<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nilna.R.Isna</title>
	<atom:link href="http://nilna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nilna.wordpress.com</link>
	<description>Kata Tanpa Jeda</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 23:26:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nilna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nilna.R.Isna</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nilna.wordpress.com/osd.xml" title="Nilna.R.Isna" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nilna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rumah Impian</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2012/01/27/rumah-impian/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2012/01/27/rumah-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 18:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1335</guid>
		<description><![CDATA[Aku memimpikan memiliki sebuah rumah sederhana, cukup satu lantai, dengan teras yang agak besar. Teras yang cukup menampung belasan orang &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2012/01/27/rumah-impian/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1335&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku memimpikan memiliki sebuah rumah sederhana, cukup satu lantai, dengan teras yang agak besar. Teras yang cukup menampung belasan orang bersantai berhadap-hadapan. Teras untuk kami (aku, suamiku, anak-anakku) saling berkumpul dengan teman. Aku menyenangi berkumpul bersama teman-teman di rumah.</p>
<p>Di sudut kanan, ada beberapa tanaman obat dan tanaman dapur. Sedari kecil, aku penyakitan, mengonsumsi aneka bentuk dan warna obat. Ketika dulu merasa hebat karena berani dan rajin minum obat. Namun sekarang, aku paling tidak ingin mengonsumsi obat, begitu juga tidak ingin menjejali suami dan anak-anakku obat yang berbentuk bulat-bulat. Aku akan pelajari segala macam khasiat tanaman. Mengonsumsi mereka, tanaman berkhasiat ini, adalah pencegahan penyakit, mencegah ke rumah sakit, mencegah meminum obat, Begitu juga dengan bumbu-bumbu masakan, aku senang memetik mereka sebagaimana ketika kecil aku sering membantu ibu mengambilkan bumbu masak di kebun samping rumah.</p>
<p>Aku juga akan menanam buah-buahan. Ini adalah hobi ayah dan ibu. Selalu ada tanaman buah di setiap rumah yang kami tempati. Rumah di kampung ibu terlengkap, ada sawo, belimbing, rambutan, alpukat, pepaya, pisang, kelapa, sunkis, sampe kakao.Kakao yang terbanyak karena ayah malah berkebun kakao di rumah di kampung ibu. Rumah di kampung ayah terkenal dengan rambutan yang mengelilingi rumah, 6 pohon rambutan dengan jenis bibit yang berbeda. Selain rambutan ada pepaya, pisang, mangga, kakao, dan nangka. Rumah sebelum rumah ini malah ada batang semangka. Di rumah yang sekarang, ada alpukat, mangga, dan anggur. Nangka kami baru saja berbuah, sementara anggur hanya sampai panen pertama setelah itu gagal panen, udara dan tanahnya tidak cocok.</p>
<p>Rumahku nanti harus ada taman bunga. Halaman yang luas juga akan kuhiasi dengan bermacam-macam bunga. Aku pastikan segala jenis bunga ada di rumahku, mulai dari melati hingga teratai, dari mawar hingga rumput teki, semua jenis anggrek, dan bunga-bunga indah lainnya. Selaras dengan janjiku padanya, aku akan menjadi bunga di rumahmu yang mengindahkan dan terindahkan.</p>
<p>Tanah pekarangan rumah kami nanti akan dilapisi dengan rumput lembut seperti permadani. Aku tak ingin punya pagar besi untuk rumahku. Aku akan memagari rumahku dengan tanaman pagar saja, bonsai mungkin. Tanaman itu akan aku rancang setinggi dada. Rumah itu nanti akan berada di daerah pegunungan namun masih mudah diakses dari pusat kota. Rumah itu akan berada di sudut antara jalan simpang tiga. Tanah tempat rumahku didirikan lebih tinggi dibanding jalan. Jika diukur kemiripan mungkin mirip dengan lokasi rektorat Universitas Andalas. Aku suka posisi rektorat itu.</p>
<p>Di masa depan, warga komplek perumahan tempatku tinggalku adalah warga yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan keindahan lingkungan. Mereka sangat mencintai untuk melindungi bumi. Di sana semua orang berkendaraan dengan sepeda. Setiap pagi selesai sholat shubuh, tua muda jalan sehat, yang lainnya melakukan senam massal. Tidak ada yang merokok. Intra keluarga dan antar keluarga hidup dengan damai dan sejahtera.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Negara tempatku tinggal juga membuat sebuah peraturan. Dimana setiap pegawai perusahaan negeri dan swasta serta siswa dan mahasiswa baru boleh keluar rumah setelah jam 7 pagi dan tidak boleh berkeliaran lewat pukul 11 malam. Televisi yang diizinkan siar hanya televisi yang lebih banyak bernuansa pendidikan dibanding hiburan. Setiap rumah juga diwajibkan memiliki perpustakaan mini yang ditujukan untuk memupuk generasi cerdas cinta baca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam hal perpustakaan, aku akan membangun perpustakaan itu terpisah dengan rumahku. Ruangan itu kubuat berdinding kaca, beratap gonjong dan berbentuk persegi empat seperti rangkiang. Kaca yang menjadi dindingnya tembus cahaya tapi udara panas tidak bisa masuk. Meskipun matahari di luar terik, ruang di perpustakaan miniku akan tetap sejuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di perpustakaan itu aka ada satu kamar kecil tempat aku menaruh satu set komputer, printer, Scanner, dan LCD proyektor. Juga ada televisi dan radio. O iya, aku juga akan menaruh mesin tik di sana. Kata Rosihan Anwar, bunyi mesin tik akan meningkatkan laju otak berpikir dalam menulis. Kamar itu aku gunakan sebagai kamar kerja untuk menulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Buku-buku. Ah, tentu saja perpustakaan mini itu akan kupenuhi dengan beribu-ribu buku. Bisa jadi perpustakaan mini itu tidak boleh disebut perpustakaan mini lagi karena jumlah bukunya yang tidak mini.  Aku akan mengelola beribu buku itu dalam lemari-lemari yang disusun berjajar letter U. Setiap buku diberi “serial number” yang akan menjadi pedoman dalam laci katalog. Iya, aku juga akan membuatkan laci katalog untuk perpustakaan miniku.</p>
<p>Satu lemari disediakan khusus untuk buku-buku yang aku sendiri menjadi penulisnya. Aku memang memimpikan menulis banyak buku dalam hidupku. Buku-buku yang aku tulis itu terdiri dari jenis yang berbeda-beda. Aku akan menulis buku di segala bidang. Hanya saja bidang sastra, kesehatan, psikologi, dan humanisme akan lebih diutamakan. Olala, aku ingin sekali menulis 1000 buku.</p>
<p>Ruang tengah di perpustakaan miniku sengaja dikosongkan dari lemari. Ia akan dialasi dengan karpet lembut dan sebuah meja bulat kecil setinggi betis. Di sanalah tempatku memanjakan diri untuk melaksanakan hobi membacaku.</p>
<p>Masih ada mimpiku yang lain. Aku menginginkan mendirikan rumah sehat, sekolah gratis, dan sanggar sastra. Mendirikan dan mengelola rumah sehat memang menjadi tujuan utamaku. Di sana orang-orang tidak pergi berobat tapi untuk membangun kelompok-kelompok dengan kegiatan sadar sehat. Suasana rumah sehat dibuat senyaman mungkin <em>plus </em>taman sehatnya.</p>
<p>Sekolah gratis akan aku dirikan di kampung halamanku. Kakekku sempat bilang ia ingin anak-anaknya mendirikan sebuah sekolah di kampung. Jika anak-anak kakek tak dapat mewujudkannya maka aku sebagai cucunya yang akan mewujudkan keinginan itu.</p>
<p>Aku juga ingin mengasuh sebuah sanggar menulis. Aku begitu menyukai dunia menulis dan aku ingin “tulisan” yang aku punya diteruskan ke generasi-generasi di bawahku. Aku akan melakukannya dengan cara guru menulisku, guru kehidupanku, Om Yusrizal KW. Tidak akan ada teori dalam sanggar menulis ini, yang ada hanya perintah : menulislah! Aku juga akan lebih banyak memotivasi dan mengajarkan bagaimana cara memaknai hidup.</p>
<p><em><strong>*Tulisan ini ditulis pada tahun 2008</strong></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1335&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2012/01/27/rumah-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuliner Mengesankan Sepanjang Sumatera</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2012/01/26/kuliner-mengesankan-sepanjang-sumatera-2/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2012/01/26/kuliner-mengesankan-sepanjang-sumatera-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 15:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1328</guid>
		<description><![CDATA[dan cerita menarik ketika menikmatinya 1. MIE ACEH &#8211; ACEH Ceritanya shubuh-shubuh nyampe Aceh. Penginapan masih sepi. Dan target utama &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2012/01/26/kuliner-mengesankan-sepanjang-sumatera-2/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1328&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>dan cerita menarik ketika menikmatinya</strong></em></p>
<p><strong>1. MIE ACEH &#8211; ACEH</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://26.media.tumblr.com/tumblr_llzr10Iy901qis9izo1_500.jpg" alt="" width="500" height="332" /><br />
Ceritanya shubuh-shubuh nyampe Aceh. Penginapan masih sepi. Dan target utama kita adalah “pengen makan mie aceh”. Alhasil setelah mengutarakan keinginan ke “kakanda” kita… hehe. (makasi yg bg Afriady), kita dibeliin mie aceh… Padahal waktu itu cuma bilang “pengen makan” bukan “minta dibeliin”. Hehehe…</p>
<p>Waktu itu yang versi udang-nya. Yang diphoto ini versi kepitingnya. Hehe.</p>
<p><strong>(moment muswil I ISMKMI 2010*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. TEH TARIK &#8211; ACEH</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://28.media.tumblr.com/tumblr_lca0k3tzXL1qevfrno1_500.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Yah, berhubung saya juga tertarik dengan namanya “teh tarik”, alhasil temennya mie aceh saat makan di “dapu kupi” Aceh, saya pesennya teh tarik. Eh, ga tahunya teh tarik itu teh telur.. hehe #ketipu45 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>(moment muswil I ISMKMI 2010*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. KOPI ACEH &#8211; ACEH</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://www.ngapak.com/wp-content/uploads/2010/12/kopi-aceh.jpg" alt="" width="375" height="500" /><br />
Kopi yang akhirnya membuat saya ketagihan minum kopi. Kopi dengan warna paling hitam ini benar-benar memikat. Warnanya boleh hitam tapi rasanya manis luar biasa. Saya lebih senang menyebutkan rasanya : nikmat memikat ^^</p>
<p>Ceritanya, pagi-pagi saya cancel tiket ke bandara. Seharusnya pagi itu saya sudah berangkat ke Medan untuk nyambung ke Padang demi Grand Final UNAND AWARDS. Namun akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan UNAND Awards dan meneruskan amanah sebagai Korwil I ISMKMI yang baru saja diemban. Alhamdulillah tiket bisa dipending sampai besok dengan sedikit membayar denda.</p>
<p>Dari bandara menuju kembali ke ruang sidang, saya pesan 2 bungkus kupi aceh, secara malamnya saya kurang tidur, jadi harus tetap melekin ini mata <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Berhasil, kopi aceh mampu membuat mata saya terang benderang hingga akhir sidang. Meskipun saking semangatnya, saya hampir menumpahkan setengah bungkus untuk dibagi ke Aya, rekan mahasiswa dari Padang yang juga ke Aceh. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Ini sumpah kopi paling memikat di Indonesia.</p>
<p><strong>(moment muswil I ISMKMI 2010*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. BIKA AMBON &#8211; MEDAN</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_lcr3o1cSzk1qf8chqo1_500.jpg" alt="" width="428" height="640" /></p>
