Mengungkap Misteri Virus H5N1

Flu burung merupakan infeksi virus influenza A subtipe H5N1 (H=hemagglutinin; N=neuraminidase) yang pada umumnya menyerang unggas. Virus H5N1 kemudian dapat menyerang manusia lewat perantaraan hewan yang terkena infeksi tersebut. Penyakit seperti ini disebut dengan penyakit zoonosis.


Dilihat dari sejarahnya, flu burung sudah terjadi sejak tahun 1968. Namun, virus ini memuncak pada akhir tahun 2003 yang mana menyebar luas dan menjadi berita nasional di wilayah Asia Timur dan Selatan Impasnya, Indonesia pun tertular virus endemik ini. Kehebohan pertama terjadi pada Januari 2004 dimana dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak besar-besaran di beberapa propinsi Indonesia terutama Bali, Botabek, Jawa, dan Kalimantan Barat. Berita hangat itu bertambah panas pada 19 Januari 2004, dimana pejabat WHO mengkonfirmasikan lima warga Vietnam dan enam warga Thailand tewas akibat flu burung. Seorang bocah berumur 6 tahun dipastikan menjadi orang pertama yang dikonfirmasi meninggal akibat wabah tersebut.
Subtipe H (hemagglutinin) dan N (neuraminidase) digunakan sebagai identifikasi kode. Pada manusia terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2, H7N7, sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N98. Virus H5N1 sendiri merupakan strain yang sangat virulen/ ganas. Virus tersebut bertahan hidup hingga 4 hari di air pada suhu 22°C dan apabila bertahan hingga 1 bulan atau lebih pada suhu 0°C. Akan tetapi virus akan mati jika dipanaskan pada suhu 60 °C selama 30 menit atau 56 °C selama 3 jam dengan bantuan desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodin.
Flu burung atau Avian Flu dapat menular melalui udara, makanan, minuman dan sentuhan. Penularan lewat udara berasal dari kotoran unggas yang menderita flu burung. Penularan lewat makanan dan minuman bersumber dari daging dan telur hewan yang terjangkit flu burung namun tidak dimasak dengan matang. Sedangkan penularan lewat sentuhan biasanya terjadi pada pekerja di peternakan ayam atau kondisi lainnya yang memungkinkan kontak langsung dengan tubuh unggas tersebut.
Gejala umum yang terjadi pada penderita flu burung adalah demam tinggi, batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernapasan atas, infeksi mata, nyeri otot dan pneumonia. Replikasi virus dalam tubuh akan berjalan dengan sangat cepat sehingga pasien perlu mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin. Pertolongan yang biasa dilakukan oleh petugas medis adalah pemberian obat-obatan penurun panas dan anti virus. Diantara antivirus yang biasa digunakan adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase (neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir. Masing-masing dari antivirus tersebut memiliki efek samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu sehingga sangat dibutuhkan opini dari dokter.
Kasus flu burung meningkat dengan cepat terutama di Indonesia. Namun demikian, flu burung bukan berarti tidak dapat dicegah. Pencegahan flu burung bisa dilakukan dengan terbiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Misalnya, mencuci tangan dengan desinfektan setelah bersentuhan dengan unggas, menggunakan pelindung diri seperti masker dan pakaian kerja apabila berada pada peternakan ayam. Untik pencegahan lebih lanjut, pekerja sangat disarankan agar meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja. Bagi para peternak diwajibkan untuk membersihkan kotoran unggas setiap hari. Unggas sebaiknya tidak dipelihara dalam radius kurang dari 10 meter dari lingkungan perumahan atau pemukiman.
Bagi masyarakat umum, disarankan untuk menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Keinginan untuk memasak makanan yang bersumber dari protein unggas harus diimbangi dengan memilih unggas yang sehat serta memasaknya pada suhu ± 800 °C selama 1 menit pada daging dan ± 640 °C selama 4,5 menit pada telur. Makanan sebaiknya tidak didinginkan atau dibekukan karena virus akan bertahan lebih lama pada suhu dingin.
Diantara kebijakan pemerintah dalam rangka menghindari penyebaran flu burung secara meluas adalah memusnahkan seluruh unggas yang diduga terjangkit flu burung dengan cara dibakar. Sedangkan pada unggas yang masih sehat diberikan vaksinasi secara menyeluruh. Lebih lanjut, pemerintah melakukan tindakan biosekuriti (pengawasan secara ketat terhadap lalu-lintas unggas produk unggas dan limbah peternakan unggas) untuk daerah yang bebas flu burung.
Dari data terakhir hingga 31 Oktober 2006, WHO telah mencatat 256 kasus dengan 152 kematian manusia pada negara-negara di ASIA ditambah beberapa negara di Afrika. (Berbagai Sumber/ Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang)

Halaman Insting Tabloid Pmails edisi 63

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s