Cerpen Adalah Dunia Barunya

“Sebuah rumah yang tidak begitu besar. Berwarna merah muda kusam dan memiliki dua petak kebun mawar berwarna merah di sudut kanannya. Perpaduan yang sangat sempurna. Kemudian dari balik jendelanya yang diterangi dengan lampu lima watt, aku melihat seorang nenek duduk tertegun di kursi tuanya. Aku tidak ingin ikut campur, tapi aku bisa menangkap gerak bibirnya yang berkata…..”
Cuplikan di atas, merupakan sebagian kisah dari salah satu cerpen yang dimiliki Alisa Rianda. Pelajar kelas 3 IPA 2, SMAN 7 Padang ini, sudah terlanjur gandrung pada karya sastra, terutama cerpen.
Icha, panggilan akrab Alisa, terlahir dari keluarga sastrawan dan seniman. Ayahnya, Alda Wimar, seorang pegawai negeri RRI Padang sekaligus seniman serta memiliki sebuah studio mini. Ibunya merupakan pegawai Taman Budaya Sumatra Barat. Kakaknya, Nanda Wirawan, selain kuliah juga berbakat menyanyi. Tak salah juga, bila akhirnya Icha memendam bakat menjadi pengarang muda.
Sejak SMP, ia mulai giat menulis, baik berupa cerpen ataupun catatan-catatan kecil. Di SMP juga, kelahiran Padang, 1 Juli 1989 ini, ikut dalam Sanggar Sastra Pelangi dan dididik oleh Yusrizal KW. Selang antara sekolah dan sanggar, ia juga menjadi salah satu reporter sekolah pada tabloid Supel (Suara Pelajar) yang ada pada saat itu.
Sampai hari ini pun, Icha tetap tekun menjalankan kreativitas dalam menulis karya. Ide-ide kreatif yang selalu timbul tiba-tiba, mendorongnya untuk menciptakan sebuah cerpen. Kata anak kedua dari dua bersaudara ini, ide harus ada dan jangan takut untuk membuat sesuatu yang beda. Ini merupakan kunci sukses Icha dalam menulis cerpen. “Setiap cerpen yang selesai, adalah dunia baru Icha. Di sana Icha menentukan karakter semua tokoh-tokohnya, tak jarang pula timbul karakter-karakter baru yang sebelumnya tak pernah ada. Membuat cerpen seakan menciptakan dunia sendiri,” terang Icha. Tak ayal, dunia sastra pun menjadi hal yang patut dicinta oleh seorang Alisa Rianda. “Mungkin masih banyak di antara kita yang memandang remeh dunia sastra,” ungkapnya,” Sastra itu indah, penuh dengan barisan kata-kata yang kita tidak mengerti, tapi memiliki beribu makna di dalamnya.”
Kecintaan ini pula yang membuat Icha rela ke sana kemari untuk mengikuti workshop dan bedah sastra. Tidak rugi memang, misalnya ikut Workshop Penulisan yang diadakan dewan Kesenian, di sana Icha dapat berbagi pengalaman dengan penulis-penulis terkenal lain. Seperti Dona Rosamaina (penulis teenlit) dan Gus tf (sastrawan). Salah satu di antaranya adalah workshop sastra yang diadakan di Kayutanam desember 2006 lalu. Pengalaman-pengalaman berharga pun didapatinya. “Aneh sekali rasanya kalau karya kita dikritik orang,” begitu keluhnya sesaat setelah mendapat pengarahan dari sastrawan besar, Gus tf. Cerpennya yang berjudul Keinginan Diana mendapat kritik habis-habisan dari Om Gus, panggilan akrab Gus tf..  “Cerpen kamu ini tradisional,” kira-kira begitulah kritikan Om Gus.
Namun demikian,  Icha tidak patah arang. Apa yang disampaikan Gus tf itu penting untuknya. Bagi penggemar musik dalam negeri ini, kritikan itulah yang dapat membangun tulisannya. Terbukti, karyanya yang berjudul Perjalanan Bersama Angin (pernah dimuat di Pmails ), mendapat kursi favorit diantara karya-karya lainnya dalam workshop penulisan di Kayutanam. “Icha dan teman-teman yang ikut workshop ketika itu, ditempa habis-habisan oleh Om Gus. Dan itu sangat-sangat bermanfaat,” seru Icha. Tampaknya, pengalaman workshop Kayutanam ini meninggalkan kesan tersendiri baginya. “Hebat, fantastik, keren, nggak rugi, seneng banget,” demikian bertubi-tubi pujian Icha untuk workshop sastra yang mengundang Gus tf, Agus Hernawan, dan Iyut Fitra tersebut. Kata Icha juga, sekarang ia sudah bisa menggambarkan cerita secara konkrit dengan karakter tokoh yang kuat.
Ngomong-ngomong soal karya, karya siapa yang paling disukai Icha? “Icha malah jarang membaca karya sastra, tapi di antara semua karya Icha paling suka karya Om KW (Yusrizal KW)
“Iya.. Om Yusrizal KW, karena bahasa karya-karyanya mengalir, sederhana, dan enak dibaca. Cerita-ceritanya tidak mengambil dari hal yang rumit-rumit, tapi dari hal-hal kecil, dari benda-benda biasa yang rasanya tak pernah terpikirkan oleh kita untuk menjadikannya sebuah karya sastra. ”Cerpen-cerpen Icha sudah banyak beredar sampai hari ini. Selain di media lokal, cerpennya pernah terbit di majalah sastra Horison, sebuah majalah sastra nasional di Indonesia. Kala itu, judul cerpennya bertajuk Keinginan Diana. Cerpen ini mengisahkan seorang gadis kecil yang suka melukis, tetapi selalu dilemahkan oleh kedua orangtuanya. Dalam cerpennya tersebut, Icha menggambarkan bagaimana perjuangan gadis kecil itu, hingga ia dapat membuka mata kedua orangtuanya dan hidup bahagia. Alias happy ending. Nah lho, jadi “hidup bahagia”
Tapi, kata Om KW, Icha mesti melunasi janjinya untuk tetap menulis dan membuktikan karya berikutnya.  Semoga deh, Cha! (Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang)


diterbitkan oleh tabloid Pmails edisi 75 , 25 Februari – 3 Maret 2007

3 thoughts on “Cerpen Adalah Dunia Barunya

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s