Mengungsi Sebentar

13 September 2007, siang-malam

Awalnya, tidak banyak warga yang berpikir untuk mengungsi. Namun karena trauma sementara gempa susulan terus terjadi walau dalam skala yang lebih kecil, banyak warga yang berubah pikiran untuk pergi saja dari rumah. Banyak warga yang meninggalkan rumahnya dengan alasan ingin jaga-jaga, ingin pulang kampung, agar anak istri tidak waswas, biar hati terasa lebih tenang.

Mobil-mobil berangsur-angsur pergi meninggalkan rumah. Ada warga yang kompak pergi bersama-sama beombongan ke suatu tempat. Ada yang mengajak tetangga untuk ikut dalam mobil mereka. Namun ada juga yang berdiam diri dan bertahan di rumah mereka sendiri. Sebagian warga mendirikan tenda-tenda di lapangan terbuka.

Saiia termasuk orang yang takut dengan gempa apalagi tsunami. Melihat warga yang berangsur-angsur meninggalkan rumah, saiia juga ingin pergi dari rumah dan mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Ayah bilang, “Mau pergi kemana?” Saiia diam. Tak bisa menjawab. Namun detik kian detik warga komplek semakin lengang. Ketakutan mencekam saiia. Rasanya cuma saiia dan keluarga yang tidak mengungsi. Masih dalam rangka mengajak sang ayah mengungsi, Pak Imran, garin mesjid yang sudah dianggap anak oleh suami adik ayah (saiia memanggilnya Bapak), mengajak saiia untuk mengungsi ke Lubuk lintah (daerah ketinggian yang merupakan rumah orangtua Bapak). Saiia meminta pertimbangan ayah. Ayah mengangguk dengan alasan agar saiia tidak cemas terus jika berada di rumah. Akhirnya saiia mengungsi sebentar ke lubuk lintah.

Di lubuk lintah saiia ketemu dengan unyiang (istri bapak-adik ayah) dan utih (adik unyiang-adik ayah juga). Bapak saiia ketahui tetap berada di lingkungan rumah tepatnya mesjid, kebetulan beliau itu ketua RW yang bertugas menenangkan warga. Di lubuk lintah juga, saiia ketahui bahwa Ibu mengungsi ke Gadut bersama tetangga sementara ayah tetap tinggal di rumah. Wah, kita sekeluarga jadi pisah-pisah gitu. Untunglah alat komunikasi tetap mendekatkan kami.

Gempa susulan masih terus terjadi hingga saiia, ibu, tetangga-tetangga, dan orang-orang yang rumahnya tidak mengalami kerusakan parah kembali ke rumah mereka masing-masing.

Tidur di tenda

Rasanya tidak aman saja jika kami tidur di dalam rumah. Kami memutuskan untuk pindah tidur ke tenda-tenda. Setidaknya ada satu tenda untuk lima keluarga. Dalam tidur kami yang sama sekali tidak nyenyak itu, terasa berkali-kali gempa susulan. Setidaknya kami tidak perlu lagi berlarian ke luar rumah, cukup terduduk di tenda dan menunggu hingga gempa kecil itu berhenti. Bapak-bapak banyak yang ngeronda, tidak tidur. Mungkin tidak ada yang benar-benar terlelap pada malam itu. Tidur lalu terbangun lagi oleh gempa susulan, tidur lalu terbangun lagi mendengar suara orang mengobrol di luar tenda, tidur lalu terbangun lagi entah karena apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s