<p>^^ Kue aneh, namanya Bika Ambon tapi asalnya dari Medan. Well, kalau kamu ke Medan tanpa bawa oleh-oleh Bika Ambon. Rugii45. Kue Bika Ambon emang cocok buat oleh-oleh, yang mengakibatkan dalam beberapa kali ke Medan, saya HARUS ke toko Bika Ambon dulu. Kalau nggak, bisa ngamuk-ngamuk orang Padang. ^^ Pulang dari Medan bawa Bika Ambon, It’s a must!.</p>
<p><strong>(moment MATAPENA ISMKMI 2010*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5. BOLU GULUNG MERANTI &#8211; MEDAN</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_lq0z0na2Ig1qmd4s8o1_500.jpg" alt="" width="500" height="400" /></p>
<p>Ada lagi nih khas Medan yang nggak boleh ketinggalan. “Bolu Gulung Meranti” Hmm, bolu dengan kotak kue yang khas ini paling banyak dijejerin saat kamu di bandara, baik kotak-kotak di toko-toko, maupun kotak-kota di tangan-tangan penduduk bandara yang berseliweran ^^.</p>
<p><strong>(moment MATAPENA ISMKMI 2010*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>6. PEMPEK &#8211; PALEMBANG</strong></p>
<p><strong></strong><img class="alignnone" src="http://28.media.tumblr.com/tumblr_ltscavzWJg1r5xsuwo1_500.jpg" alt="" width="500" height="335" /></p>
<p>^^Kalau udah tentang Pempek Palembang, saya mesti colek Lafi Munira n Mardiana Khiroz dan colek Angyun Abraham buat pamer. Hehe. ;D. Cerita tentang Pempek, saat munas Palembang, ceritanya kita “celingak celinguk” di Rusunawa UNSRI, kelaperan, n bosan. Berhubung panitia tuan rumah masih sibuk siap-siap untuk pembukaan, kita pun para delegasi “yang pengen cari udara luar” ini kabuuur.. Hahah. Sekitar belasan orang nekat naik angkot (padahal satu orang pun gag ada yang ngerti Palembang/Indralaya. Tapi kata bang Aan UTU, kita jalan aja, rame-rame kok, gapapa. Hilang satu hilang semua. Huaha.. #kasianpanitia.</p>
<p>Alhasil perjalanan itu sempat nyampe di tugu Kabupaten Ogan Ilir, makan pempek deh disana. Eh, tahu gag, saya bingung, “ternyata gini loh rasa pempek asli?, Kok enak yang di Padang yaah?” Haha.. #Lidahkuparah….</p>
<p>Oiyah, saat itu kirain udah jauh aja jalannya. Eh, nggak tahunya cuma keliling-keliling UNSRI. Tiba-tiba nyampe Alfamart, trus jalan kaki deh dari Alfamart menuju Rusunawa dan jalan kakinya itu jaaauuuuhhh banget… Padahal sopir angkotnya udah ningetin. Dasar waktu itu delegasi pada bandel. Pada sotoy… Hahah….</p>
<p><strong>(moment MUNAS XI ISMKMI 2009*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>7. DUKU &#8211; PALEMBANG</strong></p>
<p><strong></strong><img class="alignnone" src="http://26.media.tumblr.com/tumblr_ltscw0YSX61r5xsuwo1_500.jpg" alt="" width="480" height="360" /><br />
Duku Palembang, oleh-oleh wajib dari Palembang. Ngomong-ngomong tentang duku Palembang. Saya colek Pramana Anggi, Elvira Yunita, n Shara Jeane dulu. ;D Jadi pulang dari Palembang, kita ngebis ke Padang. Dalam perjalanan, bis berhenti di deretan kios pedagang Duku Palembang. Huaaah, deretan gtu deh pedagangnya. Waktu itu sekitar pukul 10 ato 11an malam.</p>
<p>Kita awalnya pada malas turun, kecapekan. Tapi demi melihat ada yang beli… ‘kayaknya enak’ Hehe. Akhirnya Anggi diutus untuk turun. Saya, Ira, n Aya nitip.<br />
Eh, gg tahunya murah dink. Sekilo cuma 5rbu. Ira sampai balik, ke bawah, dan beli beberapa kilo lagi. (Saya pribadi nyesel nggak nambah T__T gara-gara males turun)</p>
<p>Eits sebenarnya, bukan masalah malas turunnya itu yg menarik. Haha.. (ketawa dulu deh). Jadi di bis ada nenek-nenek yang selama perjalanan curhat habis ke orang yang duduk di sebelahnya + kenek bis. Sang nenek bercerita miris banget : diusir menantu, nggak punya duit, cuma ada duit sekian, pokoknya sedih n miris banget deh.</p>
<p>Tapi… saat ada pembelian per-duku-an, sang nenek naik ke atas bis dengan sekarung besar duku (mau jualan kali ya?) sampai-sampai tu karung ganggu para penumpang yang mau lewat-lewat.</p>
<p>Saya mikir, Anggi juga, Ira juga, Aya juga, karena sebenernya kami juga nyimak curhatan sang nenek tadi. Pertanyaannya sama : katanya gg ada duit, ko bisa beli sekarung besar gitu?</p>
<p>Dan pertanyaan yang berseliweran di kepala masing-masing itu akhirnya dibahasakan oleh sang kenek “Amak! Tadi kato amak, amak ndak bapitih do. Ko sakaruang gadang amak bali lansek haa.??!!”. Sang kenek mete-mete.<br />
Huaaaha wkwkwk, saya n yang lainnya ketawa ngakak (tapi dalam hati, hehe) takut juga kalau ntar disemprot sang nenek.</p>
<p>(ps : itu keneknya ngomong pake bahasa minang, maaf malas translate, artinya cari sendiri yaah. :p )</p>
<p><strong>(moment MUNAS XI ISMKMI 2009*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ini baru 7 jenis kuliner, masih ada Riau dan Jambi yang sempat saya kunjungi, tapi belum sempat menikmati kuliner khasnya. Lalu Kepri, Bengkulu, Babel, dan Lampung yang masih dalam antrian daftar daerah yang akan dikunjungi&#8230;. Tunggu ceritanya yaah. ^^</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1328&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2012/01/26/kuliner-mengesankan-sepanjang-sumatera-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://26.media.tumblr.com/tumblr_llzr10Iy901qis9izo1_500.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://28.media.tumblr.com/tumblr_lca0k3tzXL1qevfrno1_500.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.ngapak.com/wp-content/uploads/2010/12/kopi-aceh.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://24.media.tumblr.com/tumblr_lcr3o1cSzk1qf8chqo1_500.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://25.media.tumblr.com/tumblr_lq0z0na2Ig1qmd4s8o1_500.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://28.media.tumblr.com/tumblr_ltscavzWJg1r5xsuwo1_500.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://26.media.tumblr.com/tumblr_ltscw0YSX61r5xsuwo1_500.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pesawat Oh Pecawatt&#8230;.!!!</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2012/01/25/pesawat-oh-pecawatt/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2012/01/25/pesawat-oh-pecawatt/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 06:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1289</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya masih imut-imut, lagi hobi-hobinya main sepeda roda 3 keliling kampung. Pesawat lewat di langit. Saya and the gank &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2012/01/25/pesawat-oh-pecawatt/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1289&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2012/01/icxzw-u-cs_20111.jpg"><img class="size-full wp-image-1292 alignleft" title="iCxzw.u.cs_20111" src="http://nilna.files.wordpress.com/2012/01/icxzw-u-cs_20111.jpg?w=529" alt=""   /></a>Ketika saya masih imut-imut, lagi hobi-hobinya main sepeda roda 3 keliling kampung. Pesawat lewat di langit. Saya <em>and the gank </em>langsung teriak-teriak. &#8220;Pecawaaaat&#8230;.!!! Pecawatt!!!!&#8221;. Teman saya yang punya <em>Etek </em>(tante,-red) bernama Evi (disingkat &#8220;Pi&#8221;,-red) yang tinggal di Jakarta langsung pamer, &#8220;Etek Pi&#8230;. Tek Pi&#8230; Da daa Da daa..!!!,&#8221; sambil melambai-lambaikan tangan seakan-akan Etek Evi sedang berada di atas pesawat dan melambai-lambaikan tangan pada temanku di bawah. Anak-anak lain tak mau kalah, masing-masing dan juga saya (:P) ikut memanggil-manggil saudara kami masing-masing yang berdomisili di Jakarta. Maklum, orang Padang, banyak yang merantau kesana kemari apalagi ke Jakarta. (:D) Begitulah seterusnya setiap ada pesawat lewat, anak-anak kampung yang unyu-unyu tanpa dosa ini berteriak-teriak.</p>
<address>::Kalo dipikir-pikir waktu kecil saya katrok bin norak yah? &#8211;&#8221;</address>
<address> </address>
<p>Lalu, selama berpuluh-puluh tahun sejak lahir saya gag pernah naik pesawat. Pertama kali naik pesawat saya sudah berumur 20 tahun (d^^b). Sangat tidak patut dibanggakan bila dibandingkan dengan teman-teman semasa SD yang sering pamer baru saja naik pesawat ke Jakarta. Saya mampunya naik bis dari Padang &#8211; Jakarta, dulu itu menghabiskan waktu 3 hari 2 malam. Kalau sekarang kabarnya lebih cepat 1 hari 2 malam.. (:D)</p>
<p>Tepatnya 08-08-09, hari Sabtu, akhirnya saya naik pesawat. Berangkat sendiri ke ibukota, Jakarta. Bisa dibayangkanlah : sendirian, perempuan, katrok, berangkat shubuh-shubuh, nggak ngerti Jakarta, takut ke ibukota, dan terutama TAKUT karena GAG PERNAH NAIK PESAWAT. Ibu sempat nggak kasih izin karena saya sendirian. Takut ilang anak semata wayangnya. Tapi ini tiket udah ada, dikasi orang, gratis pula. Tentunya, kata Ayah, kita harus ‘berterima kasih dengan tidak menyia-nyiakan’.</p>
<address>Alhamdulillah, tiket PP naik pesawat itu, GRATIS. Saya dan 2 orang teman lainnya (Icha dan Sevil) menerima undangan untuk menjadi Delegasi Kampus Universitas Andalas atas nama Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam kegiatan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI). #Ceritanya, sebelum berangkat kampus memberikan dana untuk 2 orang saja. Namun kami saat itu ngotot pergi bertiga, dengan alasan kami bertiga telah saling melengkapi, jika salah satu gag ada, kami akan hilang di Jakarta, terutama saya. Saya bakalan ilang karena terakhir ke Jakarta itu usia 11 tahun. Alhasil kami bertiga sepakat dana dari kampus dibagi tiga, cukup untuk tiket pesawat pulang dan registrasi acara. Darimanakah tiket perginya? Alhamdulillah tiket itu diberikan gratis oleh Padang Ekspres Group sebagai bentuk apresiasi pimpinan P’Mails dan Padang Ekspres terhadap salah satu “anak didik”nya… Alhamdulillah dapat tiket VIP pula. Malangnya, karena pemesanan tiket saya berbeda dengan Sevil dan Icha, jadwal keberangkatan dan maskapai penerbangan kami pun berbeda. -___-</address>
<address> </address>
<p>Selamam sebelum keberangkatan saya, rumah tampak sangat sibuk. Saya sendiri bingung secara ini keberangkatan ke luar pulau sendirian (terdengar agak mengerikan). Segala perlengkapan pun dipersiapkan. Semua peralatan saya beli baru : handuk baru, baju baru, kaus kaki baru, sepatu baru, sabun baru, sikat gigi baru, parfum baru, minyak telon baru, semuanya baru. Kecuali travel bag yang harus saya pinjam sama paman. Kalau beli baru, darimana duit? Pun di rumah tidak ada travel bag sama sekali kecuali tas kain yang biasa dipakai buat pulang kampung. #Well, saya kampungan dan sangat katrok (tapi bangga jadi anak daerah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) )</p>
<p>Pagi-pagi buta jam 3 udah bangun. Mandi dan siap-siap. Jam 4 shubuh berangkat ke Bandara. Perjalanan dari rumah ke Bandara yang berada di pinggiran kota akan memakan waktu 1 jam. Saya harus check in jam 5 dan take off jam 6 shubuh. Jadi harus pagi-pagi banget. Saya diantar oleh Ayah dengan taksi yang udah dipesen sejak semalam. Nah, berhubung VIP, saya dijemput langsung oleh travel agency langganan Padang Ekspres Grup, saya memanggil beliau Om In.</p>
<p>Oleh Om In saya diajarin semuanya, mulai dari masuk- liatin tiket &#8211; bagasi &#8211; check in &#8211; taruh bagasi &#8211; naik ke lantai 2 &#8211; bayar airport tax &#8211; liatin tiket lagi &#8211; bagasi lagi &#8211; dan duduk. Alhamdulillah (dapat duduk di <em>Executive Lounge </em>Anugrah di Bandara International Minangkabau. Berhubung saya ini katrok, sedikitpun saya tak menyentuh cicipan yang tersedia, padahal boleh bebas icip ini icip itu, saya nahan selera, waktu itu mikirnya “pasti bayar dan mahal”. Berhubung irit, pelit, tepatnya gag ada duit, saya gag memilih menyentuh makanan, hanya menyentuh majalah dan toilet.</p>
<p>Ehe„ toilet? Ya, di exe lounge itu saya milih ke toilet, mushalla, sholat sunnah, sholat shubuh (kalau dari Padang, pesawat jam 6, berarti sholat shubuhnya di bandara), dan banyak-banyak berdoa supaya saya selamat selama perjalanan. Pokoknya kaku, kagok, and keringat dingin. Antara penasaran dan takut mau naik pesawat.. Hahaha. Jujur bahkan saya nggak tahu kapan saya harus masuk ke dalam pesawat dan nggak ngerti suara-suara panggilan di dalam Lounge, apakah saya sudah bisa masuk pesawat? atau belum? -__-. Maka saya titip pesan sama Om In kalau udah waktunya, mohon dipanggil, dan saya pura-pura sibuk membaca, jadi nggak konsen sama panggilan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Kelihatan banget katroknya.</p>
