Sesuatu yang Mendera

Hari ini, satu hari setelah SPMB itu berlalu. Berbagai bimbel telah menyediakan kunci spmb. Bagaimanapun, anak-anak DC tidak sanggup untuk tidak tergiur memeriksa jawaban mereka masing-masing. Aku? Setidaknya aku sedikit tenang dengan skor yang aku miliki. Tapi, ketenangan itu terusik dengan skor yang dimiliki orang lain. Teman-teman dekatku mencapai skor lebih tinggi dari aku. Memang, bukan semua dari mereka yang jadi sainganku. Tapi, tetap saja ketakutan dan kecemasan menghantuiku. Kupikir, cuma aku saja yang bisa merasakannya. Ternyata tidak. Prije, Beni, Desi, Aulia, dan teman-temanku yang lain juga meresakan hal yang sama.

Sampai-sampai, Prije berkali-kali sms aku. Berapa skorku?, Berapa PassingGrade FKM?, Bisa nggaknya dy lulus?, dan di akhir kalimatnya, “Prije cemas, Nil.” Prije memang memilih fakultas yang sama denganku : Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAND. Bedanya, aku pilihan pertama dan Prije pilihan kedua. Tentu saja ketakutan begitu mendera Prije. Aku mencoba tenang, “Prije, Na yakin kok klo pje lulus. Kan na jg ngarep lulus. KlO Prije g’ lulus, Na g lulus jg dunk. G mw.” Mungkin setelah membaca sms ku itu, Prije sedikit tenang. Dia tidak lagi membalas sms-ku. Aulia juga begitu, nilainya sedikit di atas batas minimal, awalnya ia ragu, tapi akhirnya dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa lulus.
Ayah. Ayahku yang biasanya heboh menghitung-hitung nilaiku sepertinya juga sudah lelah. Ia kini memilih menunggu tanggal 2 agustus daripada menghitung-hitung kemungkinan yang tak pasti. Semua keluargaku juga meminta agar aku tidak memikirkan hasil spmb-ku. Mereka mengiming-imingi aku dengan liburan-liburan seru. Aku sedikit terpengaruh. Agaknya anak-anak DC (teman-temanku) juga berhenti memikirkan spmb ini. Besok Aulia terbang ke Aceh. Ia liburan di rumah
orang tuanya di Meulaboh. Aku sempat jalan-jalan dengannya hari ini. Katanya, “1 jam buatku dan 1 jam buat ‘dia’.” Aku tersenyum simpul saja. Ada sesuatu dibalik kata-katanya.
Sebulan lagi hasil itu keluar. Sebenarnya, skor anak-anak DC sudah ‘memuaskan’, hanya saja belum ‘dengan pujian’. Kita tentu saja menginginkan yang terbaik.
Sesuatu yang mendera anak-anak DC sudah mereda. Semoga kita lulus SPMB semuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s