Harapkan Pelajar Cintai Budaya Minang

Pekan Budaya Sumatera Barat (PKSB) memang telah usai. Dua artis Minang yang sudah dikenal masyarakat akan humornya, Ajo dan One memberikan komentar seputar iven tersebut. Memang minggu lalu beberapa reporter P’Mails turun lapangan lagi hoki-hokinya ketemu ama artis.
Pekan budaya Sumatera Barat yang berlangsung selama seminggu (8s/d14/7) yang pastinya menampilkan seni dan budaya Sumatera Barat. Iven yang diselenggarakan ini tentunya menarika minat masyarakat untuk mengunjunginya. Lalu bagaiman menurut Ajo Andre, “Pekan budaya ini istilahnya adalah alek nagari Sumatera Barat. Dengan begini, kita bisa melihat keanekaragaman seni dan budaya yang ada di Sumatera Barat. Setiap kabupaten dan daerah kan memiliki spesifik yang berbeda-beda masing-masingnya baik itu keseniannya, masakannya, peninggalannya, dn lain sebagainya. Selain itu, mungkin ada keanekaragaman nagari kita yang hampir punah jadi, di pekan budaya ini bisa ditampilkan kembali untuk melestarikannya. Sementara itu One menambahkan, “Bagi pengunjung non Minang dapat mengetahui seputar seni dan budaya Minang.”
Waktu yang seminggu itu mungkin cukup atau nggak ya. Kalau menurut Ajo waktu yang yang di sediakan selama satu minggu itu belum cukup, lantaran penampilan seninya yang tampil tidak satu ruang dan waktu. One turut mendukung pendapat Ajo, “Lokasi pertunjukan yang “berserakan” itu kurang fokus. Misalnya pertunjukan tradisional di lokasi A, panggung hiburan di lokasi B, jadi waktu pengunjung habis di jalan aja karena nyarinya.”
Masalah lokasi pelaksanaannya Ajo berpendapat, “Seharusnya pekan budaya ini tidak hanya dipusatkan di Padang saja tapi juga di daerah seperti di Payakumbuh, Pariaman, Pesisir Selatan, dan kabupaten lainnya. Jadi, warga-warga yang ada di kabupaten dan kota itu bisa melihat alek nagari daerah mereka sendiri.” Sedangkan One mengaharapkan agar pekan budaya disiplin terhadap waktu. One memiliki pengalaman ketika mengunjungi pekan budaya di malam harinya. “Waktu One mengunjungi pekan budaya pada malam hari, dalam jadwalnya ada penampilan seni tradisional pukul delapan, setelah One menunggu cukup lama yang mau tampil belum juga muncul. One bingung dan akhirnya meninggalkan lokasi.” One menambahkan lagi kalau di gerbang itu dibuatkan schedulle dengan ukuran jumbo agar pengunjung bisa melihat dan bisa milih pertunjukan yang diinginkan dan bisa langsung ke lokasi.
Menutup wawancara One berpesan pada generasi muda dan para pelajar seiring dengan diadakannya pekan budaya. “One menghimbau generasi muda sekarang (Sumatera Barat) agar menghidupkan kembali seni dan budaya Minangkabau yang mulai dilupakan. Malahan lagu Minang sekarang kurang diminati lagi. Ini dampak negatif dari kecanggihan teknologi. One sangat berharap sekali, bila ada lomba maupun festival lagu Minang maupun yang sarat akan seni dan budaya Minangkabau, kalau dapat setiap sekolah ikut serta. Dan marilah sama-sama kita tanamkan jangan terbawa arus negatif globalisasi. (Rahmadanil, Magriza Novita Syahti, Nilna Rahmi Isna dan Dedet Pratama/SMAN 8 Padang)

diterbitkan di Tabloid Pmails edisi 96, 22 – 28 Juli 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s