<p>Akhirnya Om In kasi kode, trus nunjukin bagaimana di dalam pesawat nanti karena tentunya Om In tidak bisa mengantar sampai ke dalam pesawat. Saya manggut-manggut. Dan masuk. Nah, untuk apa pramugari? Jawabannya : untuk ditanya-tanyai. Begitu masuk saya langsung nyamperin pramugari, minta anter ke kursinya. Hehe.</p>
<p>Eh, gag taunya duduk paling depan. Duduk di tengah, di sebelah kanan bapak-bapak gendut pake jas rapi, di sebelah kiri bapak-bapak pake jas rapi n gendut juga. Saya matut diri : kecil, kurus, nggak rapi, make kemeja kuliah, gelang-gelang nggak jelas di tangan kiri, jam 20an ribu di tangan kanan, celanan jeans yang udah jelek banget jahitan bawahnya karena sering diinjak-injak, dan sepatu 30an ribu. Hahahahaha.</p>
<p>Ya udah cuek aja deh. Anggap aja traveller cuek yang udah biasa naik pesawat. Saya sapa kanan kiri, basa basi, ada acara apa Pak ke jakarta? #Hahah,sokbangetsaya. Ternyata yang satu anggota DPR salah satu daerah di Sumbar, yang satu lagi pebisnis yang ada proyek di Jakarta. Pas saya ditanya, adek ada acara apa? Saya jawab padat, “Saya Mahasiswa”. Terus sambung dengan, “saya pertama kali naik pesawat, Pak”. <del>#Aiih,akhirnyajujur #demikeselamatanduniakhirat.</del> Saya mulai bercerita tentang kampus yang saya duduki, tentang acara yang akan dikunjungi, serta tentang dua teman saya yang beda jadwal pesawat. Dua Bapak itu manggut-manggut.</p>
<address>Oh ya, tahukah? Saat pesawat take off, saya berekspresi seperti naik Roll Coaster. (Pejemin mata, pegang kursi erat-erat -sebenernya nggak perlu pegang kursi erat-erat-, jantung dag dig dug). Well, walaupun sebelumnya saya nggak pernah naik Roll Coaster, minimal saya pernah dulu banget naik Halilintar. Hahah.</address>
<p>Dua Bapak di sebelah saya udah tidur aja, sebelum ini pesawat terbang lurus -__-. <del>#kecewa, saya mau ngobrol, Pak….</del> Pada saat keadaan udah aman, lampu udah dinyalakan, ada Bapak-bapak yang jalan-jalan di dalam pesawat, kayaknya ke toilet. Pada saat itu sempat mikir, gimana yah rasanya berjalan di pesawat yang lagi terbang? Selama ini saya sudah sangat sering jalan-jalan di dalam Bis Kota yang lagi ngebut. Hehe. Saya juga pengen tahu bagaimanakah wajah toilet pesawat itu. Namun penasaran itu saja pelihara saja. Pada saat itu belum berani bertindak <em>&#8220;lasak&#8221;.</em></p>
<p><em></em>Berhubung dua Bapak tadi tidur, saya sibukkan diri dengan baca-baca, melahap semua apapun yang bisa dibaca disana, sambil dalam hati nggak henti berzikir. Setelah apa yang dibaca terasa nggak menarik, malah lebih menarik baca peringatan mematikan handphone- saya meniru-niru saja dua Bapak di sebelah saya. Tidur!. Tepatnya, memejamkan mata. Dan itulah yang terjadi selama di dalam pesawat, sekitar 1,5 jam merem tapi nggak tidur, tubuh tegang, dan telinga <em>aware</em> terhadap setiap bunyi yang ada. Saya baru membuka mata pada saat dari <em>speaker</em> terdengar bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Fiuuh, itu 1,5 jam serasa setahun. -__-</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Well, tahukah dalam rangka apa perjalanan pertama ini? Ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri Rakernas VII ISMKMI. Kemudian betapa nama itu ISMKMI melekat kepada saya hingga sekarang, ia yang membawa saya terbang, keliling kemana-mana, sekaligus awal dari dimulainya perjalanan dari Bandara ke Bandara ini.</p>
<p>Thanks ISMKMI dan thanks a lot buat teman-teman yang setelah hari itu, pernah naik pesawat bareng saya dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) :</p>
<ol>
<li>Ade Somantri yang juga berangkat shubuh-shubuh, diantar Jendra ke rumah, dari rumah nge-taksi ke BIM, berangkat ke Jakarta utk Workshop TCN.</li>
<li>Elvira Yunita, Shara Jeane, + Andrika Ariyoni yang mendadak muncul di BIM, menikmati perjalanan ke Medan di tengah cuaca buruk, ngeri banget di pesawatnya.</li>
<li>Teman-teman peserta Stuband yang 30an orang, itu satu pesawat heboh dengan kegejean anak-anak yang bandel nggak duduk sesuai nomer tiket. Hahay.</li>
<li>Taufik Hidayat dalam perjalanan menuju Surabaya, eh si Taufik pake sendal jepit.., d^^b Jempooll….</li>
</ol>
<p>Lama kelamaan, saya belajar, naik pesawat sebenernya sama aja dengan naik angkot. Dulunya saya katrok sumpah, segala barang baru (meskipun harganya 20-30rb) gara-gara takut dibuang di tengah jalan kalau make baju lusuh dan sepatu lusuh. XDDDD #katroksumpah</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1289&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2012/01/25/pesawat-oh-pecawatt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2012/01/icxzw-u-cs_20111.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">iCxzw.u.cs_20111</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pada suatu magrib</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/12/12/pada-suatu-magrib/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/12/12/pada-suatu-magrib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 07:17:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[pada suatu magrib aku gelisah. berkeliaran bersigegas, bertingkah bergejolak. kau belum datang! berusaha bersikap tenang, walau galau tak urung tersembunyikan. &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/12/12/pada-suatu-magrib/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1278&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pada suatu magrib<br />
aku gelisah. berkeliaran bersigegas, bertingkah bergejolak.<br />
kau belum datang!</p>
<p>berusaha bersikap tenang, walau galau tak urung tersembunyikan.<br />
&#8220;jangan resah begitu,&#8221; ujar seorang teman di sebelah kanan.<br />
kupikir aku bisa bersikap tenang dan meledeknya yang meledekku di sebelah kanan.</p>
<p>setengah berbisik kau kupertanyakan, &#8220;sudah ada dimana?&#8221;<br />
tapi mereka sibuk dalam kesibukan, mengurusi kertas-kertas, berbicara keras-keras</p>
<p>kau masih dalam perjalanan.<br />
tak semestinya aku merawat kegelisahan, &#8220;dia sudah dewasa,&#8221; kata mereka.<br />
aku diam.</p>
<p>kau datang!<br />
ah, akhirnya kau datang dalam keadaan yang melekat di pandangan.<br />
kupastikan jalanan dan orang-orang kota ini membuatmu sesak.</p>
<p>aku beranjak, ingin menyambut dengan memeluk.<br />
tapi yang terlakukan hanya bertanya, &#8220;jam berapa sampai di terminal?&#8221;</p>
<p>kau menjawab, tapi jawabanmu tak melekat di kepalaku,<br />
yang melekat hanya wajahmu, wajah yang selama ini kulihat dengan suara.</p>
<p>pada magrib yang menua,<br />
aku memandangmu dalam-dalam<br />
di sebuah kota,<br />
Jakarta,<br />
pertemuan pertama<br />
setelah kudengar suara-suara.</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1278&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/12/12/pada-suatu-magrib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Habibie &amp; Ainun : lelaki bersinar dan perempuan disampingnya.</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/11/22/habibie-ainun-lelaki-bersinar-dan-perempuan-disampingnya/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/11/22/habibie-ainun-lelaki-bersinar-dan-perempuan-disampingnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 14:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1264</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Behind every successful man is a woman&#8221; Pepatah tersebutlah yang paling cocok untuk menggambarkan intisari pesan yang ingin disampaikan oleh satu buah buku &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/11/22/habibie-ainun-lelaki-bersinar-dan-perempuan-disampingnya/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1264&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><img class="alignleft" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/11/bj_habibie_dan_ainun_habibie_100629164426.jpg?w=360&#038;h=260" alt="" width="360" height="260" />&#8220;Behind every successful man is a woman</em></strong>&#8221; Pepatah tersebutlah yang paling cocok untuk menggambarkan intisari pesan yang ingin disampaikan oleh satu buah buku yang ditulis oleh B.J. Habibie: Habibie &amp; Ainun.</p>
<p>Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan gambaran lengkap mengenai kehidupan Habibie dan kehadiran serta sang istri tercinta di dalam kehidpannya. Masa-masa mereka berpacaran, menikah, merantau di Jerman, hingga berkarya di Indonesia; semuanya diceritakan dengan singkat namun lengkap.</p>
<p>Selain bercerita mengenai cinta mereka, buku ini juga tentu saja diwarnai dengan tiga hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dua pribadi yang  telah manunggal dalam jiwa, roh, batin dan nurani sepanjang masa, sampai akhirat ini, yaitu: iptek, nasionalisme, dan kehidupan agamis.</p>
<p>Ainun, sebagai tokoh sentral dalam buku ini, sepanjang hidupnya telah sukses menjadi istri dan ibu yang baik. Tidak hanya itu, dukungan dan cintanya kepada Habibie diwujudkan dalam bentuk mendukung visi dan <em>passion</em> yang dimiliki suaminya untuk ikut aktif membangun negeri. Tanpa mengeluh dan protes, dirinya selalu sabar di dalam menemani dan mendukung suaminya kemanapun suaminya pergi. Dirinya adalah sosok yang rendah hati, selalu tersenyum, mandiri, penuh kasih sayang dan juga peduli. Tidak heran apabila dirinya merupakan inspirasi dan semangat yang tidak pernah padam bagi Habibie, bahkan ketika dirinya sudah tidak bersamanya lagi secara fisik di dunia.</p>
<p>Pasangan Habibie-Ainun disebut-sebut sebagai Romeo &amp; Juliet masa kini. Saling setia hingga maut memisahkan–yang menjadi pesan utama kisah Romeo &amp; Juliet–telah diintepretasikan oleh pasangan ini sebagai sikap saling mencintai, menyayangi, mendukung, memahami, memiliki dan kemanunggalan yang tidak pernah terhenti oleh batas ruang dan waktu. Sungguh merupakan bentuk nyata  cinta yang mendatangkan inspirasi dan layak menjadi panutan semua orang.</p>
<p>Namun ketika itu, saya tidak mampu lagi menahan emosi dan kesedihan saya, karena bingung. Saya bingung karena janji yang saya  pernah berikan kepada Ainun untuk selalu mendampinginya di manapun ia berada. Bagaimana kriteria berada “di bawah satu atap” dapat saya penuhi? Saya memanjatkan doa kepada Allah SWT dan memohon petunjukNya. Apakah saya segera ikut saja ke liang kubur? Bagaimana caranya? Dalam keadaan ketidakpastian, kebingungan dan sedih saya menangis.</p>
<p>“Ainun, jiwa, roh, batin dan nurani kita sudah manunggal dan atap kita bersama adalah langit alam semesta. Karena itu Ainun tetap berada di samping saya dan saya di samping Ainun, di mana saja kami sedang berada sepanjang masa.”</p>
<p>Manunggal, pada akhirnya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan secara utuh kehidupan bersama mereka selama 48 tahun 10 bulan, dan juga kebersamaan mereka kini hingga seterusnya meski sudah tidak satu alam dan dimensi.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/11/bjhabibie.jpg?w=700&#038;h=466" alt="" width="700" height="466" /></p>
<p>Selasa malam 30 November ini, Bacharudin Jusuf Habibie meluncurkan buku &#8220;Habibie &amp; Ainun&#8221; yang disebut sejumlah kalangan sebagai buku tentang cerita cinta abadi dua anak manusia. Kehidupan penuh cinta pasangan Habibie dan Hasri Ainun memang bisa menjadi bahan ajar menarik untuk keadaan sosial kini yang terlalu dimabuk kabar selingkuh, cerai, sensasi syahwat dan birahi.</p>
