Ahsan, Siswa SLTP Sumbawa Ingin Jadi Sastrawan, Batalkan Cita-Cita Jadi Dokter

Suasana ruang aula sekolah itu riuh-rendah, ketika Ahsan, 13 tahun, bercelana pendek, maju sebagai penanaya terakhir dalam acara Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya di Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, pertengahan tahun 2002.

Acara ini untuk siswa Sekolah Menengah Umum, Madrasah Aliyah dan Pesantren yang sederajat. Ahsan anak SMP, menyelip di antara peserta. Dia maju bertanya sebagai penanya terakhir, berseragam SMP dan bercelana pendek. Aula yang dipenuhi siswa SMU bercelana panjang, riuh-rendah. Tapi mereka terdiam ketika siswa 13 tahun yang rasa percaya dirinya kuat itu, menyampaikan kalimat-kalimatnya yang teratur.

“Saya sudah mendengar bapak-bapak para sastrawan membicarakan karya sastra. Saya sudah mendengar cerita para sastrawan mengarang, dan apa faedahnya untuk kita semua. Saya sangat tertarik. Cita-cita saya adalah menjadi dokter. Di sini, sekarang, saya mengganti cita-cita saya. Saya ingin menjadi sastrawan seperti bapak-bapak, kalau sudah besar nanti?”

Hadirin bertepuk tangan, dan terdengar ada yang bersuit-suit.

 

Dokter Tapi Juga Sastrawan

Sesudah secara berurutan pertanyaan di jawab tibalah giliran jawaban untuk penanya penghabisan. Giliran menjawab diberikan kepada saya. Saya pangil Ahsan ke panggung. Maik saya dekatkan ke mulutnya.

?Betulkah engkau ingin jadi sastrawan kelak??

?Ya, pak.?

?Kenapa??

?Kedengarannya menarik, pak. Asyik kalau pandai mengarang buku. Bisa jadi orang terkenal, masuk tivi.?

?Kamu suka baca??

?Suka, pak. Saya suka baca.?

?Kamu bilang tadi, sebenarnya cita-citamu ingin jadi dokter.?

?Ya, pak.?

?Bagaimana angka rapormu??

?Lumayan baik, pak.?

?Kamu suka matematika??

?Suka, pak. Angka saya bagus.?

?Orangtuamu bekerja di mana??

?Ayang saya guru di SMP.?

?Ibumu bekerja atau di rumah??

?Ibu saya guru juga. Guru SD.?

?San,? kata saya. ?Nah, ini bapak kasi nasihat, ya.?

?Ya, pak.?

?Begini. Cita-citamu jadi dokter itu bagus. Teruskan. Baik itu. Tapi jangan digagalkan. Kamu anak guru. Angka matematikamu bagus. Kamu suka baca sastra. Teruskan. Baik itu. Tapi kalau kamu sudah bercita-cita jadi dokter, jangan digagalkan karena kamu ingin jadi pengarang. Kedua-duanya itu bisa digabung, lho.?

?Bisa, pak?? tanyanya, kelihatan heran, menengadah memandang saya.

?Iya, bisa,? Jawab saya meyakinkan dia. ?Kenapa tidak. Bapak yang sudah melakukannya. Kamu jadilah dokter, tapi juga menulis. Teruslah berlatih. Mungkin kamu bisa menulis sastra, tapi kalau tidak, kamu juga bisa menulis buku tentang penyakit, atau tentang mengobati orang sakit. Malah lebih hebat. Dokter, tapi juga penulis, bayangkanlah itu.?

?Ya, pak.?

?Nah, bagaimana?? tanya saya. ?Masuk akal, kan? Jadi, jangan ganti cita-citamu. Tapi tambahkan jadi sastrawan sebagai cita-citamu nomor dua.?

?Ya, pak. Terima kasih, pak.?

Kami bersalaman, berpotret dan hadirin bertepuk tangan.

 

Dikutip dari : http://www.kongresbud.budpar.go.id/taufiq_ismail.htm

 

Ini tulisan bagus, bacaan bagus, pertanyaan dan jawaban bagus.

Saya haru membacanya sebagaimana saya adalah seorang yang hampir memiliki pandangan sama dengan Ahsan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s