ke_Hidup_SO_siaL_an

Yah, kehidupan sosial. Entah kenapa, kata-kata socialism acap kali terdengar oleh saya. Ini dimulai dari english course saya yang pelajarannya bertemakan Autism, Child Labour, dan Fortune Teller. Sejak saat itu, kata-kata sosial, kesosialan, kehidupan sosial. dan hidup sering beredar di sekeliling saya.

Ternyata memang parah. Kemiskinan Indonesia meningkat pesat, kelaparan semakin menjadi-jadi,  bencana tak kalah bertubi-tubi. Tapi tetap saja, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, yang melarat terlalu sering melayat, yang konglomerat sering ikut rapat-rapat. Sama-sama ‘at’ tapi sayang tak bermartabat.
Orang-orang biasa bahkan sudah tak biasa lagi melakukan kebiasaan.

Semua orang, berita koran,  headline news, dan para pengguna angkotan umum bergosip tentang kemiskinan, anak jalanan, dan pengemis. Dan perempatan lampu merah semakin dijejali pengamen, peminta, serta orang tua yang memproyekkan anaknya sebagai aset pencari nafkah. Belum lagi tempat umum yang semakin banyak preman, pencopet, pengemis, dan pekerja anak di bawah umur. Semua itu telah membebani otakku, membuatku berusaha keras menggunakannya. Tapi malah, ia meluncur ke hatiku, hati yang telah lama menginap di tubuhku, yang baru menyadarkanku makna hidup, dihidupi, menghidupi, dan KEHIDUPAN.

Spanduk jalanan memperlihatkan penderitaan. Orang-orang biasa ikut berduka. Tapi, hanya sampai disana. “Kasihan” setidaknya cuma itu kata terucap. Lalu kembali lagi seakan tak terjadi apa-apa.
Termasuk saya yang hanya bisa berbicara. Ya,  maksudnya menulis.   Berbicara lewat maya namun berkata-kata nyata

Saya teringat lagi pada kesosialan
Terutama, ingat ke-so-sial-an yang hanya bisa dipelajari, diungkapkan, tapi tak tahu apa, bagaimana, siapa, untuk apa, dan dimana itu KESOSIALAN.

Di hatikah?

Tapi saya takut. Saya takut mencoba untuk membantu, menelusuri jalan-jalan kelam kehidupan, mengikuti arus metropolitan. Saya takut, kalau-kalau saya yang nantinya dicegat, dibabat, dibantai dengan tak terhormat.
Saya ragu. Ragu, apakah yang kita lakukan memang benar-benar BENAR. Atau salah-salah SALAH.
Gempa Jogja, tiap jalan mengusung kotak kepedulian. Tapi apa benar untuk jogja? Jangan-jangan omong kosong belaka. Ternyata korupsi sudah benar-benar merata. Pantas saja ia (korupsi,-red) terkenal di Indonesia.
Bukannya tidak bisa berbaik sangka, tapi…….
Semua memang sudah merajalela
Pencurian, pembunuhan, pembakaran habis-habisan, demo tak berketentuan.
Semua kacau balau, negeri teraman tapi tidak nyaman.
Apakah tetap setiap tahun kita mesti menjalani ke-so-sial-an
Jawabnya: Ya..

Karena kau tak kan hidup tanpanya
Tanpa SOsial,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s