Aku dan Om KW – 2, habis *

Ke Kayutanam

Siang itu Nilna ke Padek. Langsung ketemu sama Bang On dan Om KW. Kata Bang On, Nilna dan Danil jadi utusan Pmails sebagai peserta Bengkel Sastra DKSB di Kayutanam. Sontak, Nilna jingkrak-jingkrak. Tidak menyangka dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya dapat kesempatan seperti itu. Pertanyaannya adalah kenapa Nilna yang dipilih? Rasa-rasanya Nilna tak berbakat sastra. Menulis puisi aja satu kali setahun. Apalagi cerpen yang tidak pernah sama sekali.
Tapi syukurlah, sepertinya Om KW lebih pintar mengukur kemampuan Nilna daripada Nilna sendiri. Entah kenapa, entah dapat mukjizat darimana, tiba-tiba atmosfir sastra itu muncul. Mengalir begitu saja.
Nilna memuji Om KW karena Om KW yang telah membukakan jalan itu untuk Nilna dan bahkan membukakan mata Nilna terhadap dunia sastra yang selama ini benar-benar buta.
Terima kasih, Om.

Sekembali dari Kayutanam, Nilna yang selama ini takut sama Om KW, (buat nyapa aja takut, gimana becanda), jadi lebih nyantai. Ternyata Om KW itu tidak menakutkan, menyenangkan malah. Nilna sering terlibat diskusi atau sekedar mengobrol dengan Om KW, kadang bercanda atau dibecandain. Ternyata Om KW itu humoris, kreatif, inovatif, intelek, multitalent. Om KW bisa apa aja.
Pokoknya, Om KW itu benar-benar menyenangkan.

Sanggar

Dulu, setelah mendengar cerita Wulan tentang Sanggar Pelangi, Nilna pernah bilang sama Ibu. ”Bu, Nilna masuk sanggar pelangi ya. Itu lho, yang melatih kemampuan menulis.” Kata Ibu, ”Wah, bagus tuh. Dimana?” Nilna jawab, ”Di ulak karang. Wulan juga anggota sanggar itu. Sanggarnya tiap hari minggu.” Karena sanggarnya hari Minggu, Ibu tidak setuju. Soalnya hari Minggu itu, Nilna juga ada kegiatan ’Mubaligh Cilik’ di Anduring. ”Pas SMA saja masuk sanggarnya ya, Nilna,” begitu kata Ibu. Nilna menurut.
Kelas 1 SMA, Nilna mencari-cari informasi tentang sanggar Pelangi. Tapi, waktu itu tidak ada informasi apapun.
Hingga setelah Nilna ikut Bengkel Sastra di Kayutanam. Om mengajak Nilna (beserta Danil dan Opie) untuk ikut sanggar pelangi yang kembali diaktifkan. Siapa yang akan menolak kesempatan emas itu? Mengutip kalimat di The Da Vinci Code, ”Sanggar yang menemukanmu, bukan kamu yang menemukannya”. Hehe. Kalau Indonesia mengatakan, ”Pucuk dicinta ulam pun tiba”. Hehe lagi.
Di sanggar, Nilna (kembali) mendapat pengetahuan dan wawasan baru. Tentang bagaimana
mengemas cerpen yang menarik, membuat pembaca menikmati alur ceritanya, tidak membingungkan, dan tidak dilupakan begitu saja. Cerpen pertama yang Nilna ajukan ke Om KW dapat banyak coretan. Terutama, kata Om, alur cerpen itu tidak menggunakan logika. (Logika, kata yang selalu Nilna ingat setiap kali menulis cerpen.) Cerpen kedua, masih hancur. Cerpen ketiga, dapat peningkatan nilai. Cerpen keempat, hancur lagi. Tapi Om KW tak pernah lelah untuk terus memotivasi kami dalam menulis. Mestinya Om KW marah, sudah satu bulan kok masih muter-muter disana. Kemajuannya berjalan sangat lambat, malah ada yang jalannya mundur-maju.
Om KW mengatakan, ”Om membuatkan jalannya. Kalian sendiri yang akan menempuh jalan itu dan memutuskan akan memakai sepatu yang mana.” Baik sekali kan Om KW?. Bahkan Om KW juga membimbing kami untuk memilih warna sepatunya. Mana yang cocok dan mana yang tidak cocok. Dan (mungkin) sebelumnya kami sama sekali tidak tahu warna apa yang cocok buat kami pakai dalam menempuh jalan itu. Kira-kira demikianlah analoginya.
Meninggalkan satu kali pertemuan saja dari sanggar, rasanya merugi sekali.
Nilna benar-benar berusaha untuk selalu hadir dalam setiap pertemuan sanggar. Pernah satu kali Nilna tidak diizinkan Ayah untuk bepergian di hari minggu. Padahal hari itu Nilna ada acara reunian dengan teman-teman di MTsN lalu pergi ke sanggar. Nilna nangis agar diizinkan pergi sanggar saja, tapi ayah tetap tidak mengizinkan. Nilna sms Danil, menyampaikan maaf dan kekesalan karena tak dapat izin. Danil cuma bilang ’iya’ lalu beberapa menit setelah itu datang sms dari Danil bilang, ”Hari ini kita tidak jadi sanggar.” Wah, senangnya. Tapi setelah itu Nilna sadar, sanggar ditiadakan karena cuma Danil yang hadir. Sekali lagi Nilna minta maaf buat Danil dan terutama Om KW.

