Olok-olok Harus Segera Dimusnahkan

Populernya budaya olok-olok di kalangan pelajar juga tak lepas dari perhatian para guru dan pegawai sekolah. Bahkan, ada sebagian guru yang ikut-ikutan memakai nama “alias” itu kepada murid-muridnya. Hasilnya, hubungan antara guru dan murid terjalin semakin erat dan akrab. Loh kok?. Disinilah terjadi kesimpangsiuran olok-olokan, karena tak hanya berpengaruh negatif tapi juga sedikit mengandung unsur positif. Bagaimana guru menyikapinya?.


Jauh sebelum kita dilahirkan, olok-olokan sudah membudaya dikalangan masyarakat baik anak-anak, remaja, dan bahkan orang dewasa. Olok-olokkan ini jelas bukan hal yang positif. Ibu Rezki Liana Sari misalnya. Guru PL-UNP SMKN 8 Padang ini menyatakan pernah mendapat olok-olokkan dari teman semasa sekolahnya dulu. Akan tetapi panggilan tersebut tidak begitu melukai hatinya, bahkan ia merasa senang dengan panggilan tersebut. “Terkadang gelar itu dapat menambah keakraban kita dengan sesama,” komentar beliau. Pengalaman serupa tapi tak sama dialami oleh Ibu Dra. Yunita Asra dari MAN 1 Padang. Guru BK dan Sosiologi ini mengaku tidak pernah mendapat olok-olokkan dalam bentuk nama, tapi istilah. “Sewaktu Ibu sekolah dulu, Ibu selalu menggunakan istilah-istilah yang asing di telinga. Sehingga banyak teman-teman yang tertarik dan selalu mengucapkan istilah tadi kepada Ibu,” kenang beliau. Ibu Ety Herawati lain lagi, Guru BK SMA SP Padang Panjang ini pernah dijuluki “tilang”. Awalnya Bu Ety marah-marah karena ia pikir, ia disama-samakan dengan burung. Ternyata maksud “tilang” itu adalah tinggi langsing. Bu Ety pun jadi mesem-mesem. Namun demikian, tetap saja istilah tersebut dikategorikan sebagai bahan dasar olok-olokkan antar remaja.
Dari hasil serbuan para reporter P’mails, sebagian besar guru malah tidak begitu peduli dengan nama (gelar) palsu yang diberikan kepadanya itu. Ibu Yunita lebih menyikapinya dengan berpikir positif bahwa orang yang mengolok-olokkan kita itu pada dasarnya ingin berteman dengan kita. Begitu juga dengan Ibu Rezky. “Cara mengatasinya ya.. memanggil orang tersebut dengan panggilan gelar pula sebagai panggilan akrab,” ungkap beliau. Bu Ety lebih bijak lagi. “Kalau keterlaluan ya marah bahkan emosi. Tapi saya lebih suka nyuekin mereka,” ungkap beliau Sebenarnya, olok-olokkan timbul karena ingin lebih mengakrabkan diri dengan teman lainnya. Jadinya, panggilan olok-olokkan itu lebih menjurus kepada panggilan sayang daripada menghina. Hubungan antar guru dan murid pun juga semakin dekat. Contohnya saja si Yusuf yang dipangil Ucup oleh Bu Yunita. “Karena panggilan itu saya lebih dekat dengan siswa dan siswa juga lebih dekat dengan saya,” jelas guru kelahiran Tanah Datar, 10 Juni 1969 ini. Gelar yang dimaksud tentu bukan gelar yang dapat menyakiti hati siswanya.
Saat ini hampir semua siswa (juga guru) memiliki nama olok-olokkan yang sudah melekat pada dirinya. Adakalanya nama itu disenangi karena tersirat unsur-unsur memuji seperti, master kimia atau bapak fisika tapi tidak sedikit juga yang tidak menerima gelar tersebut menempel pada dirinya. Masalahnya adalah nama atau istilah yang dipakai untuk olok-olokkan itu. Menurut kacamata para guru di sekolah, sebagian besar nama yang dipakai untuk olok-olokkan adalah nama-nama tidak baik yang didasarkan pada fisik dan kepribadian orang tersebut. Misalnya Buncik karena gendut atau kijang karena pelit. Nama-nama ini memungkinkan si pemilik nama terluka, bukannya semakin akrab malah semakin jauh. Seperti yang dialami oleh salah satu guru SMA Pertiwi 1 Padang yang merasa sakit hati oleh panggilan yang diciptakan teman SD nya dahulu. “Ketika itu Ibu sedih sekali sampai menangis. Tapi untunglah esoknya kita saling memaafkan.” Nah lho, gimana kalau ketika itu Ibu dan temannya tidak saling memaafkan?. Bisa-bisa timbul dendam diantara mereka. Waduh, jangan sampai deh!
Guru BK SMA 1 Pertiwi Padang menduga bahwa kasus olok-olokkan “negatif” yang marak dikalangan pelajar sekarang disebabkan oleh kekesalan si murid kepada murid lainnya. Sehingga timbul kesalahpahaman antara mereka dan akhirnya saling mengolok-olokkan. “Tidak masalah kalau masih dalam rangka canda-candaan, tapi kalau sudah mencapai titik serius tentu saja pihak sekolah akan segera menindak lanjutinya,” terang beliau. Olok-olokkan dalam batas-batas bersenda gurau dengan teman sebaya mungkin masih dapat dimaafkan. Tentu saja pelajar harus dapat melihat situasi dan kondisi yang ada. Tapi kenyataannya sekarang, olok-olokkan yang diberikan kepada teman tidak lagi menimbulkan suasana akrab tapi lebih mengarah kepada permusuhan. Wah..wah.. tampaknya budaya olok-olok mesti segera dimusnahkan sebelum dipakai ulang oleh generasi selanjutnya. Tidak ada nama yang lebih baik selain yang diberikan oleh kedua orang tua kita. (Dirangkum oleh:Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang atas laporan Khusnul Khatimah/MAN 1 Padang, Raf-raf Nur Muhammad/SMA Pertiwi 1 Padang)

Terbit : Pmails edisi 55

4 thoughts on “Olok-olok Harus Segera Dimusnahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s