Orangtua Melirik Diari

Tidak hanya remaja zaman sekarang. Menulis diari juga menjadi kebiasaan orang tua kita di zaman dahulu. “Saya semasa muda sangat senang mencurahkan perasaan saya ke dalam buku kecil yang dulu saya namakan catatan pribadi,” kenang Ibu Syofia. Ibu yang tinggal di komplek Unand Gadut Padang ini mengaku sering menulis kegiatan hari-harinya di catatan pribadi itu. Begitu juga dengan Ibu Arni, ibu rumah tangga ini suka menulis masalah pribadinya di buku pribadi.
Kini ibu-ibu itu tidak lagi menulis diari. “Sekarang karena saya telah berumah tangga dan memiliki anak maka hal tersebut sudah tidak saya lakukan lagi karena terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga,” kata Ibu Syofia. Sama halnya dengan ibu Yasmin yang beralamat di Indarung. “Saya sudah nggak sempat menulis diari, mungkin diari bagi saya berdoa langsung pada Tuhan.”
Para orang tua ini, kini digantikan oleh anak-anak mereka dalam hal menulis diari. Misalnya Ibu Yasmin, anak-anak beliau juga suka menulis di buku diari. Ibu Syofia juga merasakan bahwa anak-anaknya sudah mulai menuliskan diari, tapi mereka tidak terlalu memperlihatkannya.
Tidak jarang para orangtua ini penasaran dengan apa yang ditulis anak-anaknya di buku diari. Ada ibu-ibu yang mengatakan “boleh” untuk membaca diari anaknya. Ibu Yasmin mengatakan bahwa ia boleh-boleh saja membaca diari anaknya. Pendapat ini tentu saja bertentangan dengan keinginan sang anak yang tidak mau diarinya dibaca oleh orang lain. Beda pendapat ini diklarifikasi oleh Bu Suhartini. Menurut Ibu rumah tangga yang tinggal di Sawahlunto ini Orang tua tidak harus dilarang membaca diari anaknya. Sebab ada anak yang cenderung tertutup pada orangtuanya dan meluapkan segalanya di diari. “Dengan membaca diari anaknya orangtua dapat melihat perkembangan emosi anaknya, juga mengetahui apa yang menimpa anaknya,” tutur Ibu Suhartini menambahkan.
Tapi, tidak sedikit juga ibu-ibu yang melarang para orangtua membaca isi diari anak-anaknya tersebut. Ibu Syofia contohnya. “Biarpun orang tua yang telah melahirkan anaknya bukan berarti kita dapat mencampuri urusan mereka selama masih dalam hal yang wajar,” tegas ibu rumah tangga ini.
Ibu Yasmin mengaku pernah membaca buku diari anaknya. “Buku itu saya lihat tertinggal, mungkin dia lupa menyimpan. Waktu itu permasalahannya ia sedang diledekin oleh teman-teman sekelasnya,” cerita beliau.
Penasarannya seorang ibu terhadap diari anaknya tidak bisa juga dikatakan sebagai sesuatu yang salah. Orangtua tentu ingin tahu apa yang terjadi pada anaknya. Sedangkan anak tentu juga tidak ingin orangtuanya tahu apa yang ditulisnya. Hal ini merupakan sebuah paradoks yang hingga sekarang susah sekali ditemukan jalan keluarnya.
Sebenarnya, kegiatan menulis diari sangat didukung oleh para orangtua karena dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka. Anak-anak menceritakan pengalaman apa yang terjadi pada hari ini. Dengan begitu, anak-anak menjadi aktif dan juga terampil menulis. Namun, dampak negatifnya juga ada. “Anak yang biasanya menulis diari akan lebih sering mengenang masalah-masalah mereka sehingga mereka sering larut dengan masa lampau,” ujar Bu Syofia memberi pendapat. (Dirangkum oleh Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang atas laporan Sufia Vonisa/SMPN 10 Padang, Yosi Jannatul Firdaus/SMAN 4 Padang, Nuresa Wahyuni/SMAN 14 Padang, Mery Oktaviani/SMPN 1 Sawahlunto)

diterbitkan oleh Tabloid Pmails edisi 85, 06 – 12 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s