Catatan 100 halaman Rahasia Meede

Sama seperti beberapa pendapat pembaca lain yang diutarakan dalam diskusi Novel Rahasia Meede pada Kamis tanggal 15 November 20007 di arena Padang Book Fair 3, bahwa saya langsung berpikir tentang The Da Vinci Code saat membaca prolog dan seratus halaman pertama dari buku Rahasia Meede ini.

Tetapi keterkaitan yang saya pikirkan antara The Da Vinci Code dan Rahasia Meede tidak sama dengan apa yang dibicarakan pembaca-pembaca kritis yang hadir pada diskusi novel bersama pengarangnya itu, E.S Ito. Saya tidak menilai Rahasia Meede dari teori-teori kepengarangannya, tapi dari teori kepembacaan awam saya. Sama seperti ketika membaca prolog The Da Vinci Code, membaca prolog Rahasia Meede membuat saya mengerinyitkan dahi. Saya tidak mengerti dengan uraian kata-kata yang berlatarbelakang sejarah itu. Tanpa mendapatkan poin apa-apa dan tanpa keinginan untuk kembali membaca, saya melewatkan lembaran prolog begitu saja, lanjut ke bagian 1.

Bagian 1 membuat kebingungan tadi sedikit pudar. Pada bagian ini, tiba-tiba E.S Ito mendongengkan saya tentang Batu dan teman perempuannya. Mereka sama-sama wartawan. Dan sesungguhnya, status wartawan inilah yang membuat saya menyukai tokoh tersebut. Saya berpikir bahwa Batu adalah Langdon dan Sonai adalah ****. Mereka berdualah yang (mungkin) akan mengungkap rahasia VOC yang sebenarnya.

Lanjut ke bagian 2, seperti yang telah saya duga, akan ada tokoh baru dan cerita yang berbeda, persis seperti gaya Dan Brown memperkenalkan tokoh-tokohnya. Bagian 2, halaman 19-28, diceritakan tentang tiga orang Belanda yang sengaja ke Indonesia dengan satu tujuan. Mereka membentuk tim dan mulai berbicara dengan cerita-cerita asing yang membuat saya semakin merasa sebagai pembaca awam hampir sejati.

Kemudian Pak Guru Uban dan Cathleen muncul sebagai tokoh baru berikutnya. Pak Guru Uban dengan notabene sebagai guru sejarah SMA, disegani oleh warga sekitar, dan sama sekali tidak tertarik untuk menghiasi sudut rumahnya dengan sebuah televisi. Pak Guru Uban hanya membaca koran (yang kemudian membuat saya bangga sebagai bagian dari koran), ia berlangganan empat koran tapi kemudian mulai bosan dengan koran yang ternyata ikut-ikutan menjamah area privasi orang. Sosok dan narasi-narasi Pak Guru Uban membuat saya mengantuk membacanya. Bagaimanapun, sejarah tetap membosankan saya. Saya kembali kepada masa-masa sekolah yang ketika itu siswa hanya melongo dan guru bercerita panjang lebar tentang apa yang telah dibacanya berulang-ulang, bukan tentang apa yang diketahuinya. Kemudian soal-soal ujian ditulis berdasarkan apa yang tertulis di buku cetak Sejarah, persis dengan apa yang didiktekan sang Ibu Guru Sejarah setiap harinya. Masa-masa belajar sejarah saat sekolah dulu adalah masa-masa saat dimulainya pembosanan berjamaah, tidak perlu mencatat apa yang diterangkan guru karena apa yang diterangkannya itu sama persis dengan apa yang terbaca di buku bahkan hingga titik dan komanya. Lalu ketika ujian blok diadakan, itulah saat-saat bagi siswa untuk menyurukkan buku di bawah laci dan membukanya diam-diam saat pengawas luput memperhatikan. Saya membenci kecurangan itu karena saya tak ahli dalam menggunakannya. Saya tidak suka sejarah. Butuh kali berulang-ulang bagi saya untuk dapat memahami narasi Pak Guru Uban.

