Kulepas Kedokteran

Akhirnya, aku melepas kedokteran, fakultas yang aku impi-impikan selama ini. Pak Ari, pembimbing aku dalam pemilihan jurusan, menggeleng memelas di hadapanku. “Nggak kesampaian sama kita, Nilna,” ucapnya. Aku hanya mengangguk-angguk, teringat ayah dan ibuku. Apa kata mereka nanti?

Aku juga sih yang salah. Selama ini malas-malasan. Lebih mementingkan ekstra daripada intra. Penyesalanku selalu berarti kamuflase. Aku mengakui ekstra tak lebih penting dari ekstra. Bukan karena ekstra aku gagal. Dan aku juga tidak gagal. Aku hanya memilih untuk mengalah.
Tak lebih dari lima menit aku bertatap muka dengan Pak Ari. Tak seperti teman-temanku yang biasanya bisa bercakap-cakap lama, bertanya-tanya banyak, atau bertengkar hebat dengan Pak Ari. Aku juga tidak tahu persis apa yang sebenarnya mereka bicarakan sehingga teman-teman yang mengantri di luar mengutuk-ngutuk karenanya. Aku tersenyum dengan pilihanku sendiri. Begitu juga Pak Ari yang kuat meyakinkanku. Kesehatan Masyarakat dan Agrobisnis cukup diperhitungkan. Aku memilih kedua jurusan itu untuk pilihan pertama dan kedua dengan meninggalkan fakultas kedokteran.
Aku mengingat masa kecilku. “Anak-anak kalau udah besar mau jadi apa?,” teriak Bu Guru. “Presiden…, Polisi…, Insinyur…, Pilot…, Doktelllll….” “Doktel, Bu Gulu” Aku berteriak sekeras-kerasnya kadang sampai berantem dengan teman lainnya yang mau jadi dokter juga. Aku juga ingat kata-kata sahabat ayahku ketika aku menjenguk pamanku di rumah sakit. “Nilna kalau sudah besar mau jadi apa? Jadi dokter saja ya. Kalau buat Nilna, kayaknya bisa deh masuk kedokteran. Otak kamu kan encer. Jangan jadi wartawan ya. Tidak sejahtera ntar hidup kamu.” Aku cuma tersenyum dengan semua itu. Aku masih SMP saat itu. Setiap aku bertemu dengan orang-orang di sekitarku, ia menginginkan aku menjadi seorang dokter. Pun aku selalu berkata ingin jadi dokter pada setiap orang yang aku temui.
Hmm, keputusanku itu tinggal menghitung hari. Tak cukup 30 hari bagiku untuk menentukan akan menjadi seorang dokter atau tidak. Aku tidak takut dengan darah, mayat, jarum suntik, tidak alergi dengan bau rumah sakit, dan aku bukan seorang penjijik. Aku cukup kuat mental untuk kuliah di fakultas kedokteran. Aku juga tidak bodoh. Tidak ada yang bodoh di dunia ini. Otakku pintar, IQ yang aku miliki sempurna, dan kemampuanku terukur. Masalahnya, nilaiku makin lama makin tidak memuaskan. Bukan karena kadar otakku yang berkurang. Tapi karena aku berada pada pilihan dimana aku harus mendahulukan dan mengemudiankan sesuatu.
Aku suka suasana rumah sakit. Sekarang, aku melepas kedokteran. Aku bersedih sebentar. Tapi kemudian bangkit lagi. Tidak harus menjadi seorang dokter untuk sukses. Ini pilihanku dan ini hidupku.
Cita-citaku menjadi seorang Dokter tak kan sirna. Kesempatan untukku masih ada. Tinggal beberapa hari lagi aku meraih kesempatan itu. “Miracle” Aku mengharapkannya. Tapi tidak untuk saat ini. Mungkin esok, dua minggu lagi, atau setahun lagi.
Kalau aku bukan seorang dokter, jadi istri dokter saja. Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s