Ibuku Sakit

Ibu sakit. Aku tidak tahu sakit apa yang diderita beliau. Ibu merasakan sakit yang berdenyut-denyut di pangkal lengan kanannya. Aku diminta Ibu untuk memijat bagian yang sakit itu hingga ke ujung jari-jari. Aku memijat perlahan-lahan. Sebenarnya aku takut memijat, takut salah pijat, takut kalau pijatanku malah membuatnya menjadi tambah sakit. Ibu terus meringis kesakitan. Aku katakan pada Ibu, “Bu, kita panggil tukang urut saja ya?” Ibu menggeleng, matanya berkaca menahan sakit. Aku berkata lagi, “Atau kita ke dokter malam ini?” Ibu kembali menggeleng. Air matanya jatuh. Aku terus memijat-mijat beliau. “Sakit nak…, sakit nak….” Aku tak kuasa menahan pilu. Air mataku ikut menetes. Aku tidak sanggup melihat Ibu menangis. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku bukan dokter. Aku tidak tahu jenis penyakit apa yang mendera ibuku. Pengetahuanku masih dangkal. Aku katakan saja pada Ibu, “Ibu demam karena sakit ini. Mungkin tulang Ibu ada yang bergeser. Kita ke dokter ya, Bu?” Ibu tetap menggeleng. “Mau cari dokter kemana? Jauh nak,” kata Ibu. “Kalau begitu panggil tukang urut.” Aku berkata tegas. “Siapa yang mau memanggil tukang urut?,” Ibu balik bertanya. “Aku saja.” Aku bergerak hendak berdiri. Tapi Ibu menahanku. Aku masih menangis. Ibu tentu tidak ingin aku pergi dan meninggalkannya. Selain itu, tukang urut di dekat rumahku tidak sesuai dengan paham ibuku. Tukang urut yang paling dekat, Nenek Dini, mengurut orang dengan mengeluarkan sendawa. Ibu agak jijik. Sedangkan tukang urut yang satu lagi, Mak Bainar, mengurut orang dengan menekankan kuku-kukunya yang tajam. Terlalu sakit untuk dihujamkan ke tubuh Ibu.

“Ayah mana, Bu?,” aku tanya ke Ibu. “Ayah ke lapau,” Ibu menjawab singkat. “Aku panggil ayah?,” kali ini aku tidak dapat mentoleransi ayah yang hobi mengobrol di lapau. “Jangan,” rintih Ibu. “Kalau ayah melihat Ibu begini, nanti Ibu yang dimarahinya.” Aku diam mendengar alasan Ibu. Ayah memang mengajarkan kita untuk tidak memanjakan sakit. Tapi sakit Ibu kali ini bukan karena dimanjakan tapi benar-benar sakit.

Ibu lalu memintaku memasangkan kelambu untuk tempat tidur Ibu. Sebelumnya aku mengambilkan nasi untuk makan malam Ibu. Aku ingin menyuapi Ibu. Tapi Ibu melarangku. Katanya, tangan kirinya masih bisa menyuap nasi. Aku ke kamar Ibu untuk memasangkan kelambu.

Ibu telah pindah ke kamar. Ibu masih merintih kesakitan. Ia mengaduh. Ibu bertanya padaku dimana aku tidur malam ini. Aku jawab di kamarku. Ibu bertanya lagi yang lebih terdegar seperti permintaan, “Tidak tidur di dekat Ibu?” Aku menjawab tidak dan memberi alasan takut mengganggu tidur Ibu karena tidurku lasak.

Aku sebenarnya mengantuk. Sangat mengantuk. Aku memijat-mijat Ibu sambil merebahkan kepala ke lutut dan memejamkan mata. Ibu melihat kelelahanku. “Sudah Na. Nanti kamu capek. Kamu tidur saja.” Aku bergegas ke luar kamar Ibu. Tapi aku tidak langsung menuju kamarku. Aku memutuskan untuk tidur di ruang tamu saja sampai ayah pulang. “Dengar-dengarkan Ibu ya, Nak,” pinta Ibu sebelum aku keluar kamar.