Cathleen dengan latarbelakang seorang belanda yang datang ke Indonesia untuk keperluan tesis masternya. Awalnya, saya bingung dengannya, kenapa harus ada tokoh dan cerita baru lagi? Saya tidak peduli. Saya kemudian tertarik pada idiom-idiom yang diciptakan Rian. Idiom Rian untuk memesona Cathleen. Namun di dua bagian setelahnya, Cathleen dihadapkan pada Suhadi, yang tubuhnya sependek namanya, yang sangat menjunjung kemedekaan, yang menurut Cathleen menyimpan rahasia, yang menurut saya ‘kenapa harus ada tokoh baru lagi?’.

Kemudian pada bagian-bagian selanjutnya, saya kembali berkutat dengan tiga peneliti Belanda, pak Guru Uban, Cathleen.

Rafael, Erick, dan Robert yang merasa terhina karena keangkuhan mereka sendiri. Saya membenci kata ‘pribumi’ untuk orang Indonesia yang telah mendaging di lidah mereka. Saya mulai terbawa arus pencarian mereka. Saya seperti seorang pemakai jubah gaib yang menguntit ketiganya meneliti penjara bawah tanah Museum Sejarah Jakarta yang terpaksa menahan gelak ngakak saat mereka menemukan kalimat ‘Honden En Nederlander Verboden’.

Pak Guru Uban, narasi-narasinya masih membuat saya mengantuk. Namun, saya memaksakan mengikuti alur narasinya karena heran dengan apa yang dipelongokan oleh murid-muridnya yang bercita-cita menjadi kuli. Istilah-istilah dan nama-nama yang ditulis pak Guru Uban seperti pernah saya dengar atau baca sebelumnya, mungkin di buku-buku kuliah. Satu yang saya tangkap, saya selalu menyukai bagian dimana pak Guru Uban merasa kasihan melihat murid-muridnya yang hanya pandai melongo.

Cathleen, perdebatannya dengan pak Suhadi membuat saya memilih, harus membela siapa. Cathleen seorang Belanda yang ingin membuka kebenaran atau Suhadi seorang Indonesia yang ingin menutupi apa yang ingin dibuka Cathleen. Perdebatan antara keduanya membuat saya berimajinasi jika saya ada berada di antara mereka, maka saya akan seperti wasit dalam permainan bulutangkis.

Penjelasan diatas telah menggambarkan pola pikir saya terhadap seratus halaman pertama Novel Rahasia Meede karya E.S Ito. Baru seratus halaman yang sanggup saya baca dalam dua malam ini. Saya yang seorang pembaca awam ini belum terlalu antusias terhadap novel fiksi dengan fakta sejarah tersebut.

Dari seratus halaman itu, baru satu bagian yang menceritakan tentang Batu. Sebenarnya saya menanti-nantikan Batu dan apa yang akan terjadi padanya atau apa yang telah diperbuatnya. Tapi hingga bagian kesepuluh novel ini, Batu belum dimunculkan.

Kita lihat, apa yang akan terjadi pada saya setelah membaca halaman-halaman berikutnya!

 

RAHASIA MEEDE, Misteri Harta Karun VOC, karya E.S Ito. Sebuah novel yang saya ketahui keberadaannya karena ajakan Om KW untuk ikut serta dalam diskusi Novel Rahasia Meede pada Kamis tanggal 15 November 20007 di arena Padang Book Fair 3. Saya tertarik untuk membaca karena pendapat S. Metron yang ilmiah dan jawaban E.S Ito sendiri yang mengagetkan saya. Saya ingin tahu kekuatan buku itu. Apakah buku itu juga mampu membuat seorang yang tidak suka baca menjadi suka baca? Apakah buku itu mampu membuat seorang pembenci sejarah menjadi pecinta sejarah? Apakah benar buku itu membelokkan peradaban? Apakah buku itu bisa dimengerti oleh saya yang awam? Fiksi atau fakta, sastra atau sejarahkah dia? Buku itu akhirnya dapat saya baca bukan karena membeli atau dibelikan tapi karena meminjam dan dipinjamkan. Buku setebal 700 halaman itu diserahkan pada saya untuk dibaca dalam dua malam. Sayang, dua malam hanya sanggup saya manfaatkan untuk membaca seratus halaman. Saya tahu ini terlalu sedikit. Dengan ini saya meminta maaf kepada S. Metron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s