Waktu Gempa Sore Terjadi

12 September 2007, sore

Ceritanya malah jadi lucu. Waktu itu kita (saya, Aulia, Prije, Helda, en Rio) baru pulang dari rumah Yona. Maklumlah, hari itu Yona mau traktir kita di rumahnya berhubung ia baru saja ultah ke-18 dua hari sebelumnya.

Dalam perjalanan pulang itu tiba-tiba ada ibu-ibu umur 30-an nanya ke Prije. “Dek, nggak kerasa gempa, dek?” Prije yang takut banget ma gempa langsung kelabakan. Saya mau jawab petanyaan ibu itu dengan bilang “nggak”. Tapi, belum sampai bersuara, tanah yang saya injak berguncang hebat. Dan itu artinya, GEMPA BARU SAJA TERJADI. Saya langsung panik. Saya lihat toko di sebelah tempat saya berdiri bergoncang hebat, terdengar dentuman-dentuman barang-barang yang berjatuhan di dalamnya. Dalam benak saya, bangunan-bangunan di sekitar mau roboh. Saya langsung komando tman-teman, “Ke tengah, ke tengah, ntar bangunannya roboh.” Kami langsung beranjak ke tengah jalan. Untung mobil-mobil di jalanan juga berhenti. Saya lihat tiang listrik berayun hebat ke kiri dan ke kanan. Pepohonan juga begitu. Seperti badai kelihatannya. Kami berpelukan. Saya nggak tau meluk siapa, nggak tau siapa meluk saya. Kaki saya udah mau copot rasanya. Saya teriak, “Duduk!!! Duduk! Semuanya duduk. Satukan badan dengan tanah!” Semuanya duduk, kecuali Rio. Tampaknya cowok itu cukup tangguh untuk melindungi cewek-cewek di sekelilingnya. Saya rasa ia puas megangin tangan cewek-cewek di sekitarnya ketika gempa itu terjadi. Malah ada yang meluk. Saking takutnya.

Gempa menggoncang sekitar 10 detik. Tapi rasanya lama sekali. Kami berlima selain melindungi diri juga menyebut-nyebut nama Allah. Bertasbih, takbir, tahlil, dlsb (dan lain sebagainya). Ada yang nangis panik, ada yang mencoba tenang, en ada yang bengong aja ngeliat keadaan. Dalam kepanikan itu ada yang teriak, “Woi… ngapain di tengah jalan. Mau cari mati.” Rio langsung nyahut, “Ya bang, ya bang. Tunggu sebentar.” Rio mengomando untuk beralih ke tepi jalan. Malu juga rasanya mesti berada di tengah jalan ketika gempa sudah tidak mengguncang. Mobil dan angkot yang tak sabar mengklakson-klakson mobilnya untuk memperingatkan kami agar segera menepi.

Apa yang terjadi di tepi jalan? Ketika gempa sudah tidak mengguncang? Rupanya terjadi pertumpahan air mata. Saya, Helda, Aulia, dan Pje nangis nggak jelas. Ada yang nangisnya meraung tapi ada juga yang keluar air mata doang. Saya langsung ambil hape. Ternyata batere-nya habis. Saya mau pinjam hape Aulia, taunya hape Aulia nggak ada pulsa. Sementara Prije yang saya ketahui hape-nya juga mati lagi sibuk nelpon ortunya pake hapenya si Rio. “Pa, Rima (panggilan Prije di rumah, -red) nggak mau pulang. Hik. Rima maunya ke kampung sekarang. Hik. Pokoknya Rima nggak mau pulang. Hik hik hik.” Saya mikir, apa hubungannya kampung dengan gempa. Nggak cukup sedetik saiia tau kenapa. Si pje itu punya rumah yang lokasinya dekat sekali dengan pantai. Sedangkan kampungnya, Sicincin, berada pada daerah ketinggian yang jauh dari bibir pantai. Aulia, dengan sisa pulsanya mencoba menelpon sang Papa yang berada di Meulaboh, Aceh. Tapi nggak tersambung-sambung. Helda berhasil menghubungi kakaknya. Saya tak terlalu menyimak apa yang dibicarakan Helda. Saya beralih ke Aulia, tampak ia berhasil menghubungi seseorang, yang pasti bukan papanya, Mungkin kakaknya ato mungkin cowoknya. Saya yang masih berurai air mata terisak-isak meminjam hape Rio. “Yo.. hik.. pinjam hape… hiks. Batere na mati… hik.” Cowok itu tampak masih bingung bagaimana cara mendiamkan tangis empat gadis di sekelilingnya. Rio menyerahkan hapenya ke tangan saya. Coba kalau nggak situasi gempa, pasti dia nggak mau ngasi kita-kita pulsa.

Saya nelpon ayah. Sebenarnya saiia takut ketika telpon itu tersambung. Takut kalau-kalau ayah marah kenapa pulang telat padahal dah disuruh pulang tiga jam yang lalu. “Halo,” terdengar suara ayah dari seberang. “Ayah… maafin nilna, yah. Na di diteba,” saya ngomong sambil nangis. “Langsung ke Balai Baru,” sahut ayah. “Langsung ke Balai Baru. Ntar ayah jemput. Nggak apa-apa. Jangan nangis.” Ayah memutuskan hubungan telpon. Mungkin dia tahu saya lagi make hape orang. Sesaat kemudian jaringan telepon terputus. Tinggal si Rio yang saiia ketahui nggak nelpon keluarganya. Tapi ia telah menghubungi sang Pacar di Medan sana ketika gempa mengguncang. Ya ampun, berarti si Rio nelpon si Desi waktu bumi lagi goyang-goyang. Ck…ck…ck.

 

Ketika saya telah sampai di Balai Baru (rumah oom saiia yang berada di ketinggian dan jauh dari pantai), ketika si aulia suda duduk tenang di samping saya (dia saya ajak untuk ikut saiia aja ke balai baru), ketika si Helda udah ketemu sama kakaknya, ketika Prije dalam perjalanan ke kampungnya, dan ketika Rio lega melihat rumahnya masih berdiri kokoh dan menyadari pulsa hapenya menurun drastis, saiia terkikik sendiri. Saiia ingat-ingat lagi rentetan kejadian mulai dari gempa terjadi hingga detik saya duduk disini. Rasanya lucu saja mesti menangis bareng di tengah jalan sambil duduk semetara mobil dan motor berada di sebelah kiri dan kanan. Lucu saja rasanya waktu kita nangis-nangis nggak jelas di tengah jalan sembari menelpon keluarga sementara orang-orang melirik antara cemas, heran, dan tertawa geli. Lucu waktu mengingat-ingat bagaimana Rio mencoba menenangkan empat cewek disekitarnya padahal dia dengan leluasanya memegang atau dipegang cewek-cewek, dipeluk atau memeluk cewek-cewek. Hahaha. Mengerikan, aneh, dan lucu sekali.

 

Bersyukur, Alhamdulillah. Gempa itu tidak meluluhlantakkan bangunan-bangunan di sekitar seperti yang terjadi di aceh, tidak menimbulkan tsunami meski berpotensi tsunami seperti yang terjadi di aceh. Gempa itu menghoyak Sumatera di ambang Ramadhan. Mungkin untuk memperingatkan kita.

 

Malam itu saya masih was-was akan gempa susulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s