimat ‘Om KW Orangtua Kita’ di sela-sela pekerjaanya. Aku jadi serba salah. Aku tidak tahu apa maksud tertawaan itu. Apakah tidak pantas atau terlalu indah? Sampai-sampai Bang On menyampaikan pujiannya dengan tertawa. Tapi menurutku tertawaan itu lebih terdengar seperti mengejek. Bang On malah mengucapkan empat kata itu dengan nada dan mimic puisi. “Itu bukan puisi, Bang,” kesalku. “Saya tidak bilang itu puisi,” balas Bang On. Huh, susah kalau sudah dihabisi oleh Bang On. Dia protes terhadap apa yang aku tulis tapi tidak memberikan solusi. Hanya menertawakan. Dia juga tidak menjawab kebingunganku. Apakah judul itu pantas atau tidak. Dirubah atau tidak. Bang On menggantungnya. Membuatku berpikir keras. Kalau perlu aku sholat istikharah. Aku berusaha menukar kalimat itu dengan yang lebih baik. Kupaksakan. Tidak bisa.

Kata Danil, “Jangan dipaksakan. Biar dia mengalir begitu saja.” Lima menit kemudian aku menyerah. Memang tak bisa dipaksakan.

Saat membuka blog, Bang On melirik komputerku. Ia memandangku miring. “Kata Tanpa Jeda,” katanya. Ia melanjutkan, “Itu kan meniru.” Aku mengerinyitkan dahi. “Aku tidak meniru. Aku yang menemukan kata itu,” bantahku. “Ah, mengaku saja. Kata tanpa jeda itu baris dari puisi yang judulnya Spasi” ujarnya. Bang On kemudian menyebutkan nama salah satu siswi SMK Pariaman sebagai pemilik dari puisi berjudul spasi itu. Emosiku naik, “Bang On, kata tanpa jeda itu terpikir begitu saja. Memangnya kapan puisi itu terbit. Sebelum bengkel sastra kayutanam atau setelahnya?.” “Sebelum kayutanam,” Bang On menjawab singkat. “Lho? Tapi kata tanpa jeda itu Nilna dapatkan waktu mengobrol dengan Bang Esha di kayutanam. Bang Esha bilang puisi itu tidak berkesudahan, tanpa jeda. Aku menyambung pernyataan Bang Esha, ‘kata tanpa jeda, bang’. ‘Iya,’ jawab Bang Esha.” Aku menceritakan kronologis ditemukannya tiga kata itu. Bang On malah bilang begini, “Mungkin karena Esha itu pernah membaca puisi di Pmails. Makanya dia bilang ‘iya’.” Bang On menjawab santai sambil terus melakukan pekerjaannya. Grrh,, aku kesal. Aku menekankan paa Bang On bahwa kalimat itu aku temukan sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan puisi berjudul ‘Spasi’ itu. Lagipula, sebelum ke kayutanam aku tidak terlalu tertarik dengan puisi. Tapi, Bang On tetap tidak setuju dengan kalimat itu. Ia menyuruhku menggantinya. Aku tidak setuju. Rasanya ‘kata tanpa jeda’ telah mendarah daging dalam diriku. Lalu Bang On mengatakan bahwa reporter Pmails harus kreatif bukan mencontek orang lain. Aku berusaha keras mengatakan bahwa aku tidak mencontek. Bang On mengabaikan perkataanku. “Dia lebih dahulu menulis ‘kata tanpa jeda’ itu dibanding kamu. Jadi kamu yang harus menggantinya dengan kalimat lain,” tegas Bang On. Aku diam. Mengalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s