Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia atau JMKI merupakan organisasi mahasiswa kesehatan lintas program studi yang merupakan tempat mengkaji dan memecahkan berbagai permasalahan di bidang kesehatan secara menyeluruh. JMKI mula terbentuk pada 20 April 2000 yang merupakan hasil keputusan rapat JMKI 1 di Jakarta yang bertujuan untuk berperan dan terlibat secara aktif dalam memperjuangkan peningkatan derajat masyarakat Indonesia melalui pembinaan kerjasama dan persatuan antar mahasiswa kesehatan serta mengkaji dan menyikapi kebijakan di bidang kesehatan.
Di Sumatera Barat, JMKI baru terbentuk pada tahun 2007 di Stikes Fort De Kock Bukittinggi dengan mengundang perguruan tinggi kesehatan yang ada di Sumatera Barat, tercakup di dalamnya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), Politeknik Kesehatan (Poltekes), dan Universitas. Anggota JMKI memang dikhususkan pada lembaga eksekutif mahasiswa kesehatan Strata Satu (S1) pada perguruan tinggi di Indonesia. Untuk wilayah Sumatera Barat, peserta JMKI berjumlah 10 institusi. Jumlah ini diharapkan bertambah 8 institusi pada tahun ini.
Dalam Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) JMKI tertera visi JMKI yaitu terwujudnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia seoptimal mungkin. Hal ini pulalah yang melandasi dilaksanakannya Musyawarah Wilayah III Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia pada 6 Juni 2009 yang dituanrumahi oleh Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unand.
Musyawarah yang dilaksanakan di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini dibuka langsung dan secara resmi oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. dr. Masrul, M.Sc, Sp.GK. Dalam kata sambutannya, Bapak Masrul menyatakan dukungan penuhnya terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh JMKI wilayah Sumbar nantinya. Bapak Masrul juga memotivasi para calon pengurus untuk melakukan program-program yang menyentuh. Menurutnya JMKI merupakan organisasi besar yang dalam prosesnya akan menyatukan serta meluluhkan egoisme pendidkan profesi masing-masing, seperti dokter, bidan, perawat, ahli kesehatan masyarakat, dan profesi kesehatan lainnya.
Frans Sagita Widodo, mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat untuk JMKI, dalam rekomendasinya menekankan masalah hubungan dan komunikasi antar pengurus JMKI. “Kendalanya adalah jarak dan susah menyamakan persepsi,” ujar Frans. Hal inilah yang menyebabkan program-program kerja yang dibahas pada Musyawarah Wilayah II JMKI di Fort De Kock Bukittinggi kurang terealisasi. Harapan Frans, dengan adanya musyawarah wilayah III ini, program-program kerja JMKI dapat diwujudkan secara nyata.
Untuk saat ini, Musyawarah Kerja Wilayah III Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia ditangguhkan karena kurangnya kuota peserta yang hadir dan akan dilanjutkan pada 30 Juni 2009. Semoga program-program kerja organisasi yang menyatukan beragam ilmu dan profesi kesehatan ini dapat berjalan dengan baik.
(Nilna Rahmi Isna/PSIKM FK UNAND)
sumber : Padang Ekspres, 7 Juni 2009
Menulis adalah suatu budaya. Dari menulis lahir hasil karya cipta manusia. Menulis berarti mengajak orang untuk memahami apa yang sedang kita pikirkan dan juga sebgai sarana untuk mempengaruhi pola pemikiran orang lain. Rangkaian kalimat dalam tulisan adalah lorong bagi kita, sebagai penulis, untuk merasuki pemikiran orang lain dan jembatan untuk berhubungan dengan orang tersebut sehingga kita tahu apa yang mereka inginkan saat itu. Melalui sebuah tulisan yang sangat sederhana sekalipun, kita dapat mempengaruhi pola pikir seseorang serta mentransfer pemikiran dan pengetahuan yang kita miliki. Menulis mengajarkan kita untuk tidak pelit dan kikir akan ilmu yang kita kuasai dan ketahui. Terakhir, menulis mendorong kita untuk senantiasa mendalami ilmu yang telah dianugerahkan kepada kita.