Rahasia Meede

Ketika itu, Padang Book Fair dikunjungi E.S Ito, pengarang novel Rahasia Meede. Nilna sih cuek-cuek saja. Siapa tuh? Nggak kenal. Tapi, sore ketika acara akan dimulai, Om memanggil Nilna ke stand PADEK. ”Nilna ikut acara bedah buku ya! Rugi kalau nggak ikut. Mana yang lain?,” Om KW celingak celinguk semangat menangkap kehadiran reporter Pmails lain. Sayang, cuma Nilna yang tertangkap mata. Melihat semangat Om dan ada kata ’rugi’nya, Nilna ikut-ikutan semangat mengiyakan ajakan Om. Setengah berlari, Nilna menyusul langkah Om KW. Sampai di luar, Nilna tanya, ”Mana penulisnya Om?” Om KW menunjuk sosok penulis yang tidak mirip penulis. (Kirain dia cuma pengunjung) ”Nggak mirip penulis ya?,” tanya Om. (Lha, kok Om KW tau ya, Nilna lagi mikirin itu).
Pendek kata, Nilna sudah terlibat dalam ’bedah buku yang ada penulisnya’ itu. Rasa-rasanya, Nilna orang paling awam di lingkaran itu. Aneh saja, ada seorang yang tidak tahu apa-apa (dan tidak berpengalaman) ikut-ikutan mendengarkan kalimat-kalimat para pembaca kritis yang ada ketika itu. Kalau yang lain pembaca kritis, maka Nilna pembaca krisis. Krisis baca, krisis ilmu, krisis pengalaman, dan krisis uang.
Namun, sungguh beruntung mendapat kesempatan seperti itu. Kalau saja Nilna tidak diajak Om KW, mungkin Nilna tidak akan pernah dapat ’pelajaran’ seperti hari itu. Pelajaran yang paling penting Nilna dapatkan adalah ’Peduli dan Baca’. Awalnya kan Nilna tidak peduli ada penulis datang ke Padang. Nilna juga tidak membaca walaupun hanya judulnya saja.
Disamping pelajaran-pelajaran lain bahwa sastra dan sejarah adalah dua hal yang berbeda, bahwa saya menyesal telah membenci pelajaran sejarah waktu sekolah, bahwa pakar-pakar sejarah seharusnya malu kenapa sastra yang malah membuka mata tentang sejarah dan bukannya sejarah itu sendiri, serta bahwa dengan menulis kita dibaca dan dengan membaca kita ditulis.
Hari itu, Nilna punya tekad untuk tidak melihat buku dari cover luarnya saja.

