Coret-coret Seragam Itu, Seni Hari Ini

narsis-lo-yah069“Diharapkan kepada siswa-siswi untuk tidak mencorat-coret seragam sebagai bentuk dari ekspresi kegembiraan.” Suara itu sayup-sayup terdengar diantara gemuruh siswa yang bersorak merayakan kelulusan. Sebagian siswa sudah terlanjur mencorat-coret bajunya. Cat piloks beragam warna berhamburan di udara. Spidol-spidol berpindah dari tangan ini ke tangan itu. Dijamah pun tak masalah asalkan tanda dan kata tertera. Lalu, barisan konvoi pun mulai dibuka. Jalanan padat menjadi arena.


Wajah-wajah itu, kegembiraan itu, dan sorakan itu. Terkadang kita ikut bahagia dengan mereka. Sama-sama meluapkan kebahagiaan bersama mereka. Karena mungkin salah satu dari mereka adalah kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, kerabat kita, atau teman-teman kita. Kita tertawa bersama. Cat piloks kembali bertebaran di udara, spidol-spidol berserakan di mana-mana, asap knalpot membumbung ke angkasa.
Inilah euforia.

Sayang sekali, kegembiraan itu berbuah hura-hura. Aksi mereka berdampak reaksi massa. Setidaknya bapak-bapak menggeleng-gelengkan kepala dari balik kaca kantor mereka atau ibu-ibu memancarkan ekspresi berang dari atas angkutan kota.

Sepertinya lulus SMA merupakan akhir dari pejuangan mereka. Sepertinya hari itu adalah hari terakhir mereka berusaha. Sepertinya mereka lupa dengan hari berikutnya.

Bulan Juni setiap tahun, aksi serupa berjalan dengan tak semestinya.

Mereka bilang ini tradisi.

Tradisikah? Tidak.

Katakan bahwa itu adalah seni. Seni yang menggambarkan kata emosi. Emosi yang hanya dapat diungkapkan hari ini. Hari ini dimana kegembiraan terpancar dari wajah kami. Kami menyebutnya sebagai seni.

Coret-coret baju adalah kenangan tersendiri. Berangkai kata dituliskan di baju seragam yang kita kenakan untuk terakhir kali. Tanda tangan, pesan kesan, puisi, ungkapan cinta, seruan semangat, semuanya menjadi sesuatu yang sulit sekali didapatkan. Terkadang, kata-kata kotor dari sahabat yang tertulis di saku baju membuat kita tertawa geli. Rayuan maut pemuda gombal atau gadis centil di lengan sebelah kiri membuat kita sedikit bergidik. Sedikit bubuhan tanda tangan dari sang pujaan hati di pundak sebelah kiri membuat kita begitu mencintai bagian sebelah itu. Cerita-cerita canda atau catatan kriminal ikut terukir tepat di bagian punggung. Tanggal hari ini, nama kelas, nama sekolah, guru yang paling dibenci, tempat nongkrong paling diminati, makanan paling disukai, dan Dia yang kita cintai, menjadi hal-hal wajib untuk ditulisi. Kata “LULUS” berukuran besar tertulis tepat di dada antara giwang-giwang seragam sekolah.

Setidaknya, “Jangan lupakan aku” menjadi kalimat paling favorit yang beredar di seluruh penjuru baju.

Akankah ada hari lain bagi mereka untuk melakukan hal ini? Masihkah kita melarang mereka mengukir kenangan bersama selama ini? Apa salahnya kita membiarkan mereka bergembira sekali ini?

Sekalipun ini telah menjadi tradisi, tapi ini seni yang hanya berlangsung sekali.
Itu seni. Dan jangan berbuat macam-macam dengan seni. Aturan juga ada pada seni, ketertiban juga dimiliki seni.

One thought on “Coret-coret Seragam Itu, Seni Hari Ini

  1. Corat-coret baju merupakan tradisi (seni) yg penting (menurut saya) karena suatu saat baju (pakaian) yg dicorek-coret itu mengingatkan kita waktu sekolah dulu.
    Sekali-kali saya mengingat memori waktu SMA lewat seragam yg dicoret-coret tersebut sehingga membuat saya tersenyum dengan kelakuan selama di SMA en bisa mengurangi stress saat bekerja 🙂

    ———-
    nilna say : setuju. Seragam itu kini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s