Tags
The Unpredictable Gift, part 1
“Hadiah yang tak dapat diramalkan”
Sejak dua minggu yang lalu, kami kelimpungan mencari ide. “Ayolah kak, kita harus bikin sesuatu buat ‘papa’ kita itu. Masa’ pas ulang tahun kita cuma kasi ucapan pie bidei,” hasut Amel Minggu itu. Aku, Opie, dan Kak Ria berpikir. Apa yang harus kita lakukan, sesuatu yang berkesan untuk hari ulang tahun seorang yang special bagi kami. Seseorang yang mencurahkan ilmunya kepada kami agar menjadi berkah. Yang menyayangi kami agar kami menjadi cerdas. Om KW.
“Gimana kalau kita beliin jam? Atau baju batik? Trus kuenya kita beli Black Forest gede? Trus kita kerjain, kak. Siapa gitu? Misalnya Kak Nilna habis acara pura-pura pingsan? Atau kita berantem, kak Ria? Pokoknya bikin Om panik.” Amel terus menggebu dengan segudang idenya.
Sayang sekali, semua ide Amel ditolak olehku, kak Ria, dan Opie. Ide Amel bukan berarti buruk atau tidak menarik, hanya semua ide itu terlalu sederhana dan mudah ditebak. Kalau soal dikerjai-mengerjai, itu sudah bukan hal mutakhir lagi, alias sudah biasa dan Om pasti tahu jika ia dikerjai.
Amel pusing, berpikir-pikir apa yang harus dilakukannya di hari ulang tahun Om. Continue reading »



