Sastrawan Besar dan Kepala Pencemooh Fenomenal yang Tak Mau Meninggalkan Sumbar

A.A Navis

Haji Ali Akbar Navis atau yang lebih dikenal dengan A.A Navis lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang, Sumatera Barat pada 17 November 1924. Ia merupakan salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Beberapa antologi cerpennya merebak dahsyat di dunia sastra. Salah satu diantaranya adalah Antologi Cerpen Robohnya Surau Kami.yang terkenal sangat fenomenal serta terpilih menjadi satu dari tiga serpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955.


A.A Navis mulai menulis sejak tahun 1950, setelah mengenyam pendidikan di Institut Nasional Syafei Kayutanam pada tahun 1932 sampai 1943. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya, Navis telah menelurkan sebanyak 65 jenis karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lain dan delapan antologi luar negeri serta 60 makalah yang ditulisnya untuk keperluan akademis baik dalam negeri maupun luar negeri. 60 makalah tersebut dihimpun dalam satu buku berjudul ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Karya-karyanya yang sangat terkenal dan fenomenal, selain Robohnya Suaru Kami (1955) adalah Bianglala (1963); Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).
Dalam menulis, A.A Navis mengembangkan pemikiran ala seni perspektif yang jauh ke depan. Seperti dalam cerpen Robohnya Surau Kami, ia mencerminkan perspektif pemikiran itu lewat arti kata Roboh. Roboh yang dimaksud Navis disini bukanlah roboh secara fisik tapi roboh dalam hal tata nilai. Selain itu, Navis juga tidak pandang bulu dalam menulis. Ia menulis apa adanya, terkesan ceplas-ceplos tapi nyelekit. Dalam Robohnya Surau Kami pula, ia tidak segan-segan mengutarakan pendapatnya lewat kata-kata tajam yang lebih tepat disebut cemooh.
Inilah yang menjadi kekuatan bagi A.A Navis. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk menghentakkan setiap pribadi terbangun dan menjadikan hidip lebih bermakna. Dalam karyanya, Navis selalu mengatakan bahwa yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih, bukan abu-abu. Kisah-kisahnya menjungkir balikkan logika awam seperti tentang bagaimana seorang yang alim justru masuk ke jurang neraka. Karena kealimannya tersebut seseorang meninggalkan kewajibannya di dunia hingga tetap jadi miskin.
Sepanjang hidupnya, A.A Navis melahirkan karya-karya sastra yang monumental dalam ruang lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia banyak menulis berbagai hal, tidak mesti terkait dengan dunia sastra, disamping memang sastra yang paling digelutinya. Karya-karyanya yang ratusan mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai, hingga penulisan otobiografi dan biografi. Ia juga seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional.
Karya-karyanya tersebut membuktikan betapa A.A Navis adalah seorang budayawan besar yang kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Kejeniusannya dalam mengkritik berbagai permasalahan melalui kata-kata yang berani dan ceplas ceplos membuatnya digelari kepala pencemooh oleh rekan-rekan sesama sastrawan. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya.
Seperti yang dikutip dari Kompas, Minggu, 7 Desember 1997, A.A Navis pernah mengatakan, “Senjata saya hanyalah menulis. Menulis itu alat, tapi bukan alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya.” Ia juga pernah mengatakan akan memfungsikan sastra apabila dipilih menjadi perdana menteri. “”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik,” umpamanya.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya juga.
Perihal orang minang sendiri, ia sangat menentang pandangan orang lain yang menyatakan bahwa orang minang itu pelit. “Orang minang bukan pelit,” katanya, “tapi penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar).
Demikianlah seorang A.A Navis. Meski karya-karyanya telah melalang buana ke berbagai pelosok, tapi ia tetap bertahan untuk tinggal di tanah kelahirannya, Sumatera Barat dan mengabdi kembali pada lembaga pendidikannya, INS Kayutanam pada 1968. Baginya merantau tak harus merantau secara fisik. Tak hanya itu, Ia juga seorang seniman yang menguasai berbagai bidang seperti seni rupa dan musik. Hasil karya seni nya itu kini dapat dilihat di gedung INS Kayutanam, Pariaman, Sumatera Barat.
Kini, A.A.Navis, sastrawan peraih hadiah sastra bergengsi di Asia, Sea Write Award 1974 yang sangat fenomenal ini, telah berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa. Ia meninggalkan satu orang isteri Aksari Yasin yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini serta sejumlah 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang pada hari Sabtu 22 Maret 2003. (Berbagai Sumber/Nilna Rahmi Isna/SMAN 2 Padang)

I

One thought on “Sastrawan Besar dan Kepala Pencemooh Fenomenal yang Tak Mau Meninggalkan Sumbar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s