Aku dan Om KW – 1 *

Nilna takjub dengan kehebatan seorang Yusrizal KW. Beliau terlihat sederhana tapi bisa apa saja. Beliau multitalent. Dia seorang wartawan juga penulis. Seorang cerpenis, penyair, dan tepatnya sastrawan. Om KW seorang budayawan. Bermain teater oke, melukis pun oke, design bisa, bisnisnya top, menjadi pimpinan sudah tak diragukan lagi. Pengetahuan agama berlebih, komputer dan internet dikuasai, bahkan hingga arsitektur rumah beliau sanggupi. Dalam hal metode mendidik anak, Om orang yang tepat untuk ditanya-tanya.

Pertama

Pertama kali ketemu Om KW, Nilna langsung dikasih duit sepuluh ribu. Waktu itu Nilna masih kelas 3 MTsN. Hari itu tanggal muda, Nilna berkunjung ke redaksi tabloid Supel dalam rangka mau minta honor. Kebetulan dua tulisan Nilna (Puisi dan Berita Sekolah) diterbitkan di tabloid Supel pada edisi sebelumnya. Dengan sangat beruntung, Nilna langsung disuruh menghadap pemimpin redaksinya yaitu Yusrizal KW. ”Panggil saja Om KW,” begitu kata staf yang menyuruhku untuk langsung menghadap Om KW. Sebenarnya, nama Om KW sudah Nilna kenal duluan dari teman sekelas. Teman sekelas Nilna itu (namanya Wulan) merupakan anggota Sanggar Sastra Pelangi yang ketika itu pembinaannya masih berpusat di Ulak Karang. Waktu itu Nilna ketawa, masa ada sanggar menulis? Emangnya Wulan nggak bisa nulis? Kata Wulan, bukan sanggar cara menulis tapi sanggar agar pintar menulis puisi, cerpen, dan lain-lain. Wulan cerita kalau yang mengajarnya menulis itu bernama Yusrizal KW, panggilannya Om KW. ”Om KW itu baik, pandai mengajar kita,” begitu cerita Wulan. ”Ah, Nilna juga pengen masuk sanggar itu,” ucapku, dalam hati. Sebenarnya iri.
Nah, pas benar-benar ketemu Om. Yang pertama terbesit, ”Om emang baik” Buktinya Nilna dikasi duit, disuruh rajin-rajin menulis, terus diajarkan cara bisnis. Om KW langsung ngasi Nilna 10 eksemplar Supel buat dijual ke teman-teman. Nilna dapat untung 500 tiap-tiap eksemplar.

Itu pertama kali Nilna mengenal nama kemudian bertemu langsung dengan Om KW. Nilna yakin, pasti Om KW lupa kalau dulu (sebelum Pmails) Nilna pernah ketemu dan ngobrol-ngobrol sama beliau.


Ultah Pmails

Kelas 2 SMA, tiba-tiba ada halaman pelajar di Padang Ekspres, namanya Pmails. Nilna girang bukan main. Apalagi, pada salam redaksi dituliskan bahwa Padek mengajak teman-teman pelajar SMP dan SMA untuk bergabung menjadi reporter. Kebetulan sekali, reporter sekolah dari SMAN 2 Padang belum ada. Nilna langsung bilang ke Ayah. ”Ya, ikutlah,” kata Ayah tak kalah semangat. Besoknya sepulang sekolah, Nilna langsung ke Padang Ekspres. Singkatnya, 7 September 2005, Nilna dibolehkan bergabung di Pmails.
Di Pmails, ketemu lagi sama Om KW, lagi-lagi sebagai pemimpin redaksi. Bapak kita yang satu ini memang peduli pendidikan, terutama peduli dengan aktivitas menulis para pelajar.
Tahun pertama di Pmails, rasanya Om KW itu jauh sekali.
Nilna jarang ketemu Om KW, ngobrol pun tak pernah. Kalaupun berpapasan, Nilna takut-takut menyapa Om. Takut dibilang sok akrab, takut dicuekin, takut salah sapa, takut salah senyum. Pokoknya takut.
Selain takut, juga segan. Segan menyapa, segan bertanya, segan mengobrol, dan segan-segan lainnya. Soalnya, waktu itu Om KW lebih banyak serius daripada bercanda. Bercandanya ada juga, tapi lebih sering serius.
Hingga ulangtahun kesatu Pmails. Pada beberapa bulan sebelumnya, Om KW sudah sering muncul di hadapan reporter-reporter Pmails. Jadi, pas acara ulangtahun, Om KW sudah terkenal di hati semua reporter Pmails. Tapi bagi Nilna saat itu, Om KW terkenal karena kedisiplinannya. Pada rapat-rapat Pmails, Om KW selalu menekankan ”Sistem, Disiplin, Deadline”. Tiga kata itu Nilna bawa kemana-mana, hingga ke tugas-tugas sekolah.
Pengalaman memalukan terjadi di hari ulangtahun itu.
Ketika Om KW sedang menyampaikan materi di depan, Nilna mengobrol dengan Nessa sambil ketawa cekikikan. Padahal sebelumnya Om KW sudah bilang agar fokus pada materi. Ketika sedang ketawa cekikikan itu, Om KW menepuk meja di depan Nilna. Terang saja Nilna kaget. Kata Om, ”Hargai jika ada yang bicara di depan ya..” Nilna diam. Takut. Lalu Om KW bilang begini, ”Keberhasilan ditentukan oleh seberapa berhasil menghargai orang lain.” Muka Nilna merah padam. Pasti Om KW nyindir Nilna waktu itu.
Setelah itu, Nilna benar-benar tidak mengobrol selama acara berlangsung, siapapun pematerinya.
Di notes, Nilna bikin tulisan besar-besar :

”Never Chat When You’re In Training”

Dibawahnya ditulis kecil :

Ditegur juga akhirnya

Ini membuat Nilna semakin takut dan segan kepada Om KW. Mau nangis rasanya setelah ditegur itu.

bersambung….


* Tulisan ini terangkum dalam buku “Om KW” yang ditulis anak-anak Pmails sebagai kado ulang tuhan Pemimpin Redaksi Pmails itu.

One thought on “Aku dan Om KW – 1 *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s