<p>Mereka menguak kisah cinta sejati dan kesetiaan yang membangkitkan takjub, selain menjadi cermin kepada siapa keluarga-keluarga berkaca. Kesetiaan tiada koma dari sang ilmuwan cemerlang kepada istrinya itu, telah menegaskan bahwa cinta abadi itu ada.</p>
<p>Ketulusan cinta Habibie-Ainun dan keromantisan mereka mungkin seindah kuasa cinta yang membalut perjalanan kasih Roro Mendut dan Pronocitro, Laila dan Majnun, Mumtaz Mahal dan Shah Jehan, Guinevere dan Lancelot, Scarlett O’Hara dan Ashley Wilkes, atau pasangan dalam roman-roman lainnya.</p>
<p>Tentu saja kisah cinta Habibie-Ainun tak setragis kisah dalam roman-roman itu. Freddy Mercury, vokalis band legendaris Queen, hanya bisa bersenandung cinta sejati dalam lagunya, &#8220;<em>I was born to love you/With every single beat of my heart// Yes, I was born to take care of you/Every single day of my life// You are the one for me/I am the man for you// You were made for me//</em>&#8220;</p>
<p>Habibie juga melantunkan kidung amor seperti Freddy, dengan berkata, &#8220;Ainun tercipta untuk saya, dan saya tercipta untuk Ainun.&#8221; Tapi Habibie lebih dari itu, karena untaian syair indah itu dia terjemahkan dalam laku keseharian kepada sang pasangan hati.</p>
<p>&#8220;Cinta mereka tidak pernah berkurang, justru terus bertambah,&#8221; kata buah hati mereka, Thareq Kemal Habibie, kepada satu televisi nasional beberapa waktu lalu. Mereka melihat satu sama lain secara mendalam, tak hanya dari eloknya paras, indahnya lekuk tubuh atau merdunya suara. Sebaliknya, mereka memaknai wajah mereka sebagai nilai-nilai dari mana keluarga harmonis ditata</p>
<p>Mereka seolah melanggamkan puisi pujangga besar William Shakespeare, &#8220;Di wajahmu Aku lihat kemurnian, kebenaran, dan kesetiaan.&#8221; Di tengah dunia yang dibalut glamor, seksualitas ekstrem, pemujaan benda, dan pernikahan berimamkan nafsu, dua sejoli itu mempertontonkan cinta sejati yang mempesona nan menggetarkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cinta sejati</strong></p>
<p>Kesetiaan Habibie mengingatkan pada salah satu kisah kasih agung di era modern, antara dua ilmuwan brilian, Pierre Curie dan Marie Sklodowska Curie. Sebagaimana Habibie dan Ainun, Pierre dan Marie dipersatukan oleh cinta. Keduanya tak saling mencari untung, tak pula saling menuntut, apalagi memanipulasi kelebihan, pencapaian dan kedudukan pasangannya. Mereka bersenyawa menjadi ekajiwa dwitubuh karena menganggap satu sama lain sebagai belahan jiwa.</p>
<p>Pesona cinta memang menyentuh kalbu semua orang, dan manakala itu merasuk pada dua anak manusia yang ikhlas berbagi rasa dan dipersatukan oleh ketertarikan sama, maka hidup menjadi lebih berbunga. Itulah yang dirasakan Marie dan Pierre, dan mungkin pula dinikmati Habibie dan Ainun, serta semua pasangan sejiwa lainnya. Adalah kecerdasan dan ketekunan Marie yang membuat Pierre jatuh hati. Setelah beberapa kali gagal dipinang Pierre, perempuan Polandia itu menerima cinta Pierre dan berlanjut ke pernikahan pada 1895. Pernikahan itu kian menyatukan mereka, hingga bermitra demi sains.</p>
<p>Masa-masa sulit berhasil mereka lalui, karena mereka selalu berbagi, saling mengisi dan merasa saling membutuhkan. Sukses akhirnya mereka capai pada 1898 setelah menemukan polonium dan radium. Untuk upayanya itu, mereka, bersama Antoine Henri Becquerel, dianugerahi Nobel Fisika pada 1903.</p>
<p>Hidup Marie berantakan setelah Pierre meninggal dunia pada 1906. Tapi, cintanya yang tak pernah padam pada suami, membuat Marie bangkit menapaki jalan yang diretas belahan jiwanya untuk menjadi profesor fisika dan meraih lagi Nobel kimia pada 1911. Namun, di tengah kesuksesan itu, Marie tetap merindukan Pierre. Marie merasa dia adalah Pierre, dan Pierre adalah dia. Pada 1934 Marie menyusul Pierre ke alam baka karena leukemia.</p>
<p>Seperti Marie, Habibie juga amat kehilangan belahan jiwanya, seolah setengah hatinya terenggut. Habibie mengatakan tak akan melewatkan sehari pun berziarah dalam masa 40 hari setelah wafatnya sang istri. Sungguh satu ungkap kesetiaan mendalam dari seorang pecinta sejati.</p>
<p>Habibie seolah mendeklamasikan puisi pujangga besar Persia, Jalaluddin Rumi, &#8220;Aku mungkin bisa menutup bumi dengan taburan melati/ Aku dapat saja memenuhi samudera dengan tangisan/ Aku bisa saja mengguncang surgawi dengan pepujian/ Tapi tak satu pun dari semua itu dapat meraihmu.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ideal</strong></p>
<p><strong></strong>Habibie-Ainun adalah gambaran otentik mengenai wujud doa setiap pasangan nikah untuk hadirnya keluarga harmonis yang dibalut kesetiaan. Habib Ali Almuhdar, guru mengaji Keluarga Besar Habibie, berkata, &#8220;Keluarga Habibie adalah keluarga sakinah mawaddah warohmah.&#8221; Artinya, keluarga itu senantiasa diliputi kasih sayang dan menjalankan perintah Tuhan sehingga selalu dilimpahi rahmat-Nya.</p>
<p>Habibie-Ainun, serta keluarga-keluarga lain seperti mereka, merekatkan ikatan keluarga di atas fondasi saling menyadari dan mengakui perbedaan-perbedaan mereka. Mereka bersatu menjadi dua belahan jiwa yang bersenyawa dalam satu tubuh di mana sang perempuan menutup ketaksempurnaan emosi pria, sebaliknya kesenjangan nalar pada perempuan ditutup sang pria. Jika keadaan itu membawa keutuhan kepada keduanya, maka kebersamaan mereka adalah perkawinan sejati antardua sejiwa sehati.</p>
<p>Mengutip para pakar spiritual, tatkala jiwa-jiwa seperti itu menyatu, pikiran-pikiran tentang seks tak lagi dominan. Sebaliknya, makin dominan persatuan seks, makin hambar sebuah persenyawaan spiritual. Jika persenyawaan spiritual itu kian kuat, maka dua jiwa itu kian rapat menyatu. Inilah level di mana perkawinan sejati antardua belahan jiwa telah tercipta, sebagai mana Tuhan rencanakan untuk setiap manusia.</p>
<p>-dikutip dari <a href="http://afkaridiskon.blogspot.com/2011/04/habibie-dan-ainun.html">http://afkaridiskon.blogspot.com/2011/04/habibie-dan-ainun.html</a>-</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1264&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/11/22/habibie-ainun-lelaki-bersinar-dan-perempuan-disampingnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/11/bj_habibie_dan_ainun_habibie_100629164426.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/11/bjhabibie.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Seminar Penelitian Efektifitas PERDA No. 8 Tahun 2009</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/seminar-penelitian-efektifitas-perda-no-8-tahun-2009/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/seminar-penelitian-efektifitas-perda-no-8-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 03:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1223</guid>
		<description><![CDATA[Kamis 10.11.11. dalam kegalauan akan judul skripsi yang &#8220;waw&#8221; dan waktu yang semakin lama semakin sempit, akhirnya saya berkesempatan ke &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/seminar-penelitian-efektifitas-perda-no-8-tahun-2009/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1223&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luia1k7oBa1r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<p>Kamis 10.11.11. dalam kegalauan akan judul skripsi yang &#8220;waw&#8221; dan waktu yang semakin lama semakin sempit, akhirnya saya berkesempatan ke Padang Panjang. Namun bukan dalam rangka melakukan penelitian melainkan menghadiri seminar penelitian tim peneliti dari Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Penelitian keren tersebut berjudul  &#8221;<strong>EFEKTIFITAS PERDA NO. 8 TAHUN 2009 DALAM PERUBAHAN PRILAKU HIDUP SEHAT MASYARAKAT KOTA PADANG PANJANG.</strong>&#8221; Penelitian tersebut berlangsung sejak Juli hingga diseminarkan November ini. <strong>Ketua Tim Peneliti : DR. Zulkarnain Agus, SpGK. </strong></p>
<p><strong></strong>Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa PERDA No.8 Tahun 2009 ini merupakan langkah cerdas pemerintah Kota Padang Panjang dalam membentuk prilaku hidup sehat masyarakat kota. Namun perlu ada penyempurnaan terutama untuk sanksi dan sosialisasi. Sehingga tidak terjadi kerancuan dalam aturan.</p>
<p><strong><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luia2oiPaZ1r25kjs.jpg" alt="" /><br />
</strong></p>
<p><strong>Usai Seminar, dijamu Walikota Padang Panjang di Rumah Makan Pak Datuk Padang Panjang</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1223&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/seminar-penelitian-efektifitas-perda-no-8-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luia1k7oBa1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luia2oiPaZ1r25kjs.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>something special</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/something-special/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/something-special/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 03:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1226</guid>
		<description><![CDATA[ (yang belum pernah ke Padang ) Dua bulan ini banyak adik-adikku yang ultah. Siang tadi, bersama Prima Kurniati Hamzah, sembari &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/something-special/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1226&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:line-through;"> (yang belum pernah ke Padang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</span></p>
<p>Dua bulan ini banyak adik-adikku yang ultah. Siang tadi, bersama Prima Kurniati Hamzah, sembari makan siang, memotret beberapa gambar. Untuk adik-adikku, cuma bisa kirim ini, nanti kalau sudah &#8220;besar&#8221; Uni kirim yang lebih &#8220;BESAR&#8221;. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Selamat ulang tahun, saudara yang kusayang. Love u coz Allah SWT. :&#8217;)</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid3tES3n1r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid4v8HjY1r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid5dv2NK1r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid5vG8641r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid66iiYo1r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid6iCZ5P1r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<p>Dipotret di sela-sela makan siang. Mm, mumpung ada jus Sirsak, numpang nongol disini yaaah :p</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid6yPTmv1r25kjs.jpg" alt="" /><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luid7dzF5N1r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1226&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/11/09/something-special/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid3tES3n1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid4v8HjY1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid5dv2NK1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid5vG8641r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid66iiYo1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid6iCZ5P1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid6yPTmv1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luid7dzF5N1r25kjs.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Barakah Ied Adha</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/11/06/barakah-ied-adha/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/11/06/barakah-ied-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 23:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Semalam keluarga dari kampung datang ke rumah. Selain karena ada bisnis dengan ayah juga sekalian silaturahim. Satu keluarga diboyong semua &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/11/06/barakah-ied-adha/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1229&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semalam keluarga dari kampung datang ke rumah. Selain karena ada bisnis dengan ayah juga sekalian silaturahim. Satu keluarga diboyong semua ke Padang. Dan beginilah kalau ada yang datang ke rumah, ibu akan menjamu luar biasa, sibuk ini itu, dan pastinya ada makanan. Menu semalam adalah Mie Goreng Tomat ^^.</p>
