Hilang

“Bersyukurlah karena Allah masih menegurmu dengan lentingan pasir

yang terlalu memuakkan apabila kau bela dengan tangis sesenggukan.”

 

Kelihatan bodoh. Siang itu musibah kecil menimpaku ketika aku tengah menjalankan ibadahku. Kejadian biasa yang mungkin pernah anda alami. Sekitar pukul 13.30, setelah perkuliahan berakhir, aku menjalani ibadah sholat zuhur di mushalla kampus bersama seorang teman. Prima Kurniati Hamzah namanya, aku akrab memanggilnya dengan panggilan Prije. Ketika aku menanggalkan sepatu di belakang mushalla, handphoneku bergetar tanda panggilan masuk. Missed call dari Rio, teman SMA-ku. Kulirik sebentar lalu memberitahu Prije bahwa Rio baru saja missedcall kemudian kembali memasukkan handphone ke dalam tas di tempat mana aku biasa meletakkannya.

 

Di dalam mushalla, aku bergegas menaruh tas di sisi kiri mesjid, tempat tas-tas lain juga ditumpuk. Kemudian meninggalkan tas tersebut beserta isi-isinya dengan kepercayaan penuh bahwa aku meninggalkan tas di mushalla (di tempat ibadah) dalam bulan ramadhan pula. Aku menuju tempat berwudhu, kembali ke mushalla, dan melaksanakan sholat zuhur.

 

Ketika sholat zuhur itulah musibah menimpaku. Allah melentingkan pasir ke arahku ketika aku membuka tas dan menyadari bahwa handphone yang biasa kugunakan kini raib. Hilang.

 

Aku berusaha bersikap tenang. Awalnya memang tenang tapi lama-lama aku tidak sabar. Aku panik. Takut. Aku menyalahkan diri sendiri. Menyadari kesalahan selama ini. Aku mengutuk kepada diri sendiri.

 

Kak Nessa, senior sekaligus tetanggaku, membantu menemaniku melapor kepada security kampus. Prije dengan baik hati meminjamkan hapenya untuk menghubungi nomor hapeku. Ia juga menemani aku hingga aku pulang ke rumah.

 

Seniorku di PSIKM juga menunjukkan simpati yang sama. Kak Suci, kak Febri, dan kakak-kakak lain yang tidak aku kenali namanya.

 

Kesedihanku terhadap orangtuaku jauh lebih besar daripada kesedihan terhadap handphone yang hilang itu. Tentu karena handphone yang aku miliki selama ini dan hilang hari ini adalah pemberian orangtuaku, pemberian dari hasil jerih payah ayah dan ibuku untuk diriku. Aku lebih mencemaskan orangtuaku, juga mencemaskan bagaimana diriku di hadapan orangtuaku nanti.

 

Mungkin aku menjadi anak yang paling tidak berbakti. Tidak bisa menjaga amanah. Tidak pandai merawat barang dan tidak peduli dengan lingkungan. Aku lelet dengan segala hal. Cuek dan slengekan terhadap lingkungan sekitar.

 

Aku menangis sesenggukan di pos satpam, di mesjid saat sholat ashar, di depan gedung perkuliahan, di hadapan teman-teman, di rumah, di depan ayah, di balik bantal.

 

Lama setelah itu, aku tertawa di dalam kamar. Buat apa aku menangis sesenggukan?. Baru saja Allah menegurku dengan selentingan pasir. Harusnya aku bersyukur ditegur terus-terusan daripada terus-terusan aku berjalan ke arah yang tak benar. Hendaknya aku tersenyum mendapat cobaan karena artinya Allah mengabulkan doaku sepanjang malam. Agar aku selalu berada di jalan yang benar.

 

Aku memperhatikan kursi tamu, tempat teman-teman berusaha membantu meringankan bebanku dari ketakutanku terhadap kecaman orangtuaku. Seyogyanya aku malu. Ya, aku malu.

 

Teman, maafkan aku telah merepotkan dirimu. Ini semua karena kelemahanku. Terima kasih atas kekuatan mental yang kalian sodorkan. Aku berhutang budi dengan itu. Memang terdengar terlalu didramatisir tapi ini kata hatiku.

Untuk teman-temanku : Prije, Whela, Efri, Dian, dan Heru.

 

Sesungguhnya, aku muak dengan tangisanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s