Malas

Saya tidak tahu, kenapa malas senang sekali dekat-dekat dengan saya. Ingin saya usir malas itu, saya depak ke luar kamar, dan saya bisa hidup tentram. Tapi, sama saja. Sekalipun malas sudah saya tendang jauh-jauh, malas kembali datang. Kali ini bukan malas yang ingin dekat dengan saya tapi saya yang memanggil malas.

“Nay, tolong Ibu menanak nasi, ya?,” pinta ibu kepada saya yang sedang membaca koran sambil tidur-tiduran.

“Malas, Bu,” seru saya.

Nah, kalau sudah begitu, bagaimana malas tidak datang juga pada saya. Setiap hari saya panggil-panggil malas. Mungkin malas juga sudah malas menyambut panggilan saya. Sore ini, dalam kemalasan saya buka koran di balai-balai rumah. Ah, malas saya membaca koran. Beritanya, berita malas-malasan semua. Itu ke itu saja. Kemarin tentang Bapak yang korupsi, hari ini tentang Bapak yang korupsi, besok mungkin tentang Bapak yang korupsi lagi. Kangen saya, kapan saya bisa punya bapak yang tidak korupsi?

Dari ruang TV, ibu sudah berteriak lagi minta tolong. “Nay, tolong lihatin jam dong!” Saya yakin ketika itu ibu sedang duduk menonton TV sementara jam dinding tepat di atas kepalanya. Ibu pasti malas mendongakkan kepala sejenak karena sedang asyik menonton TV. Entah ini penyakit turunan atau tidak, yang jelas saat ini saya lagi malas dan ibu juga malas.

“Nay malas, Bu,” ucapku seperti biasanya.

Astaga! Saya lupa. Besok ujian sekolah. Saya panik bukan main. Sepenuh hari saya belajar. Menyesal saya. Kemarin saya malas-malasan belajar. Padahal ibu selalu bilang belajar tidak sepenuh hari tapi setiap hari-sepenuh hati. Saya belajar tergesa-gesa, semua buku saya buka, hingga ke kamar kecil pun buku tetap saya bawa.

Kemarin entah kemarin yang keberapa (saya malas mengingatnya), saya sms semua teman-teman saya. Saya minta tolong pada mereka. “Tlg beri saya dukungan. Saya mw melawan malas,” begitu isi smsnya. Saya periksa seluruh inbox. Ternyata banyak juga teman yang peduli dengan saya. Prima, teman yang selalu bersikap keibuan di kelas saya mengatakan, “Nayla jgn malas. Ingat masa depanmu ingat ortumu, ingat cita2mu. Ok, jgn malas lg y. Masa depan ada d tangan km.” Ardi, murid terpintar di kelas saya membalas, “Chayo Nayla, makan saja soal2ny. Klu g habis bawa plg. Kita makan sama-sama.” Winny, gadis tercentil di kelas bilang, “Nayla, sblm blajar liat foto idola qm dulu y. Sprt aq yg liat foto cowok aq dulu. Qm kn g pny cowok jd….” Saya malas membaca kelanjutan smsnya. Saya beralih ke sms lain, “Jgn tny saya. Saya mls.” Nah, saya setuju dengan sms terakhir ini.

Akhirnya ujian tersebut saya jalani juga. Saya coba rileks, sok siap, dan bersikap tenang. Saya buka lembaran pertama soal. Astaga, soal apa ini?. Tiga tahun belajar matematika di SMA, tapi satu soal saja sudah panik saya menjawabnya. Saya ambil inisiatif. Saya baca soal dari belakang. Katanya, orang buat soal suka bikin kejutan, soal pertama yang susah tapi makin lama makin mudah. Saya balik kertas ke halaman yang paling belakang. Huh, ternyata sama saja. Depan-belakang sama-sama susah. Malas saya membaca soalnya. Melihat saja sudah malas apalagi membacanya. Saya tidurkan kepala saya ke meja ujian. Pegang pensil sambil baca-baca bismillah mungkin saja dapat hidayah.

Ini mungkin memang sudah takdir saya. Apa-apa malas. Ujian tadi, kemarin, dan esok pasti saya kerjakan. Saya kerjakan dalam kemalasan. Setiap hari saya malas. Disuruh belajar malas, disuruh bantu orangtua malas, bahkan disuruh makan, tidur, dan buang air pun saya malas. Entahlah, sepertinya saya sudah malas hidup. Orang lain pun malas melihat saya hidup.

***

Sebulan kemudian.

Hari ini pengumuman kelulusan. Saya malas pergi ke sekolah. Teman-teman saya banyak, baik, dan rajin semua. Mereka yang akan memberi tahu saya.

“Drrt…drrt….” Ini yang saya tungu-tunggu sedari tadi. Saya angkat telepon dengan malas-malasan.

“Halo.”

“Halo Nay, kamu lulus.”

“Hah.. yang bener??! Hore.. hore…”

“Tapi, kata kepsek kamu harus sekolah setahun lagi.”

“Sekolah? Setahun lagi? Buat apa?.”

“Belajar agar tidak malas.”

“Apa?!!!!!!”

“Nay?, Naay, kamu masih hidup??!”

Halaman Sastra dan Budaya Tabloid Pmails edisi 89, 3 Juni 2007

One thought on “Malas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s