Belajar Sepenuh Hati, Bukan Sepenuh Hari

Budi Aryatma Azwen, Pemenang juara II Lomba Cerdas Tangkas Fisika UNAND

“Kuncinya usaha dan doa,” sahut Budi Aryatma Azwen. Budi, begitu ia biasa dipanggil, terlihat lebih menonjol dari teman-teman seangkatannya. Pasalnya, siswa kelas XII IPA 2 SMAN 2 Padang ini baru saja menoreh prestasi pada Lomba Cerdas Tangkas Fisika (LCTF) yang diadakan UNAND beberapa bulan yang lalu. Budi sudah menggemari pelajaran fisika sejak kelas 3 SMP. Baginya, fisika adalah pelajaran yang realistis. Artinya ada di kehidupan sekitar kita. Prinsip inilah yang kemudian diusung pemuda kelahiran Padang 21 November 1989 ini, hingga mampu dan tertarik untuk serius memahami mata pelajaran yang terbilang “horor” oleh kebanyakan siswa disini. “Sains itu kebutuhan. Fisika termasuk sains. Jadi, fisika itu kebutuhan karena ada di kehidupan sehari-hari kita,” ungkap Budi menilai fisika dari sudut matanya.
Pada Lomba Cerdas Tangkas Fisika UNAND yang diadakan se-Sumatera tersebut, Budi meraih Juara II perorangan dan Juara III kelompok. Praktek belajarnya serius tapi santai. Bangun pagi-pagi sebelum sholat shubuh adalah jam wajibnya untuk belajar. Selain itu, Budi juga menyediakan sebotol air minum untuk teman belajarnya di malam hari. Katanya, hal ini untuk menanggulangi stres kalau buntu dalam belajar.
Putra ketiga dari tiga bersaudara ini mengaku banyak terinspirasi dari Habibburahman, peraih medali olimpiade internasional Kimia. Karena itu prinsip hidupnya juga sama dengan Habib yaitu, “Dengan Al-quran kita bisa”. Belajar bagi Budi adalah belajar dengan tidak meninggalkan agama, belajar diiringi iman-taqwa, dan belajar yang diridhoi oleh Allah SWT.
Masa lalu Budi bisa dibilang seorang anak nakal. Usia SMP-nya sering dilalui dengan main-main dan cabut. “Waktu SMP Budi ancur, pernah nggak masuk sekolah selama sebulan. Ini karena pengaruh lingkungan,” ceritanya. Tapi, imej anak nakal itu langsung berubah total karena seorang guru Sejarah. “Waktu itu Budi ketahuan mencontek, gurunya marah besar dan “memberi pelajaran” pada Budi.”
Kejadian itulah yang membuat Budi sadar. Pada ujian berikutnya, ia langsung meraih nilai tertinggi dalam mata pelajaran sejarah. “Dari sejarahlah semangat belajar Budi timbul,” lanjutnya.
Di SMA, Budi membuktikan kata-katanya. Siswa favorit beberapa guru ini, tidak belajar setengah-setengah. Ia belajar sepenuh hati, bukan sepenuh hari. Menurutnya, belajar yang baik adalah belajar yang diangsur-angsur dari awal pendidikan hingga akhir. “Karena dua tahun tidak bisa dibandingkan dengan dua jam,” ujar Budi. Hasilnya, siswa yang pernah masuk semifinal lomba matematika dan kimia ini, menuai sukses di setiap mata pelajaran.
Apakah Budi sudah puas? “Puas? Tentu saja sangat belum puas,” tutur anak dari pasangan Azwen dan Aritayati ini. “Jauh dari batas puas. Dunia ini luas, masih banyak yang belum diraih,” serunya. Ia bercita-cita menjadi seorang ilmuwan nano, menciptakan robot berukuran serba kecil. Tidak itu saja, Budi masih punya keinginan terbesar. “Budi ingin mendapatkan nobel seperti Einstein dan ilmuwan lainnya.”
Mimpikah Budi? Tidak, jika orang lain bisa kenapa kita tidak bisa?. Benar kan, Bud? (Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang)

diterbitkan oleh Tabloid Pmails edisi 85, 06 – 12 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s