Buku

Om KW adalah orang yang selalu mewanti-wanti reporternya untuk rajin membaca. ”Jadikan buku tema bermain kita, rak buku penghias rumah kita, toko buku tempat favorit kita, dan membaca pengisi waktu luang kita,” begitu kira-kira kalimat Om KW ketika di sanggar. ”Hindari novel picisan, jangan menonton sinetron,” lanjut beliau. Nasehat itu benar-benar merasuk. Nilna yang sebelumnya (sebenarnya) suka baca picisan, mulai beralih ke novel-novel sastra, antologi cerpen dan puisi, dan buku-buku yang memaksa otak untuk berpikir. Nilna takjub melihat koleksi-koleksi buku Om KW yang ternyata tidak hanya melulu sastra tapi juga bidang-bidang lainnya. ”Om, juga punya buku kesehatan,” kata Om memamerkan koleksi buku-bukunya. Yah, Om bikin iri. ”Mulai sekarang sisihkan uang jajan untuk beli buku. Targetkan satu bulan harus membeli satu buku. Boleh lebih,” lanjut Om. Nilna berubah. Keinginan untuk membeli buku itu menjadi menggebu-gebu. Rela tidak makan siang, yang penting bulan ini harus beli buku. Kalau dalam bulan itu nggak ada duit, maka diusahakan untuk mendapatkan duit.
Masih berhubungan dengan buku, Om KW pernah mendidik Nilna untuk tanggungjawab, disiplin, dan tepat janji. Ceritanya, Nilna meminjam buku dari Om KW. Om memberi waktu peminjaman seminggu. ”Pokoknya, minggu depan buku ini kembali,” ucap Om. Berhubung minggu depannya itu sanggar libur, janji Nilna sama Om juga Nilna liburin. Buku yang Nilna pinjam tidak kembalikan tepat waktu. Tiba-tiba Om nanyain, ”Kamu ingkar janji ya Nilna. Mana buku yang kamu pinjam?.” Nilna kaget dong dibilangin ingkar. ”Kan sanggarnya libur Om,” jawab Nilna. Kemudian Om KW bilang gini, ”Ya nggak ada hubungannya ada sanggar atau tidak. Janjinya kan minggu depan dikembalikan. Bukan kalau sanggar dikembalikan. Nah, itu Om mau tes kamu. Ternyata hasilnya begini.” Waduh, Nilna nggak lulus tes. Nilna kemudian berjanji lagi akan mengembalikan besok.
Esoknya Nilna berusaha keras agar bisa mengembalikan buku Om. Padahal waktu itu bulan puasa. Nilna dari kampus Jati ke kampus limau manis dulu karena ada urusan. Terus naik bis kota ke Padek (harusnya Nilna naik angkot hijau Lurus tapi karena kebiasaan naik bis kota, Nilna jadi lupa). Turun bis di simpang angkot siteba keluar dari pasar. Dari simpang itu jalan ke simpang Padek. Sampai di Padek, ternyata Om sudah pulang. Nilna cuma ketemu Danil yang katanya juga mau pulang. Lalu Nilna naik angkot mau ke Gunung Pangilun, ke rumah Om KW. Sampai di pangkalan ojek samping BKMM, Nilna tanya sama tukang ojeknya, ”Pak, saya mau ke rumah Yusrizal KW. Tapi saya lupa alamatnya. Bapak tau rumahnya.” ”Siapa namanya tadi, dek?,” tukang ojeknya balik nanya. ”Yusrizal Kawe biasanya dipanggil Om Ka-We. Om KW itu wartawan di Padang Ekspres.” Dasar tukang ojeknya nggak intelek. Dia malah nanya balik (lagi). ”Rumahnya di atas atau di bawah? Cemara I atau cemara II?” Sudah jelas-jelas Nilna bilang kalau Nilna lupa alamatnya. Karena capek bertanya dan tak ada gunanya, Nilna naiki saja ojek itu, sambil berusaha mengingat-ingat rumah Om. Syukurlah, Nilna ingat. Di rumah Om, cuma ada Rafidh, anak pertama Om. Buku itu Nilna titip sama Rafidh. Balik dari rumah Om KW, matahari hampir terbenam. Bedug magrib terdengar ketika Nilna masih dalam perjalanan pulang. Sampai di rumah langsung buka puasa, sholat, dan mandi. Rencananya Nilna mau tidur sebentar tapi tidak mungkin. Ayah marah dan ceramah panjang lebar karena Nilna pulang telat. Walaupun begitu, rasanya lega karena bisa menunaikan janji sebagaimana mestinya. Ada rasa puas dan nyaman setelah itu. Dari Om, Nilna belajar menepati janji dan bertanggung jawab.

