Temu Kang Abik dan E.S Ito

15 November 2007

Padang Book Fair 3 di Bagindo Aziz Chan

Kang Abik

Pukul 10.30 WIB saya sampai di Padang Book Fair. Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy ada disana. Sedang menjelaskan proses kreatif menulis Novel Ayat-ayat Cinta. Saya tidak akan menjelaskan kembali bagaimana proses kreatif beliau dalam menulis, yang akan saya paparkan disini adalah bagaimana kecewanya saya karena tidak jadi wawancara ekslusif dengan beliau.

Saat Kang Abik menandatangani buku-buku milik pembaca yang merupakan karangan-karangannya, saya menahan Novel Ayat-ayat Cinta milik saya sendiri dengan harapan agar kang Abik bisa dengan tenang menandatangani novel saya dan bukannya berdesak-desakan seperti saat ini, mengingat nanti saya akan mewawancarai beliau di tempat yang lebih aman. Begitu juga ketika para pembaca lain dengan semangat yang menggebu-gebu berusaha photo bersama dengan Kang Abik. Saya tenang-tenang saja memandangi beliau dan para fansnya dari tempat saya duduk dengan anggapan bahwa nanti saya akan bertenang-tenang berphoto dengan beliau dan tentunya dengan hasil yang memuaskan.

Maka ketika kang Abik sibuk tanda tangan, sibuk dengan fans yang mencuri-curi photo dan sibuk wawancara dengan Padang Ekspres dan Padang TV, saya memperhatikan saja dari jarak yang dekat dengan harapan bisa lebih dekat lagi setelah wawancara nanti.

Novel Ayat-ayat Cinta milik saya, saya tahan. Kamera di kantong, saya tahan. Keinginan untuk buru-buru, saya tahan. Hingga kang Abik makan siang dan sholat zuhur pun, saya menahan diri, dengan harapan nanti bisa lebih banyak bertanya, lebih banyak dapat tanda tangan, dan lebih banyak berphoto-photo ria.

Dan harapan itu tinggal harapan. Kang Abik yang tadi berjanji akan kembali ternyata tidak kembali-kembali.

Rahasia Meede

“Saya benar-benar meminta maaf karena novel ‘Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC’ baru hari ini saya ketahui keberadaannya. Saya tidak tahu apakah kesalahannya terletak pada saya atau pada bukunya.”

Rahasia Meede merupakan novel sastra karya E.S Ito. Seorang kelahiran Kamang Sumatera Barat tahun 1981. Anak dari ibu seorang petani dan ayah seorang pedagang. Setamat SMA melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tetapi tidak jadi tamat karena Drop Out. Katanya, kisah hidupnya lebih menyedihkan daripada hadirin yang duduk pada saat itu. Tapi ia sukses dengan buku-buku sastra berlatarbelakang sejarah yang ditulisnya sendiri lewat penelitian selama lebih dari dua tahun, yaitu Negara Kelima dan Rahasia Meede. Negara kelima bahkan mendapat protes keras dari para anggota DPRD di Jakarta. Sedangkan Rahasia Meede terlalu sering dilempar kritik sebagai pengikut The Da Vinci Code. Kadang-kadang E.S Ito disebut Dan Brown Indonesia dan kadang-kadang ia dipanggil dengan Pramoedya Selanjutya.

Rahasia Meede berlatarbelakang sejarah yang dijabarkan secara apik dan menarik. Keseluruhan jalan cerita pada Rahasia Meede adalah sejarah. Hingga Rahasia Meede disebut-sebut sebagai fiksi sejarah. Tokoh utamanya adalah peristiwa bukan manusia. Esgito hanya memasukkan tokoh-tokoh manusia dengan mengadopsi manusia-manusia yang pernah ada seperti Hatta, bukan menciptakan tokoh baru.

Es ito menjawab,

“Di kamang ada dua orang Ibu yang membawa karung besar berisi sayur-sayuran yang akan dibawa ke Bukittinggi. Sampai di Bukittinggi, kedua karung itu dibuka dan isinya : satu berisi tomat dan satu berisi cabai. Itulah Saya dan Dan Brown.”

“Jika Pramoedya Ananta Toer masih hidup saat ini, maka saya akan bertukar tanda tangan dengan beliau.”

“Sekarang bukan ‘menciptakan peradaban’ tapi ‘membelokkan peradaban’. Itu yang saya lakukan.”

“Mengenai mengapa mengadopsi manusia-manusia yang sudah ada, siapa lagi yang akan membudayakan mereka. Siapa lagi yang akan membudayakan Hatta?.”

“Saya tidak peduli apakah Bung dan Non akan membaca atau tidak buku saya. Saya telah menulis, terserah pada pembaca mau mengartikan apa tulisan saya.”

“Yang saya tangkap dari beberapa pernyataan pembaca tadi bahwa Rahasia Meede berisikan fakta-fakta sejarah yang ditulis dengan sangat-sangat menarik sehingga mudah dimengerti oleh pembacanya. Kalau begitu saya mengusulkan, bagaimana kalau saudara E.S Ito menulis buku referensi untuk pelajar SMP dan SMA saja?”

Menjawab pertanyaan:

Sastra adalah sastra. Sejarah adalah sejarah. Meskipun E.S Ito menulis fakta sejarah tapi karyanya adalah sastra. E.S Ito adalah penulis sastra bukan penulis buku pelajaran. E.S Ito akan berjalan mundur jika menulis buku pelajaran sejarah. Usul itu tidak bisa dilakukan.

Dengan begini, seharusnya pakar-pakar sejarah malu, kenapa sastra yang malah membuka mata tentang sejarah dan bukannya sejarah itu sendiri.

Kenapa saya bertanya tentang demikian :

“Karena saya menyesal telah membenci pelajaran sejarah waktu sekolah.”

Yang saya tangkap :

“Sastra adalah sastra. Sejarah adalah sejarah. E.S Ito adalah E.S Ito. Dan Brown adalah Dan Brown. Saya adalah saya.”

One thought on “Temu Kang Abik dan E.S Ito

  1. i love rahasia meede so much as i love dan brown. is there any chance we can meet someday. i live in padang. UNP literary student. love filmmaking. u may contact me 9902203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s