Guru-guru Juga Harus Semangat

DEMI melepas penat setelah seminggu berkutat dengan soal-soal ujian yang melelahkan, banyak OSIS yang mengadakan acara classmeeting di sekolah mereka. Acara ini, selain bertujuan untuk menyegarkan kembali otak siswa, juga sebagai ajang kompetisi sehat yang tentu saja berguna untuk melatih kemampuan sosial mereka.Sembari menunggu hasil ujian, siswa-siswi dibimbing membentuk sikap sportivitas mereka lewat pertandingan-pertandingan yang ada di dalam classmeeting. Classmeeting juga menjadi salah satu alasan siswa untuk tetap datang ke sekolah meskipun proses belajar mengajar telah berakhir.


Para guru di sekolah juga turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Menurut Ibu Arni, setiap tahunnya acara classmeeting selalu menjadi acara yang menyenangkan bagi siswa. Begitu juga dengan Ibu Syofyeti, Ibu yang mengajar di SMPN 2 Lubuk Alung ini mengatakan bahwa selain dapat menyenangkan siswa, classmeeting juga bermanfaat untuk mengembangkan bakat dan mempererat silaturahmi antar siswa dan antar siswa-guru. “Lewat classmeeting juga, akan tampak bakat-bakat siswa yang perluy dikembangkan,” tambahnya.
Berbagai acara diadakan di sekolah dalam rangka classmeeting ini, seperti sepakbola, Voli, dan takraw untuk kegiatan olahraga. Ada juga lomba puisi dan untuk kegiatan seni. Bahkan menurut Ibu Arni, ada lomba berjalan sambil berjoget segala di sekolahnya.
Semangat dan antusias siswa jelas terlihat pada masing-masing siswa saat mereka terlibat dalam suatu perlombaan. Kekompakan teman-teman dalam satu tim dan sorakan teman-teman yang mendukung dari luar lapangan menambah asyiknya acara tersebut. Gelak tawa juga menghiasi wajah mereka. Ibu Yohana yang merupakan guru SMPN 10 Padang mengangguki hal ini. “Siswanya terlihat kompak dan semangat,” ujar Ibu Yohana.
Kebanyakan pelajar senang dengan kegiatan-kegiatan yang berbau seni dan olahraga. Lomba-lomba yang menimbulkan semangat dan kegembiraan seperti sepakbola, dance, dan berjalan sambil berjoget, sangat diminati siswa. “Murid-murid di sekolah kami suka sekali dengan lomba berjalan sambil berjoget, mereka semua terlihat ceria,” cerita Bu Arni.
Bagi Ibu Arni dan Yohana, sportif adalah kekompakan antar siswa. Sedangkan Ibu Sofyeti mengatakan sportif adalah suatu keadaan yang dilaksanakan dengan bersuka ria, gembira, dan tidak merasa keberatan dengan acara yang dilakukan tersebut. Pendapat guru-guru ini mendekati kebenarannya karena sportif adalah sikap mau menerima kekalahan dan kemenangan orang lain. Sikap sportif akan menciptakan kekompakan dan suasana gembira pada diri siswa. “Para siswa melaksanakan dengan sepenuh hati dan bersemangat,” ucap Bu Sofyeti membuktikan kesportifan siswa-siswinya dalam classmeeting.
Namun demikian, kecurangan-kecurangan tetap pernah terjadi selama classmeeting . Kecurangan-kecurangan seperti mendorong lawan pada sepakbola, menutupi kesalahan penilaian pada lomba nyanyi, atau menunjukkan jawaban pada cerdas cermat, adalah segelintir sikap tidak sportif yang tertangkap oleh para guru. Biasanya siswa-siswa yang melakukan kecurangan ini akan ditindak dan dinasehati oleh guru agar tidak melakukan perbuatan itu lagi. “Classmeeting kan acara dari kita untuk kita, jadi kenapa mesti curang,” ucap Ibu Sofyeti menyikapi. “Jika ada yang berbuat curang, maka siswa tersebut akan dikeluarkan dari pertandingan dan digantikan oleh siswa lain,” jelas Ibu Arni.
Sebenarnya, acara classmeeting tidak sepenuhnya dilakoni oleh para siswa. Guru-guru pun diperbolehkan unjuk gigi dalam kegiatan ini. Dengan demikian, kekompakan tidak hanya terjadi antar siswa saja tetapi juga antar guru dan siswa. Akan tetapi, tidak semua guru pula yang mau ikut serta bertarung dengan siswa-siswinya. Mungkin mereka sudah cukup senang melihat kegembiraan murid-muridnya atau jangan-jangan malu jika kalah bertarung. Kata Ibu Arni, classmeeting tidak diwajibkan untuk guru makanya tidak ada pihak guru yang terlibat dalam classmeeting.” “Selain itu, guru bertugas mengawasi dan memberikan spirit kepada siswa,” sambung Bu Sofyeti.
Demi suksesnya acara, para guru memang diwajibkan untuk mengawasi tindak-tanduk siswa-siswinya. Karena jika tidak, classmeeting bisa berputar jalur dari ajang kompetisi sehat menjadi kompetisi adu hantam. Para guru juga tidak harus ikut serta bermain dan berlomba dengan siswa. Tapi, bukan berarti guru bisa lepas tangan dengan kegiatan yang memacu sportivitas ini. Semangat dan perhatian para guru terhadap siswa-siswinya juga menjadi andalan agar classmeeting dapat berjalan dengan penuh keceriaan dan kekompakan. (Dirangkum oleh Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang, atas laporan Suci Amelia Harlen/SMAN 1 Padang, Sufia Vonisa, Suci Ramadani/SMPN 10 Padang)

Laporan Utama Tabloid Pmails Edisi 92

One thought on “Guru-guru Juga Harus Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s