Sukses

Suatu hari di ruangan Pmails yang baru, Om KW mengobrol santai dengan Nilna, Danil, dan Opie. Om cerita banyak hal, mulai dari kehidupannya saat sekolah dulu hingga saat ini. Nilna selalu mendapatkan sesuatu dari kisah-kisah yang diceritakannya itu. Semua yang diceritakannya kepada kami memiliki makna tersirat yang dapat kita ambil sendiri tanpa disampaikan secara langsung oleh Om. Dari obrolan itu, Om juga menyampaikan harapannya kepada kita bertiga. Waktu itu ada Bang Yon. Om menyampaikan harapannya itu lewat percakapan dengan Bang Yon. ”Ini. Anak-anak ini, Yon. Jika lima tahun ke depan tidak menjadi orang (sukses), saya hajar mereka,” begitu kata Om lalu mengusap kepala kami masing-masing. Kalimat itu benar-benar merasuk ke diri Nilna. Kalimat itu yang selalu membuat Nilna semangat dalam setiap gerak-gerik Nilna. ’Lima tahun ke depan saya harus sukses. Lima tahun ke depan saya harus sukses. Harus sukses. Kalau tidak, dihajar Om.’ Begitu berulang-ulang hingga semangat itu timbul. Dalam kalimat itu, Om menyampaikan harapannya sekaligus memberikan tanggungjawab. Tanggungjawab itu yang sekarang Nilna emban.

Jika diteruskan, halaman ini bisa mencapai hitungan tak hingga. Maka, Nilna membatasinya saja ke dalam 7 poin di atas. (Aduh, kayak bikin makalah aja) Masih banyak suka-duka serta hal-hal yang Nilna pelajari dari Om KW. Belajar jujur, disiplin, bekerja sama, tanggungjawab, dan peduli adalah sedikit dari sekian banyak yang Nilna dapatkan. Om KW telah banyak memberi dan membukakan kesempatan emas buat Nilna dan buat anak-anak lainnya. Nilna menemukan kekeluargaan dan persahabatan dari seorang Om KW. Ketika Nilna menuliskan ”Orang-orang yang paling berpengaruh dalam kesuksesan Nilna nantinya (di luar orangtua dan keluarga)”, Nilna menempatkan Om KW di posisi pertama. (Ini serius lho, Om). Om KW yang telah banyak memberikan motivasi dan inovasi kepada ”keponakan-keponakannya”. Maka tidak salah jika pada ulangtahun kedua Pmails kemaren Nilna menuliskan, ”Om KW orangtua kita”. Om KW adalah orangtua, guru, dan sahabat bagi kita semua. Orangtua yang menyayangi kita, guru yang tak gentar mendidik dan mengajari kita, serta sahabat yang dengan senang hati mendengarkan masalah-masalah kita. Selain Om KW penyayang dan perhatian kepada reporter-reporter Pmails, Om juga yang paling rajin menanyakan kondisi ’Sumetera Tengah’ para reporter. ”Kamu sudah makan?” ”Kamu sudah makan?” ”Sudah makan kamu, Nilna?” ”Makanlah!” Biasanya kita dibeliin nasi atau disuruh makan di kantin. Om yang bayarin.

Yap, seperti yang dituliskan tadi, halaman ini bisa saja mencapai hitungan tak terhingga. Om, sebenarnya masih banyak kesan Nilna terhadap Om. Bahkan hingga menulis tulisan ini, Nilna merasa masih banyak yang belum disampaikan. Masih sangat banyak, Om. Namun berhubung Nilna baik hati dan tidak ingin menyusahkan orang lain serta punya sifat visioner (Wahaha… narsis!), Nilna menghentikan tulisan ini sampai disini. Percayalah Om, tulisan ini masih punya sambungan. Kalau Om masih mau dan tidak bosan membaca, Om boleh meminta sambungannya kepada Nilna.

Sebagai penutup,

Terima kasih sebesar-besarnya dari Nilna kepada Om KW (Yusrizal KW)

Selamat Ulang Tahun

Semoga berkat umur dunia akhirat

Semoga semua harapan-harapan Om untuk kami tercapai

dan kami selalu mendoakan Om

Salam sayang,

Nilna R. Isna

* Tulisan ini terangkum dalam buku “Om KW” yang ditulis anak-anak Pmails sebagai kado ulang tuhan Pemimpin Redaksi Pmails itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s