<p>Keasyikan ngobrol, main, dan lain-lain, akhirnya pukul 23.30 WIB memutuskan untuk balik ke kampus karena besok harus menyambut lebaran. Saya termasuk yang jarang pulang kampung bila lebaran karena memang saat ini tinggal di sekitar keluarga ayah sehingga sudah terbiasa lebaran diantara keluarga ayah (yang semestinya di Minang itu berkumpul bersama keluarga Ibu).</p>
<p>Singkat kata, sebelum pulang, Kuti (begitu saya memanggilnya) mengajakku untuk pulang kali ini. Dan Jgeeerr!!! Macam diculik, serupa kilat, sambar baju-handphone-sikat gigi, berangkat. Dompet pun ketinggalan saking buru-burunya.</p>
<p>Saya sampai di kampung sekitar pukul 01.30 WIB. Pukul 07.00 WIB satu lagi rombongan keluarga ibu datang untuk berlebaran bersama. Pukul 07.15 WIB berangkat ke Masjid untuk sholat Ied.</p>
<p>Sumbar masih mendung. Meski di sela-sela khutbah sempat turun rintik hujan yang menambah corak dari beberapa mukena parasut yang dikenakan jamaah. Cuaca benar-benar cerah saat jamaah pulang ke rumah masing-masing. Namun sempat hujan lebat qabla dzuhur, bertepatan dengan selesai disemblihnya hewan qurban seakan air itu mempercepat mengalirnya darah-darah dari sapi dan kambing yang selesai disemblih. Lalu cerah lagi ba&#8217;da dzuhur saat warga mengganti kupon dengan sekantong daging. Subhanallah. Skenariomu hari ini indah ya Allah. :&#8217;)</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luidhkUU461r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<p>Sorenya saya harus balik ke Padang. Namun sebelum itu sempat bersepeda ria dengan adek sepupu mengunjungi beberapa keluarga. Kakekku, ya kakekku, meski bukan kakek kandung, namun beliaulah yang memberikan &#8220;peluang&#8221; bagiku untuk terus mengabdi selama menjadi mahasiswa dengan mampu meluluhkan hati kedua orangtuaku sehingga mengizinkanku mengambil keputusan besar itu. Kakekku saat ini terbaring lemah di dipannya. Sakit liver. Kakinya sudah tidak mampu berdiri lagi. Ya Rabb, sembuhkan kakekku. Berikanlah beliau nikmat kesehatan di usia senjanya&#8230; Aamiin. :&#8217;)</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luidhx3ipX1r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<p>Perjalanan menuju rumah kakek (kampungku, Alhamdulillah jalanannya masih rapi, tertata, dan asri)</p>
<p>Ba&#8217;da Ashar, saya bertolak ke Padang sambil membawa sekantong daging, berkah daging dari kampus. Pukul 5 sore, sampai di rumah. Ibu masih berkutat di dapur. Sop sudah jadi, Kalio daging hampir jadi, dan Dendeng akan dimasak. Aku ikut berkutat dengan ibu, meski pada saat yang bersamaan, aku juga berkutat dengan laptop, sambi menyambi. Indahnya menjadi perempuan. Ayah yang tahu hari-hariku selalu dengan laptop meletakkan posisi meja dan kursi untukku berdekatan dengan dapur. Sehingga mau tak mau, aku tetap harus peduli pada dapur.</p>
<p>Berikut yang akhirnya tersaji ba&#8217;da magrib :</p>
<p>(ps : yang dalam photo porsi kecil, yang dibuat porsi besar, yang tahan lama. Hehe)</p>
<p><img src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/391213_2596460239683_1500030543_2834070_729217339_n.jpg" alt="" width="240" height="180" /><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310439_2596460479689_1500030543_2834071_1916694333_n.jpg" alt="" width="400" height="300" /><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/392704_2596460839698_1500030543_2834072_683997262_n.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Ba&#8217;da Isya, ini yang tidak mengenakkan, kondisi dapur yang berantakan, dan saya harus dinas malam : cuci piring porsi besar&#8230; Hoho.</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_luidieIwlu1r25kjs.jpg" alt="" /></p>
<p>Hehe, sedih lihat dapur. ^^</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1229&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/11/06/barakah-ied-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luidhkUU461r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luidhx3ipX1r25kjs.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/391213_2596460239683_1500030543_2834070_729217339_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310439_2596460479689_1500030543_2834071_1916694333_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/392704_2596460839698_1500030543_2834072_683997262_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://media.tumblr.com/tumblr_luidieIwlu1r25kjs.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>4hours Confusion</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/11/03/4hours-confusion/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/11/03/4hours-confusion/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 17:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[4jam GALAU. ;D Yah, setidaknya ini jadi pelajaran bagi saya agar &#8220;TIDAK KEMANA-MANA KALAU LAGI SAKIT&#8220; Heerrgh!!! Yah, meskipun biasanya juga sering &#8220;kemana-mana&#8221; &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/11/03/4hours-confusion/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1218&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>4jam GALAU. ;D</p>
<p>Yah, setidaknya ini jadi pelajaran bagi saya agar <strong>&#8220;TIDAK KEMANA-MANA KALAU LAGI SAKIT</strong>&#8220; <span style="text-decoration:line-through;">Heerrgh!!!</span> Yah, meskipun biasanya juga sering &#8220;kemana-mana&#8221; kalau lagi sakit, cuek aja. Tapi kali ini kerasa banget &#8220;<em>fear factor</em>&#8220;nya.</p>
<p>Jadi cerita sebelumnya, seharian kemarin sampai tadi siang ditemani Pijut &amp; Inyut di rumah. Mereka datang demi melihat &#8220;apa yang terjadi padaku, sakit apakah, sampai-sampai itu workshop penting nggak datang?&#8221;. Awalnya mereka berdua cuma kunjungan (alias bezuk kali yah). Tapi kelamaan reunian, kelamaan ngobrol mulai dari ngaconya zaman SMA sampai cari jodoh. <span style="text-decoration:line-through;">Eeaa&#8230;</span> Ngobrol dengan ditemani tumpukan buku :</p>
<ol>
<li>1. Agar Bidadari Cemburu Padamu, Salim A. Fillah</li>
<li>2. Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah</li>
<li>3. Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah</li>
<li>4. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah</li>
<li>5. Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana, Jauhar Al-Zanki</li>
<li>6. Dialog dengan Cinta, Ruslan Ismail Mage</li>
<li>7. Sungguh, Aku Mencintaimu karena Allah, Pipiet Senja, dkk</li>
<li>8. Ya Allah, Izinkan Ia Menjadi Pendampingku, Ummu &#8216;Aisya, et.al</li>
<li>9. ga-gi-gu GiGi, Lia Indra Andriana</li>
</ol>
<p>ps1 : Setelah dideret begini baru sadar, ini buku serial &#8220;menikah&#8221; udah banyak banget yaak di pustakaku. :hehe. Oyah, itu no.9 kayaknya gag sejenis deh sama yang lainnya, tapi kenapa ada di tumpukan ini? #mikir =_=aa #lupakan.</p>
<p>ps2 : bahas cinta, jodoh, lelaki, dan wanita bersama Ibu dihadapan Al-Quran terjemahan, duduk berhadap-hadapan, dan mengkaji beberapa surah pilihan dalam buku-buku yang dibaca random, ^^serasa halaqah^^.</p>
<p>ps3 : buku-buku diatas <em>&#8220;add to cart&#8221; </em>alias wajib beli, wajib punya, dan wajib baca.</p>
<p>Okay, sekilas tentang hari kemarin. Kembali ke masalah <strong><em>4hours confusion,</em></strong> Pijut n Inyut akhirnya nginap dan pulang sekitar jam 12an siang tadi yang dilepas dengan tetesan air mata. Ini beneran, bukan lebay. <span style="text-decoration:line-through;">Karena sesungguhnya saya butuh banyak &#8220;orang&#8221; untuk berbagi penderitaan yang sudah tidak sanggup dipendam sendirian ini.</span></p>
<p>Berjarak 4menit saja, saya ditelpon Dekanat, diminta segera ke kampus. Ya, sebenarnya saya sudah pernah di-sms sebelumnya untuk ke kampus, tapi waktu itu benar-benar tidak sanggup keluar rumah. &#8220;Nilna, masih sakit? Bisa diburu ke kampus sekarang nggak dek, ada yang mesti ditandatangani,&#8221; ujar telpon di ujung sana. Nggak enak dan merasa tubuh sudah baikan, saya menyanggupi untuk ke kampus. Memang, ini sudah masuk November, ada beberapa perihal yang harus saya tanda tangani.</p>
<p>Jam 1 berangkat ke kampus. Begitu sampai di kampus, orang yang pertama dilihat adalah Pak Dekan tercinta. Bapak lagi ngobrol sama Bu dr. Arina di depan ruang rapat (dua orang yang sebenarnya saya kagumi). Begitu saya muncul, Bapak yang lagi ngobrol sama Ibu, langsung mengalihkan pandangan ke saya dengan pertanyaan, &#8220;Kok nggak muncul-muncul?&#8221; tanya Bapak. Tapi wajah beliau cerah, tidak marah, Alhamdulillah. &#8220;Saya sakit, Pak,&#8221; ujarku senyum <span style="text-decoration:line-through;">tapi lesu</span>. Antara bahagia dan sedih saat Bapak harus berhenti ngobrol dulu demi melihat saya. T.T</p>
<p>Pak Dekan adalah penguji skripsi saya. Beliau <em>interest</em> dengan judul skripsi yang saya ajukan. Sedih saja rasanya saat saya malah menyia-nyiakan waktu dengan sakit yang tidak jelas ini. <span style="text-decoration:line-through;">Hergh!</span></p>
<p>Selesai tanda tangan dan bikin janji bertemu dengan Pak Dekan, saya memutuskan tidak kemana-mana, termasuk tidak mengunjungi Gedung PSIKM yang berjarak sekitar 100 meter ke belakang. Hanya saja sempat bertemu dengan KaProdi di Dekanat dan beberapa adek kelas yang kebetulan lewat. Buat adek-adekku, cheer Up!!! #Aih, proker kalian banyak sekali dan dilakukan semua. HEBAT!</p>
<p>Tapi sebelum pulang, ada seesuuaatuu yang harus saya beli (Syah4huruf banget lah ya). Berpikir bahwa kemungkinan saya akan terpenjara oleh diri sendiri lagi, mumpung lagi di luar, kenapa tidak ke pasar, dan membeli sesuatu itu. Tahukah sesuatu itu apa, Hello Kitty. Hehe, unyuu unyuu.</p>
<p>Dan disitulah <em>#nearmiss</em> itu kejadian. Bego banget saya nyebrang gag liat-liat dan gag dengar-dengar. Mobil pemadam kebakaran lewat, saya menggeje, nyaris tertabrak, untung nggak jadi, untung masih nyaris. Alhamdulillah. Ini jantung serasa mau copot. Kepikiran, kenapa saya malah nggak awas pendengaran. <span style="text-decoration:line-through;">(melirik headset, tersangkanya headset,handphone,dan suara operator yang cerewet.<em>Hergh!</em></span></p>
<p>But, trip must go on! Saya tetap mau cari Hello Kitty. Yap, sebelum benar-benar<em>homerest </em>(istilah baru, karena saya nggak murni bedrest). Saya sempat keliling Padang hunting Hello Kitty. Tapi ya, berhubung Padang kota Sedang, jadi ya stock Hello Kitty-a nggak sebanyak Jakarta, Surabaya, Makassar, dan kota-kota besar lainnya. Sebelumnya sempat minta tolong beberapa orang, tapi nggak enak banget minta tolong orang buat sesuatu ini. Hehe. Tapi, makasi ya buat yang udah mau bantuin, Hug Chitra (located in Makassar), Hug Ambar (located in Surabaya).</p>
<p>Dalam perjalanan, saya berubah pikiran, berhubung ini Hello Kitty udah 4hari saya cariin gag dapet-dapet. Sebenarnya bukan tidak ada produknya, cuma nggak sreg aja sama beberapa yang ada. Akhirnya, angkot yang udah distop dengan cengengesan saya ralat, &#8220;Hehe, nggak jadi Pak. Di depan aja turunnya.&#8221; Hheheh.. #parah.</p>
<p>Eh, ternyata hujan. Awalnya gerimis, trus hujan, trus hujan lebat. Huaaaa&#8230;. Untung bawa payung (anak kesmas, sedia payung sebelum hujan. #Ayye!!!) Meskipun saat matut diri saya banyak salahnya, baju tipis dan bukan sepatu plastik. Harusnya saya sadar, siang sampai sore Padang sering hujan. Minimal pakai sepatu plastik lah&#8230; Ya sudah, udah kejadian.</p>
<p>Akhirnya sesuatu (yang bukan Hello Kitty) itu saya dapatkan</p>
<p>sesuatu yang bertuliskan</p>
<p><strong>&#8220;Sudahkah Anda ke Padang?&#8221;</strong></p>
