Segala yang Terjadi, (Aku Sayang Kalian)

Saya sayang sama kalian. Sedikitpun tak pernah terbesit dendam, mencoba memihak, ataupun memilih menusuk dari belakang. Sama sekali tidak. Akan tetapi, dengan sikap dan keputusan itu, saya menyerah dan mengikuti alur cerita yang kalian suguhkan. Berbagai bentakan, kecaman, kata-kata halus tapi tajam, bentuk kekecewaan, hingga akhir yang diucapkan dalam keheningan dan kedinginan. Kalian yang banyak berjasa. Siapapun akan mengakuinya.
Begitu banyak cerita antara kita. Sangat banyak pelajaran berharga yang dapat diambil sarinya. Berbagai macam keteduhan, segala bentuk keberanian dan ide-ide cemerlang. Saya banyak belajar dari kalian. Sekali pun tak pernah terpikirkan untuk berada pada hari dimana kita merasa saling kecewa. Segala daya dan upaya kami coba terapkan untuk menyatukan. Tapi, entah dimana letak kesalahan. Sampai akhirnya, masa-masa suram itu kembali terjadi. Hari dimana kita tertawa di siang hari dan menangis di malam hari. Tertawa dan menangis lagi, begitu seterusnya. Aneh sekali, rasanya terlalu menyakitkan jika berada sendirian dalam arus yang berlainan. Berada di tengah mereka yang saya hargai, tiba-tiba disudutkan dalam ruang yang begitu sempit dan serba salah. Ditusuk dari depan jika tidak mau “disebut” dari belakang. Air mata dan kekesalan yang menuntun saya berada pada jalan yang berbeda.
Betapa terkejutnya saya. Sesaat setelah kata-kata maaf meluncur dengan alirannya yang tenang, tiba-tiba gelombang emosi menggusur dan memporak-porandakan semua kata-kata yang tadinya mengalir dari hati. Gelombang yang datangnya dari hati dan tak dapat diterima oleh hati yang lain. Siapa sangka, jika ternyata gejolak yang pernah ada belum berakhir juga. Gejolak yang merusak semuanya. Persahabatan dan kisah cinta.
Kini, kita tahu bahwa bibir dan mata belum bisa menjelaskan segala sesuatunya. Masih ada organ-organ lain yang lebih penting daripada sekedar indra. Dan Kita membutuhkan koordinasi antara keduanya. Koordinasi itu yang hingga sekarang sulit sekali mengaturnya. Sehingga apa yang disebut dengan “tidak ada”, ternyata masih “ada”. Gejolak itu telah mengakar dan tak bisa diselesaikan. Entah sampai kapan kita bisa mengangkat dan membuangnya jauh-jauh dari peradaban.
Keadaanlah yang membuat situasi berbalik arah. Berbaik hati pada tuannya, lalu memutarnya 180 derajat. Tragis, miris dan kita menangis. Ya “kita” yang lebih tepatnya “saya”.

Haruskah rasa pahit yang akan duduk di tepi masa-masa manis kita?

Untuk kalian yang saya sayangi. Sampai kapanpun saya menyayangi kalian, membutuhkan kalian. Tapi, sekali-kali kita perlu pencerahan. Tidak selalu bergerak di sisi yang sama. Mampu menunjukkan sisi lain yang selama ini terpendam, itu yang disebut dengan luar biasa. Tanpa takut ditekan. Sekali-kali kita perlu berbelok dari jalur yang biasa. Terima Kasih.

Sampai kapanpun saya akan tetap menyayangi kalian. Akan tetap. Sampai kapanpun.

Kapan kita bisa saling mengerti pribadi masing-masing dan menghormati pendapat masing-masing?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s