Tiga Job Satu Hari

Senin, 9 Juli 2007, sepertinya menjadi hari yang melelahkan. Saya sampai di redaksi. Sudah banyak yang datang. Rencananya saya, Danil, Fresti, Opie, Arif, dan Dedet mau ke Pekan Budaya jam 13.00. Mau ngelanjutin tugas yang tertunda kemaren.

Tapi sekitar jam 12an, ada rombongan tamu yang datang ke Pmails. Katanya dari Lima Puluh Kota. Kak Maya, sekretaris Pmails, kelimpungan karena tanpa Om KW dan Bang On. Syukurlah, tak lama setelah kak Maya memperkenalkan redaksi Pmails yang ada, Om KW datang. Om KW pun ceramah panjang lebar seperti biasanya. Hingga akhirnya sampai ke sesi pertanyaan. Setahu saya dari awal-awal, jika ada tamu rombongan yang datang ke Pmails, pertanyaan selalu itu ke itu saja. Bagaimana cara membagi waktu antara Pmails dan sekolah? Bagaimana cara menulis yang baik? Bagaimana cara masuk Pmails? Sampai-sampai saya sudah hapal apa yang akan saya jawab nanti. Oh ya, nama sekolah tamu kita kali ini aga susah menghapalnya SMAN 1 Lareh Sago Halaban. Om KW berulang kali melakukan kesalahan menyebut nama itu. “Disingkat SMA Lasahan saja, Pak,” ujar salah atu dari mereka. Dan jadilah, kita menyebutnya SMA LASAHAN, LAreh SAgo HalabAN.

dscn1408.jpg

Hmm, habis photo2 dengan rombongan, kita pun photo bareng Pemimpin Redaksi Pmails, Bapak bijak yang kita segani, Om KW tercinta.

rscn1456.jpg

Lagi, Pmails kedatangan tamu. Beliau seorang Minang yang telah lama menetap di luar Indonesia. Amerika (14 tahun), Singapura (2 tahun), dan Australia (14 tahun). Hingga kini ia masih berdomisili di Australia. Cuma sekarang lagi kangen kampung halaman. Bapak itu bertubuh kecil tapi berotak briliant. Namanya Pak Ismet. Ia adalah seorang dosen Bahasa Indonesia yang kini mengajar di Deakin University, Melbourn, Australia. Kita yang berenam, nilna, dedet, opie, arif, danil, dan fresti, dikasi waktu satu jam untuk wawancara beliau. Kita pun wawancara acak, tanpa konsep, mungkin wawancara ini lbih tepat disebut mengobrol. Pak Ismet bercerita tentang kisah hidupnya, sistem pendidikan di Australia, hobi menulisnya, hingga hobinya berkebun. Dalam gurauan, Pak Ismet mengajak kita bertujuh (tambah kak Maya) untuk mampir ke kebunnya di Melbourn. “Kita ngobrol sambil makan apel,” katanya. Pak Ismet ternyata tidak hanya sekedar mengunjungi Pmails, ia punya gagasan untuk membuat Pmails menjadi tabloid bilingual. Maksudnya, Pmails dicetak dua bahasa, Inggris-Indonesia. Maksudnya lagi, siswa-siswi di Australia mengirimkan tulisan ke Indonesia berdasarkan topik yang ditentukan Pmails di Padang. Kemudian, kedua tabloid, inggris-indonesia, dicetak di Padang. Pmails versi Inggris dan Indonesia yang telah dicetak dikirim ke Australia. Dengan begini, orang Australia bisa baca koran kita dan orang kita bisa baca koran mereka lewat perspektif orang Australia dengan bahasa Inggris.
Kedengarannya, rencana tersebut “wah” sekali. Reporter Pmails berlonjak2 karenanya. Tapi, itu baru rencana. Semoga cepat terealisasi! Maju terus, Pak Ismet!!!

dscn1428.jpg

Jam dinding menunjukkan pukul 17.00. Saya, Danil, Fresti, Dedet, Opie, dan Arif masih semangat kerja. Kita pun ke pekan budaya, tak apalah ngaret 4 jam, toh pekan budaya masih ada 5 hari lagi. Sampai di Pekan Budaya, lumayan banyak yang bisa diwawancarai. Saya yang rencananya mau wawabcara Wisran Hadi gagal karena Pak Wis lagi ada di Bukittinggi. Eh, lagi muter2 ketemu Ajo Andre. Ya udah kita wawancara dan photo bareng.

dscn1448.jpg

Menjelang senja, kita tak lupa ke pantai, photo-photo ria sambil liat sunset.

dscn1452.jpg

Sampai di rumah, saya terkapar.

One thought on “Tiga Job Satu Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s