<p>dengan kemasan apik bertuliskan <strong>&#8220;Kapan ke PADANG Lagi?</strong></p>
<p>Yipiiee&#8230; setelah hunting Hello Kitty kemana-mana en nggak nemu yang pas, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sesuatu khas Padang yang pastinya nggak ada dimana-mana. Horray. (Tapi belakangan diketahui klo tokonya buka cabang di Jakarta n Bukittinggi. Wkewke. Gapapa. Gag ngaruh juga. :p )</p>
<p>Okay, saatnya pulang. Sebelum pulang, saya harus menyinggahi beberapa toko lagi. Hujan masih belum reda. Saat melewati pasar inilah, pikiran kemana-mana. Berpayung sendirian di tengah warna warni payung yang bertebaran, di tengah ramainya pasar kala hujan. Berasa sepi. Mendadak galau. Kebayang orang-orang yang disayang. #<span style="text-decoration:line-through;">ealaah,</span> Andaikan ada dia, ada mereka, ada orang-orang yang selalu memenuhi ruang hati dan gerak ini. Ya, mereka, siapa lagi. Mereka yang akan datang di Bulan Februari 2012 nanti -mungkin 2013 juga, entah, #abaikan- <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Sungguh menantikan mereka datang menyaksikan kota Padang tempat berdiamnya<strong>&#8220;Uni&#8221;</strong> mereka ini. Sederhana, sedang, biasa, tapi menyisakan kenangan yang akan luar biasa. Pasti! Insya Allah. (Bisa-bisanya saya nangis sambil jalan di tengah pasar, <span style="text-decoration:line-through;">hergh!</span>)</p>
<p>Saking mellownya, sampai-sampai saya linglung lagi. Bisa-bisanya saya lupa dimana Toko Victory berada, sampai-sampai bolak-balik 2 kali nyari tokonya. Padahal saya sering kesana. Nggak mungkin pindah. Dan nggak mungkin saya bisa lupa, benar-benar heran sama diri sendiri yang bolak-balik cari toko ini. Apa mungkin 30hari ini saya amnesia pelan-pelan? Haeh, gag mungkin. #<span style="text-decoration:line-through;">pemikiranlebay</span></p>
<p>Akhirnya, 2 kali bolak-balik, saya nemu. Ternyata banyak mobil yang parkir dan orang-orang berpayung di sekitar sana yang membuat saya pangling. Heheh. #aneh. Selesai urusan di Victory.</p>
<p>Lanjut ke Sari Anggrek, salah satu dari sedikit Toko Buku Besar yang ada di Padang. Masuk, nitip tas+payung, dan lihat-lihat buku baru, serta mengambil beberapa kertas+amplop untuk masuk ke keranjang, ke kasir, bungkus. Sampai di tempat penitipan, oalah, saya bingung. Kartu Titipannya kok nggak ada ya? HILAAAAAANG&#8230; Ya Rabb, saya bikin repot satu uni, dua bapak. dan dua uda demi mencari kartu yang hilang. Alhasil, karena wajah saya emang nggak bisa dibohongi pucat n lesu, Bapak (kayaknya termasuk petinggi toko itu deh, lihat dari pakaiannya yang rapi) membolehkan saya pulang dengan catatan : jangan sampai ilang lagi! Huft, iya deh Pak&#8230; Linglung banget sayaaa&#8230;</p>
<p>Keluar dari toko, saya megang kertas-kertas, baju tipis, sepatu gag banget, hujan lebat, payung standar, HAJAR!!! Saya haus. Yah, meskipun dingin, tapi pikiran, jiwa, dan hati ini panas. Saya benar-benar dibuat pusing dengan kegejean yang ditimbulkan oleh &#8220;pihak-pihak&#8221; yang sampai sekarang lari dan tidak mau bertanggungjawab ini. Ya Rabb, lindungi saya, maafkan saya, dan ampuni mereka. :&#8217;(</p>
<p>Saya masuk ke warung kaki lima. Dagangannya Sate, sebelahnya ada es rumput laut. Kontras sekali. Di warung sate penuh banget, di warung Es Rumput Laut nggak ada orang sama sekali. Saat masuk pun, abang yang jualan pun mikir saya mau numpang neduh. &#8220;Bukan Bang, saya mau beli es rumput laut.&#8221; Abangnya ngangguk. Saya duduk. Sudah duduk, abangnya nanya lagi, &#8220;pakai es nggak?&#8221;. Saya jawab &#8216;iya&#8217; sambil mikir ini kan warung Es Rumput Laut kah, ya iyalah pake Es. ;D (nggak salah abangnya juga sih, cuma saya abnormal minum es dingin-dingin di hari hujan lebat angin kencang dan pastinya dingin ini). Whatever lah, saya haus.</p>
<p>Pukul 5 sore, saya sampai di rumah, basah dari atas sampai ke bawah, dan lelah. 4jam yang melelahkan, 4jam dalam kegalauan, <strong>4hours confusion</strong>. Saya ikrar pada diri sendiri, nggak akan kemana-mana lagi kalau lagi sakit<span style="text-decoration:line-through;">jiwa</span> kayak gini. Pusing di jalan, ketahuan pucat-lesu oleh bapak-ibu di dekanat, nyaris ketabrak, nyusahin sopir angkot, muter-muter nyari toko yang sebenernya sering kesana, kehilangan kartu titipan, dan bikin bingung abang penjual es rumput laut. Sampai rumah nyusahin ayah-ibu yang nyampe-nyampe saya langsung tepar. Ibu sampe bikinin teh hangat. :&#8217;) Terima kasih Ummiy&#8230;</p>
<blockquote><p><em><strong>(well, kali ini tulisannya bener-bener G.A.L.A.Y -galau alay-, juga mellow banget, tidak apa-apa ya, nimbrung di blog seperti ini sekali-kali. Selama ini twitter yang paling sering jadi korban. Sekarang nggak apalah show on details. Sakit apakah saya? Sampai sekarang belum berani ke dokter, yang pasti ini kepala suka sakit serasa ada air dingin yang mengalir dari ubun-ubun, entah ini apa. Tapi ditilik dari segi Emotional saya lebih sepakat dengan hasil searching yang menyatakan &#8220;Psikosomatis&#8221;. Hanya berdoa untuk &#8220;mereka&#8221; agar semakin baik dan berdoa untuk saya sendiri agar semakin baik pula. Dan &#8220;kami&#8221; akan benar-benar BAHAGIA. Aamiin Ya Rabb&#8230; Cheer Up <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tetap setia tetap ceria!)</strong></em></p></blockquote>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1218&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/11/03/4hours-confusion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Pagi, Nayella !</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/31/selamat-pagi-nayella-2/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/31/selamat-pagi-nayella-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 15:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1213</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, mentari bersinar seperti biasanya begitupun angin, daun, langit, dan hidupku. Aku terlahir sebagai anak kaku, pendiam, dan serba &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/10/31/selamat-pagi-nayella-2/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1213&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, mentari bersinar seperti biasanya begitupun angin, daun, langit, dan hidupku. Aku terlahir sebagai anak kaku, pendiam, dan serba teratur. Bagiku, kalimat orangtua adalah cambuk kehidupanku. Sekali saja aku tidak mengikuti perintah mereka, berkali-kali aku menerima pesakitannya. Terkadang aku muak dengan diriku sendiri. Aku bosan dengan diriku yang terlahir sedemikian rapi. Sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; begitu seterusnya.</p>
<p>Aku membolak balik koran pagi ini. Ini penting bagi aku sebelum aku benar-benar ketinggalan. Aku rasa kehidupanku telah memenjarakanku. Sampai saat ini pun aku hanya bisa makan, tidur, dan makan. Aku tidak kenal dengan apa yang disebut teman. Aku terkurung dalam rumah. Rumah besar yang aku diami bertahun-tahun. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi di luar. Koranlah yang menjadi harapan bagiku untuk mengenal dunia di luar sana. Aku ingin menjalani kehidupan seperti orang-orang yang bebas seperti mereka. Bukannya menjadi gelandangan di rumah besar ini.</p>
<p>&#8220;Mbak, waktunya sarapan.” Aku membaca kertas berbentuk notepad yang disuguhkan salah satu pekerja di rumahku. Aku mengedipkan mata. Ia mengerti dan berbalik ke dalam. Aku beringsut ke meja makan. Kedua orangtuaku telah duduk di meja makan. Sementara sebelas pekerja duduk di meja yang lainnya. Keluargaku cukup baik untuk mengajak mereka makan dalam waktu yang sama meskipun pada tempat yang berbeda. Dengan ini, kehormatan orangtuaku tetap terjaga.</p>
<p>”Nayella Istana, silahkan duduk dan makan.” Kalimat yang setiap hari aku lihat. ”Andrita Millia, silahkan duduk dan makan.” Begitu juga dengan kata-kata ini. Setelah aku, ayahku, dan ibuku duduk di meja makan, sebelas pekerja ikut duduk di meja yang lain. Sarapan pagi kami adalah sarapan tanpa denting. Tidak boleh sedikitpun terdengar suara. ”Nayella, mama dan papa pergi dulu. Kamu hati-hati di rumah.” Aku mengedipkan mata pelan. Dia ibuku, Andrita Millia, ia selalu menyapaku setiap pagi lewat secarik kertas bergambar hati. Hanya setiap pagi aku bisa melihat senyumnya. Dan ayahku, aku selalu lupa namanya, sedetikpun tak menolehkan pandangannya padaku. Sarapan pagi adalah pertanda waktu bagiku untuk menunggu siang hingga pekerja di rumahku menyerahkan secarik kertas. ”Mbak, waktunya tidur siang.”Dan aku akan beranjak dari tempatku duduk menuju kamar yang telah dirancang khusus untukku.</p>
<p>Aku Nayella Istana. Lahir dari keluarga terhormat tanpa cela. Ayahku dan ibuku mengizinkan aku hidup. Aku beruntung bisa hidup. Pada kenyataannya, aku anak kelima dari lima bersaudara. Tapi, keempat saudaraku lebih memilih untuk berhenti hidup. Akulah yang bertahan hidup. Akulah yang berhasil hadir menemani keluarga terhormat ini. Tapi, aku tak pernah berpikir dan tidak mau sadar bahwa aku anak seorang keluarga tanpa cela. Karena akulah cela itu.</p>
<p>Entah dosa apa yang aku lakukan. Aku terlahir tuna rungu. Aku lemah, lumpuh, dan tidak berguna. Semua yang aku lakukan digerakkan oleh alat. Hidupku hanya di dalam rumah. Aku dijaga oleh belasan pekerja ayahku. Orangtuaku tidak mau menjagaku. Mereka lebih suka menjaga kehormatannya daripada menjaga diriku. Karena itulah, aku tidak pernah tahu keadaan selain di dalam rumahku. Aku tidak sekolah, aku pun tak punya teman, dan aku tidak mengenal Tuhan.</p>
<p>Aku tahu sekolah, teman, dan Tuhan dari koran. Tiga kata itu aku temukan dimana-mana. Tiga kata itu selalu ada di sudut-sudut yang menyenangkan. Aku juga ingin belajar, pergi ke sekolah, dan bertemu teman-teman. Kurasa tak ada yang lebih baik dari sekolah dan tak ada yang sebaik teman. Tuhan? Oh, seperti apa dia? Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya. Sepertinya Tuhan begitu dicintai oleh semua penduduk bumi. Tapi aku tidak mengenal Tuhan. Siapa dia?</p>
<p>”<em>Sh”</em>Aku menyentuh salah satu pekerja di rumahku. Dia menoleh padaku, sedikit terkejut. Kurasa dia mengucapkan kata ’ya’. Dia berjongkok sehingga kepalanya sejajar dengan kepalaku. Segera ia menggerakkan tangannya dengan cepat, <em>”ada apa mbak?”</em>. Dia satu-satunya pekerja yang mengerti bahasa komunikasiku selain lewat secarik kertas, bahasa isyarat. Dia yang mengajarkannya padaku, bukan ayah atau ibuku. Dia juga yang mengajarkan aku membaca dan menulis, bukan ayah atau ibuku. <em>”Bisakah kau tunjukkan padaku dimana Tuhan? Jelaskan padaku tentang sekolah? Dan beri tahu aku apa yang disebut dengan teman?” </em>Dia tersenyum. Entah apa maksud senyum itu. Ia menarik napas sejenak lalu mulai menggerakkan tangannya. Kali ini lebih lambat agar aku mengerti. Aku meneliti tiap gerak tangan dan jemarinya yang terlihat lebih tua dari umurnya. <em>”Tuhan adalah Dia yang memberimu hidup, Dia yang mengatur seluruh alam semesta, dan Dia yang kamu sembah, kepadaNya kamu meminta pertolongan.” </em>Dia mengehela napas lalu melanjutkan, <em>”Sekolah adalah tempat dimana seluruh ilmu diajarkan. Di sekolah, kamu akan menemukan teman. Teman adalah dia yang duduk-duduk di beranda bersamamu tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu kau meninggalkannya seakan-akan telah bercakap-cakap lama denganya. Kau mengerti?”</em> Aku diam agak lama. Pikiranku menerawang jauh, mencerna kembali gerak-gerak tangan tadi. Aku memandangnya kemudian mengedipkan mata. Dia tersenyum. Senyum itu membuatnya tampak lebih muda daripada tadi aku menyentuhnya.</p>
<p>Aku meninggalkannya dengan tergesa-gesa. ’Aku akan mencari Tuhan, sekolah, dan teman,’ itu pikirku. Dengan kursi roda, aku berputar-putar di dalam rumah. Banyak pekerja yang terheran-heran denganku. Tidak biasanya aku berada selain di dalam kamar, kecuali jika sarapan dan makan malam.</p>
