Orang Amerika yang Menghidupkan Silek Tuo

Leonardo Stoute atau Bapak Waleed

Teacher Waleed begitu kita menyapanya. Ia adalah seorang imigran Panama yang sudah lama menetap di Amerika. Pada tahun 2003, ia bertemu dengan Bapak Mochtar Naim yang ketika itu kuliah di Minchigan University. “Waktu itu pakai baju adat Minang, jadi si Waleed ini tertarik dengan budaya saya sendiri,” kisah Mochtar Naim. Pertemuan itulah yang membawa Waleed masuk ke budaya alam Minangkabau. Salah satunya adalah seni silat tuo yang kini hampir tidak terdengar lagi gaungnya.
Waleed malah melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang Minang. Beliau bukan asli Minang, bukan orang Indonesia, tapi mampu mewariskannya tidak kepada orang Indonesia tapi kepada warga negara Amerika. Beliau mengembara dari satu universitas ke universitas lain dengan satu tujuan yaitu, mengajarkan silat. Waleed peduli terhadap Silat tuo karena ia senang dengan adanya jiwa seni di dalam gerakannya. Dengan silat, ia juga membawa orang untuk masuk Islam. Pelajaran Islam dan silat berkaitan untuk mencapai ketenangan batin.
Sebelumnya, Waleed bukan seorang muslim. Silat tuo lah yang membentuk pribadinya menjadi seorang muslim. Lewat silat ia mengenal Sang Pencipta yang sesungguhnya. “Silat tuo tidak hanya belajar dengan perasaan tapi juga kontak dengan Tuhan,” tutur Waleed. Waleed tidak pernah menyuruh murid-murid silatnya untuk masuk Islam. Tapi, ia mengajak muridnya untuk membuka hati dan lebih sensitif terhadap Islam lewat silat tuo. Bagi seorang Waleed, silat merupakan kombinasi alam dengan Tuhan. “Silat mengkombinasikan fisik dengan spiritual. Tapi, meletakkan spiritual di bagian atas,” ucap Waleed. Sejauh ini, Waleed mengembangkan silat di universitas-universitas Amerika seperti Michigan University, Oxford University, dll dan telah mengislamkan ribuan orang di Amerika.
Beliau sangat ingin menghidupkan silat tuo. Waleed ingin membangkitkan silat tuo agar dikenal di seluruh dunia. Ia berharap, silat dikembalikan ke dasarnya agar silsilah dari silat ini ditemukan kembali.
“Alam, lingkungan dan budaya Minang yang menarik saya,” ujar Waleed menjawab apa yang memotivasinya. Oleh karena itulah, ia datang ke Padang dan melanjutkan apa yang menjadi misinya. “Saya bertekad mendirikan oraganisasi silat sedunia yang berpusat di Padang,” harap seorang Waleed. “Akan ada jaringan ke setiap orang dan Padang punya pusat spiritual dengan dunia sebagai jaringannya,” tambah Mochtar Naim.
Harapan Waleed, menjadikan silat sebagai seni, olahraga, dan pengembang spiritual yang akrab dan mendunia. “Silat diajarkan kembali di sekolah-sekolah dan surau dikembalikan fungsinya sebagai tempat belajar silat,” cetusnya. Waleed berkata, begitu ruginya orang Minang yang tidak tahu silat. “Banyak sekali yang lesap dalam diri mereka,” ucapnya tersenyum kecut. “Kadang-kadang kita bisa bicara, kadang-kadang tidak, tapi kita bisa merasakannya. Itulah silat,” jawab Waleed.
Tentang Minangkabau dan Sumatera Barat, Waleed menuturkan, “Saya serasa pulang kampung. Minang is my second home (di sini rumahku yang kedua). Saya jatuh hati dengan semua yang ada disini. Alhamdulillah.”
Untuk mengenal lebih dekat bisa buka http://www.silatUSA.com. Sukses untuk teacher Waleed. (Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang dan Eko Kurniawan)

diterbitkan oleh tabloid Pmails edisi 85, 06 – 12 Mei 2007

2 thoughts on “Orang Amerika yang Menghidupkan Silek Tuo

  1. I am proud of mr. Waleed having participated preserve traditional Indonesian martial art “silat”, it is inversely proportional to its own people ………. indonesiannya I am unbelievably proud….

  2. yang jadi masalahnya susah menemukan guru silat diminang, karena silat bukan untuk hiburan seperti duluar sana. disini para tua silat lebih suka memendam ilmu mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s