Aku merebahkan kepala ke kursi tamu. Namun, saat mataku hampir terkatup, Ibu merintih lagi. Ia memanggil-manggil namaku. “Nilna…, tolong Ibu Na.” Sungguh, aku letih sekali. Aku hampir saja tertidur. Tapi Ibu memanggilku. Aku tidak jadi tidur. Aku tidak dapat kesempatan untuk istirahat sejenak saja. Aku kembali memijat-mijat pangkal lengan kanan Ibu hingga ke ujung-ujung jarinya. Sesekali aku menguap. “Nilna, sakit Nil. Sakit sekali. Sakit.” Ibu terus mengucapkan kata ‘sakit’. Aku kasihan tapi aku juga kesal. Tadi aku meminta Ibu pergi ke dokter, Ibu menolak. Aku ingin panggilkan tukang urut, Ibu juga menolak. Ibu bilang besok saja. Dan menjelang ‘besok’ itu, Ibu merintih kesakitan. Siapa yang tahan Ibunya menderita kesakitan seperti itu? Akhirnya aku membentak Ibu. Sungguh, aku tak berniat membentak Ibu. Tapi setan-setan sepertinya merasuki tubuhku. “Lalu Ibu mau apa? Aku tidak tahu sakit Ibu apa? Aku bukan dokter. Tadi aku meminta Ibu dan aku pergi ke dokter, Ibu tidak mau. Aku panggilkan tukang urut, Ibu menolak. Lalu Ibu mau apa? Aku tidak bisa membantu Ibu karena aku tidak tahu. Terus Ibu menderita kesakitan seperti ini sambil menunggu besok. Iya? Nilna capek, Bu.” Kata-kata itu meluncur deras menghujam sanubari Ibu. Aku menangis. “Kenapa kamu malah memarahi Ibu, Nak?” Ibu menangis. Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Ibu jangan menangis,”pintaku.

Kemudian aku keluar kamar. Berkali-kali Ibu membuatku mondar-mandir ruang tamu-kamar. Hingga ayah pulang. Ibu sudah tertidur. Ia tampak lebih tenang.

Malam itu aku sholat Isya. Sudah tengah malam. Aku terlambat sholat Isya karena tadi menemani Ibu. Setelah berwudhu, aku merasakan kehadiran Putra di dapur. Aku melengos dari pikiran negatif dan menggantinya menjadi lebih positif. Dalam sholat aku tak tahan untuk tidak menangis. Ketika berdoa, aku meminta ampun, memohon kesembuhan Ibu, dan mengutarakan penyesalan karena sempat kesal pada Ibu.

Sebelum tidur aku membaca surat Kursi dan tiga surat penutup Al-Quran. Surat kursi aku baca berkali-kali hingga pikiranku tenang dan benar-benar terlelap. Dalam usahaku untuk tidur, antara mimpi dan nyata, bayangan wajah kakekku berkelebat di hadapanku. Kakekku telah lama meninggal. Ia sering menjengukku sejak kepergiannya lewat mimpi. Kadang ia memberikan nasehat, kadang ia hanya menampakkan wajah. Aku tahu kakekku orang yang sholeh. Malam itu, aku tahu masih berada di kamar dalam usaha untuk tidur, tapi aku juga merasakan bahwa aku sedang berada dalam dunia mimpi. Ayat kursi masih kulafazkan.Aku berusaha berkomunikasi dengan kakek. “Ungku mau bilang apa?” Pertanyaan itu berbarengan dengan ayat kursi yang masih kulafazkan. Tapi kakekku itu cuma diam. Dia hanya menampakkan wajah. Wajah itu sukar aku lukiskan apa maknanya. Hingga aku benar-benar tertidur, meski tidak nyaman.   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s