<p>Aku menemukan sesuatu, seorang bocah berbaju putih dan memakai rok berwarna merah hati. Ada bando merah-putih di kepalanya dan tas besar di punggungnya. Ia sedang asyik bercengkrama dengan seorang lagi, anak laki-laki berbaju putih lengan panjang yang memakai sarung dan sesuatu berwarna putih menutupi kepalanya. Bocah berbando itu tertawa terpingkal-pingkal sedangkan anak laki-laki di sebelahnya diam seribu bahasa namun masih tergurat senyum di bibirnya. Anak laki-laki itu kemudian menggerakkan kedua tangannya ke atas dengan telapak menghadap ke depan, kemudian ia menunjuk pada jam, lalu menyerahkan dua helai kain putih pada bocah berbando. Bocah yang memakai bando itu terlihat mengerti. Ia meletakkan tasnya, membuka sepatunya, dan beranjak ke kamar mandi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan. Bocah berbando itu keluar dengan wajah, tangan, dan kaki yang terlihat basah. Telinga dan rambutnya juga tampak basah. Ia mengenakan dua kain putih tadi. Aku melihat sesuatu yang berbeda darinya, wajahnya tampak lebih cerah daripada yang kulihat pertama kali tadi. Sekilas, aku melihat semburat cahaya yang menaungi mereka. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya. Anak laki-laki tadi kembali mengangkat tangannya, tapi sambil menggumamkan sesuatu. Pemandangan ini sangat aneh bagiku. Apa yang dilakukan anak laki-laki itu? Dan kenapa bocah berbando tadi memakai kain yang menutupi seluruh tubuhnya? Aku hanya bisa melihat wajah cerahnya karena selebihnya tertutup kain. Bocah yang dibungkus kain putih itu mengikuti setiap gerak yang dilakukan anak laki-laki di depannya. Aneh sekali, mereka tidak berhadap-hadapan, mereka tidak saling melihat, tapi mereka bergerak teratur. Lebih teratur dari sarapan pagi yang biasa aku lakukan. Aku bergegas pergi dari tempat itu. Itukah yang dimaksud dengan teman? Itukah yang mereka lakukan untuk Tuhan?</p>
<p>Malam kali ini datang lebih cepat dari yang kemarin. Aku terengah-engah ketika seorang pekerja menyerahkan secarik kertas padaku, ”Mbak, waktunya makan malam.” Aku tidak berkedip. Aku tetap pada tempat dimana aku berada sekarang. Dia, pekerja itu, berlalu meninggalkanku. Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Aku mengerti sekarang, tak ada satu orang pun yang benar-benar memperhatikan aku. Dia pasti mengira aku akan mengedipkan mata, memutar kursi roda, dan beranjak dari tempat aku berada. Dia tidak melihat aku tidak mengedipkan mata kali ini. Dia pergi sebagaimana aku yang juga bisa pergi.</p>
<p>***</p>
<p>Aku membuka mata. ”Selamat pagi dunia! Mentari bersinar seperti biasanya begitu pun angin, daun, langit, dan hidupku. Hidupku?.” Ah, apa yang baru saja aku lakukan?</p>
<p>”Selamat pagi dunia!”</p>
<p>Tidak, hidupku tidak seperti biasanya. Aku mengucapkan kalimat pertama. Kalimat pertama yang terdengar dari mulutku sendiri. Aku tidak seperti biasanya. Aku berbicara. Aku mengeluarkan suara. ”Selamat pagi dunia,” teriakku keras. Aku mendengar gaung suaraku. Oh, apakah aku benar-benar berubah sekarang? Apakah aku benar-benar bisa berbicara dan mendengar? Bermimpikah aku?</p>
<p>”Selamat pagi, Neng.” Aku melihat bapak tua yang sepertinya berbicara denganku. ”Mau ke sekolah ya, Neng?,” tanya Pak tua itu. Aku mengerinyit dan melihat tubuhku sendiri. Astaga, aku benar-benar tidak seperti biasanya. Aku berdiri. Aku memakai baju yang sama dengan orang-orang yang lalu lalang di sekitarku. Baju putih dan rok merah. Dan apa yang diucapkan Bapak tua tadi? Kalau tidak salah dengar, dia mengucapkan kata ’sekolah’. ”Oh, Bapak tau. Neng, pasti yang baru pindah kemarin kan? Rumah Bapak di sebelah rumah Neng. Kita bertetanggaan, Neng.” Bak terkena mantra, aku mengangguk. Bapak tua itu bercakap banyak denganku menjelang sampai ke sekolah. Aku hanya mengangguk, sekali-kali tersenyum. Bapak tua itu dengan baik mengantarkanku ke sekolah, ke tempat yang aku rindukan selama ini.</p>
<p>”Hai, namaku Nayella Istana. Kalian bisa memanggilku Nay. Aku tinggal di dekat sini. Di belakang sekolah, gubuk nomor dua dari kiri, tepat di depan mushalla.” Kalimat kedua yang aku ucapkan dengan lancar, tanpa beban, dan sesungging senyuman.</p>
<blockquote><p><strong>Catatan kaki : Cerpen ini adalah cerpen pertama yang ditulis Nilna R. Isna pada tahun 2007. Nayella Istana adalah nama tokoh pertama yang kemudian menjadi nama lain dari Nilna.</strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p></blockquote>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/cerpen/'>cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1213&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/31/selamat-pagi-nayella-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bunga</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/27/bunga/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/27/bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 15:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1209</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku ingin menjadi bunga di rumahmu, yang mengindahkan dan terindahkan&#8221; - suatu malam di telaga, 2011 Filed under: puisi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1209&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Aku ingin menjadi bunga di rumahmu, yang mengindahkan dan terindahkan&#8221;</p>
<p>- suatu malam di telaga, 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/puisi/'>puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1209&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/27/bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami &#124; …sebuah puisi…</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/anak-belajar-dari-apa-yang-mereka-alami-%e2%80%a6sebuah-puisi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/anak-belajar-dari-apa-yang-mereka-alami-%e2%80%a6sebuah-puisi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 16:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1207</guid>
		<description><![CDATA[Jika anak-anak hidup dengan kritik, mereka belajar untuk mengutuk. Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan. Jika anak-anak &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/anak-belajar-dari-apa-yang-mereka-alami-%e2%80%a6sebuah-puisi%e2%80%a6/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1207&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anak-anak hidup dengan kritik, mereka belajar untuk mengutuk.<br />
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan ketakutan, mereka belajar untuk tercekam kekhawatiran.<br />
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan ejekan, mereka belajar untuk merasa malu.<br />
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.<br />
Jika anak-anak hidup dengan dorongan semangat, mereka belajar percaya diri.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.<br />
Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai.<br />
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan penghargaan, mereka belajar untuk memiliki tujuan.<br />
Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar kebenaran.<br />
Jika anak-anak hidup dengan kewajaran, mereka belajar keadilan.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan kebaikan dan pertimbangan, mereka belajar menghargai.<br />
Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki keyakinan.</p>
<p>Jika anak-anak hidup dengan persahabatan, mereka belajar dunia adalah tempat yang bagus  untuk hidup.</p>
<p align="left">—Dorothy Law Nolte</p>
<p align="left">source : <a href="http://nadhiroh.blog.unair.ac.id/">http://nadhiroh.blog.unair.ac.id/</a>, Juara I Blog se-UNAIR : Bu Nadhiroh, dosen Ilmu Gizi FKM UNAIR</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1207&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/anak-belajar-dari-apa-yang-mereka-alami-%e2%80%a6sebuah-puisi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sweet torment</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/sweet-torment/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/sweet-torment/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 04:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1202</guid>
		<description><![CDATA[Bergegas, menjemput pertemuan dengan Rabbi, dan menitipkan namanya di sela sujud terakhir, seiring air mata. Filed under: puisi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1202&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="msg_1521938906_1319514549896:825723925">Bergegas,</div>
<div>menjemput pertemuan dengan Rabbi,</div>
<div>dan menitipkan namanya di sela sujud terakhir,</div>
<div>seiring air mata.</div>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/puisi/'>puisi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1202&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/25/sweet-torment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jiwa Baik yang Cintanya Dinistai</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/22/bagimu-jiwa-baik-yang-cintanya-dinistai/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/22/bagimu-jiwa-baik-yang-cintanya-dinistai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 13:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1196</guid>
		<description><![CDATA[Bagimu, jiwa baik yang cintanya dinistai, langit ini runtuh, bumi ini gelap, laut mendidih, udara serasa pekat berjelaga, dan air &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/10/22/bagimu-jiwa-baik-yang-cintanya-dinistai/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1196&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/26538-1280x800-1217385118.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1198" title="26538-1280x800-1217385118" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/26538-1280x800-1217385118.jpg?w=529" alt=""   /></a></p>
<p>Bagimu, jiwa baik yang cintanya dinistai,</p>
<p>langit ini runtuh, bumi ini gelap, laut mendidih, udara serasa pekat berjelaga, dan air serasa pasir, …</p>
<p>tapi sesungguhnya engkau terluka bukanlah oleh rasa kehilangan orang yang kau cintai; tapi karena rasa terhina, terbuang, tersia-siakan, dan dirampoknya rasa berhak untuk hidup dengan baik.</p>
<p>Pengkhianatan cinta tidak mencabik orang itu darimu, tapi merusak rasa hormat dirimu.</p>
<p>Engkau dibuatnya merasa tak berguna, tak bernilai, tak pantas dihargai, dan tak dipertimbangkan dalam mengalihkan perhatiannya kepada orang lain yang belum tentu sebaik dirimu.</p>
<p>Engkau dibuat bertanya-tanya dalam kesendirianmu mengenai apa yang memantaskanmu bagi perlakuan senista ini.</p>
<p>Memang &#8230;,</p>
<p>Pengkhianatan cinta adalah penghinaan terkejam kepada rasa hormatmu kepada dirimu sendiri.</p>
<p>Itu yang menjadikanmu geram dan ingin melihatnya meregang terpanggang api neraka, dan terlantar antara pingsan dan mati di belantara penuh duri dan racun .</p>
<p>Ooh … betapa dendam itu mentenagai malam-malam panjang yang berselang-seling antara tangis dan rencana pembalasan dendam.</p>
<p>Tapi …, karena kebaikan jiwamu &#8211; engkau tahu, engkau tak mungkin berlaku kejam bahkan kepada orang yang mengejamimu, … alih-alih engkau melunglai lemah dalam keinginan untuk lari dan menghilang dari kesadaranmu, agar engkau lupa betapa rendahnya engkau diperlakukan.<br />
<span id="more-1196"></span><br />
……..</p>
<p>Adikku, yang hatinya baik, yang berhak bagi setulus-tulusnya cinta dari belahan jiwamu yang sejati, dengarlah ini ya?</p>
<p>Saat di mana engkau merasa kehilangan dirimu adalah saat yang paling tepat untuk membangun dirimu yang baru, yang lebih damai karena kekuatannya, dan yang lebih kuat karena keikhlasannya.</p>
<p>Engkau yang kehilangan dirimu, harus bersyukur, karena engkau bisa membangun dirimu yang baru, tanpa direpoti oleh sisa-sisa sikap dan kebiasaan buruk pada dirimu yang lama.</p>
<p>Ini adalah saat di mana engkau harus mendekatkan dirimu kepada Tuhan, kepada orang tua dan mereka yang nasehatnya telah kau abaikan, dan kepada diri sejatimu yang telah sesungguhnya memberitahumu bahwa engkau akan terluka.</p>
<p>Sekarang … tenangkanlah dirimu, damaikanlah hatimu, lapangkanlah nafasmu … diamlah sebentar … diamlah &#8230; sampai engkau mendengar kesunyian di dalam hatimu …</p>
<p>Hmm … mudah-mudahan sekarang benderang bagimu bahwa sesungguhnya luka hatimu karena pembuangan oleh orang yang tak tahu diri itu, adalah sesungguhnya cara Tuhan untuk mendekatkan dirimu kepada dirimu sendiri.</p>
<p>Pengkhianatan itu indah &#8211; bagimu yang mengerti, bahwa engkau sedang dipisahkan dari orang yang akan hanya lebih melukaimu di masa depan.</p>
<p>Sekarang, dalam nalarmu yang lebih mengerti, tetapkanlah berapa banyak waktu yang masih kau butuhkan untuk bersedih dan berlemah-lemah dalam acara mengasihani dirimu sendiri yang sesungguhnya sangat gengsi dan benci dikasihani oleh orang lain.</p>
<p>Setelah itu, tetapkanlah waktu bagi dirimu yang baru itu untuk melatih cara senyum yang baru, yang lebih segar, yang lebih tulus, dan yang … ooh … berpendar dengan aroma cinta dari hatimu yang sekarang bersih dan lebih damai.</p>
<p>Sekarang, latihlah dirimu untuk memalingkan wajah dan menempelkan pandangan matamu yang anggun ke horizon di kejauhan sana … dalam sebuah ayunan gerak menoleh yang lamban dan elegan.</p>
<p>Sekarang, latihlah otot-otot lembut di wajahmu untuk tersenyum semanis mungkin, sepenyayang mungkin, dengan rona wajah yang penuh kasih, … heninglah sejenak, hanya beberapa detik sebelum bibirmu yang bersungging senyum itu mengeluarkan getar suara yang semerdu-merdunya dari beranda indah di lehermu yang kini terbebas dari ketegangannya.</p>
<p>Kedipkanlah matamu dengan gerakan api lilin yang meliuk manja terhadap belaian semilir angin senja, yang menutup lambat seperti engkau akan tertidur, tapi yang kemudian terbuka lagi dengan kerling mencling yang memanah hati yang tak berpertahanan.</p>
<p>He he he …</p>
<p>Yah … begitu, … tersenyumlah, tergelaklah … ooh adikku, engkau tak tahu betapa aku berbahagia dan haru dalam syukur &#8211; melihat wajahmu merekah dengan senyum yang sesungguhnya sesuci hari kelahiranmu.</p>
<p>Sekarang, dalam senyum dan penghormatan yang tulus kepada keindahan dari penciptaanmu di dalam kehidupan ini, tegakkanlah jiwamu dan tegapkanlah badanmu untuk menjadi pribadi yang baru, yang damai karena kekuatannya, dan yang kuat karena keikhlasannya.</p>
<p>Adikku … dengarlah bisikku ini …</p>
<p>Engkau jiwa yang baik.</p>
<p>Berbahagialah.</p>
<p>Mario Teguh &#8211; Loving you all as always</p></blockquote>
<p>&#8212;</p>
<p>Begitu buka <em>Home Facebook</em>, tulisan Pak Mario Teguh ini berada pada <em>Stories </em>teratas. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kenyataannya setiap orang merasakan &#8220;rasa&#8221; yang sama ketika cintanya yang seharusnya dicintai tapi justru dinistai. Masa lalu yang indah menjadi sejarah dan kenangan yang potretnya akan tetap ada meski tak tertuliskan dan tak terlisankan, namun terpatri di dalam hati. Pertanyaannya, apakah sejarah yang terpatri itu justru merusak hati?</p>
<p>Mulut akan serempak menjawabnya &#8220;tidak&#8221;, tetapi hati? Siapa yang tahu.</p>
<blockquote><p>Sekarang … tenangkanlah dirimu, damaikanlah hatimu, lapangkanlah nafasmu … diamlah sebentar … diamlah &#8230; sampai engkau mendengar kesunyian di dalam hatimu …</p></blockquote>
<p> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  dedicated to u</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1196&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/22/bagimu-jiwa-baik-yang-cintanya-dinistai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/26538-1280x800-1217385118.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">26538-1280x800-1217385118</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Baparinggo</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/baparinggo/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/baparinggo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 17:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1191</guid>
		<description><![CDATA[Ngomong-ngomong soal gigi, ayah dan ibu juga ikutan nimbrung menyoal gigi dan berlanjut pada masa bayiku. #eeh. Di ruang tengah, &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/baparinggo/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1191&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngomong-ngomong soal gigi, ayah dan ibu juga ikutan nimbrung menyoal gigi dan berlanjut pada masa bayiku. #eeh. Di ruang tengah, aku menceritakan tentang pergigian tadi kepada ayah dan ibu. Lalu ibu nyeletuk.</p>
<p>“Makanya kamu itu bandel sih. Kelas 4 dan 5 SD itu yang kebangetan. Malam-malam nggak mau gosok gigi. Siangnya makan es krim…, makan coklat…,” cerocos ibu dengan memanjangkan ujung pas kata ‘krim’ dan ‘coklat’. Saya nyengir bay bay. Heheh.</p>
<p>Ibu melanjutkan, “tapi kalau soal gigimu nggak bisa putih cemerlang,” itu memang sudah terprediksi sebelum lahir. Eh, sebelum lahir? Ini menarik.<br />
“Kenapa bu?”</p>
<p>“Kebanyakan konsumsi antibiotik,” jawab ibu.</p>
<p>Aku mengerinyitkan dahi.</p>
<p>Ibu meneruskan ceritanya, “Waktu Ibu hamil kamu, Ibu kan dua kali kecelakaan. Pertama angkot yang Ibu naiki tabrakan, Ibu lagi di bangku dua. Terus yang kedua, Ibu jatuh dari vespa, waktu itu mau ke sekolah diantarin Om kamu, baju ibu licin, jatuh deh, dua tangan ibu patah, udah gede juga perut Ibu waktu itu. Makanya jadi keluar masuk rumah sakit, sering konsumsi antibiotik.”</p>
<p>Eeh, <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .<span id="more-1191"></span> Ini sebenarnya bukan kali keduanya aku mendengar cerita masa kecilku. Tapi hari ini tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Soal kecelakaan, ya aku tahu, aku pernah mendengarnya sebelum ini waktu ibu bercerita dengan teman-temannya dan aku mencuri dengar. Aku juga pernah melihat photo Ibu di rumah sakit, tangannya diperban, kakinya diperban, perutnya besar. Eeh, aku lah di dalam sana :’(.</p>
<p>Ayah jadi ikutan nimbrung. “Kamu itu sebenarnya alah baparinggo, Na.”</p>
<p>“Baparinggo?,” aku heran (ntar dijelasin arti kosakata ini yah).</p>
<p>“Iya Baparinggo, usia lima hari itu, kepalamu dibotakin semua dan dipasang selang infus di ubun-ubunmu. Tahun-tahun itu Padang sedang kena wabah Diare. Kamu ikut terkena wabahnya dan harus dirawat di rumah sakit. Ibu selalu nangis-nangis lihat kamu dari kaca di luar rumah sakit,” terang Ayah.<br />
“Ya, gimana nggak nangis, orang tiap hari itu selalu saja anak yang keluar dengan kain kapan,” ibu menyambung cepat di akhir kalimat ayah.<br />
Ayah meneruskan, “Ayah marahi Ibu karena nangis-nangis terus. Ayah bilang, nggak boleh nangis, hanya akan melemahkan. Waktu itu, ada waktu-waktu untuk menyusui karena di ruangan itu tidak boleh ada banyak orang. Jadi ibu megang kamu hanya pada saat menyusui. Ibu menyusui kamu, tapi tubuhmu penuh dengan selang infus. Ubun-ubunmu itu bergerak-gerak. Yah, namanya juga anak baru lahir, lunak sekali kelihatannya.”</p>
<p>Ya Rabbi, begitukah aku? Allah, berarti aku termasuk yang engkau pilihkan untuk kuat dan bertahan hingga detik ini. :”)</p>
<div id="attachment_1192" class="wp-caption alignleft" style="width: 304px"><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/kecil-nih.jpg"><img class="size-full wp-image-1192" title="Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/kecil-nih.jpg?w=529" alt="Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)"   /></a><p class="wp-caption-text">Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)</p></div>
<p>“Tahun 1992, waktu itu Pemilu, kami baru pulang milih. Kamu step. Kejang-kejang dan matanya membelalak ke atas. Kamu usia 3 tahun. Ayah buru-buru bawa kamu ke bawah (kamar mandi,-red). Waktu melewati tangga, karena buru-buru, ayah melompati dua anak tangga. Tapi karena kalut, saat menyentuk lantai, kaki kiri ayah kepeleset. Ayah jatuh, kamu yang digendongan pun jatuh. Untung kepala kamu nggak kebentur, masih kepeluk sama ayah. Tapi kaki kirimu terhimpit kaki ayah. Waktu itu kamu baru-baru bisa jalan, karena terhimpit jadinya kaki kirimu itu lumpuh dan agak bengkok,” ayah meneruskan ceritanya.<br />
“Untung Ibu sigap mengambil air dari kamar mandi dan menyemburkannya ke kepalamu saat itu juga, saat ayah jatuh. Untung kamu cepat sadar setelah disembur. Basah-basah rumah waktu itu ya, Bu,” ujar ayah sambil melirik Ibu.<br />
Ibu mengangguk dan melanjutkan, “Itu loh sejarahnya baju monyet kamu.”<br />
Eeh, hehe, aku ingat baju monyet. Baju monyet pemberian Bapak (ortu angkatku, ipar ayah, sebelum pindah ke rumah yang sekarang kami tinggal di rumah Bapak). Baju itu berwarna merah dan biru. Nggak tahu juga kenapa disebut Baju Monyet. Tapi baju model begitu disebutnya emang baju monyet ketika dulu.<br />
“Baju monyet itu hadiah dari Bapak karena kamu udah bisa jalan lagi. Waktu kamu lumpuh, Bapak sering mengurut-urut kaki kiri kamu itu dengan embun pagi. Pagi-pagi habis shubuh, Bapak langsung gendong kamu dan bawa ke depan rumah. Beliau urut-urut kaki kamu sambil berdendang-dendang ‘Sembuhkanlah ya Allah, sembuhkanlah anakku Nilna Rahmi, sembuhkanlah kakinya, agar dia bisa berjalan kembali’ Begitu dendang Bapak berulang-ulang,” Ibu bercerita sambil menirukan dendangan dari Bapak.<br />
Aku ingat waktu dibawa Bapak ke halaman depan rumah yang penuh rumput itu. Aku suka bau rumputnya. Tapi kok waktu itu aku nggak ngerasa lumpuh ya. Hehe. Dasar, namanya juga anak 3 tahunan, masih lupa-lupa ingat, eh ingat ingat lupa kayaknya.<br />
“Trus juga saat paru-paru kamu bermasalah yang membuat kita tiap minggu ke dokter anak (ternyata sang dokter anak adalah dosen di kampusku, mantan PD 3 ku. Hehe). Amandel kamu yang hampir bikin ilang suaramu. Juga kelenjar di leher yang bikin cemas itu, kirain tumor,” ucap Ibu.<br />
Aku senyam senyum saja mendengar cerita ayah dan ibu meski di dalam hati miris rasanya.<br />
“Sampai SD kamu itu masih sering sakit-sakitan. Tiap bulan itu pasti ada liburnya karena demam lah, mimisan lah. Demam itu yang paling sering. Tapi anehnya, kamu tangguh juga ya,” celetuk Ayah lagi.<br />
“Bu Guru kamu bilang, kamu aja yang nggak nangis waktu mimisan dan santai aja saat harus ke UKS sendirian,” sambung ayah mengenang.</p>
<p>Aku nyengir. Iyah, kalau di rumah aku mimisan, ibu ngasi daun sirih yang udah digiling untuk menghentikan darahnya. Nah, kalau di sekolah, aku diajarin dokternya : kalau mimisan, tengadahkan kepala, agar darahnya nggak meler. Jadinya, kalau tiba-tiba di sekolah mimisan, langsung deh menengadahkan kepala sambil permisi kepada Bu Guru.</p>
<p>“Buk, permisi mau ke UKS, mimisan,” hehe jadi ingat, itu ngomong ke gurunya sambil menengadah loh, dan langsung lari ke UKS yang ada di lantai 1 (ceritanya waktu SD cuma pas kelas 1 aja yang kelasnya di lantai 1, kelas 2-6 kalau nggak di lantai 2 ya di lantai 3. Hadeeeh, pantas ini kakiku kuat sekali. Wkwk). Sampai di UKS dikasi kapas di hidungnya, and then… boleh tidurrr… Asyyiiik… Hahay.</p>
<p>Yang paling parah waktu di Jakarta. Ayah dan Ibu juga mengulasnya sedikit tentang itu. Jadi ceritanya sekitar umur 4 tahunan, aku diajak ibu ke Jakarta. Eh, nyampe Jakarta malah sakit tipus. Yang rencananya mau liburan jadi repot keluarga-keluarga di Jakarta karena aku. Sampai-sampai Alm. Mami (adik ibuku) membelikan kasur n kelambu khusus untukku. Bahkan ayah pun sempat akan naik pesawat ke Jakarta demi nyusul aku. Ayah masih di Padang ketika itu. Dan zaman baheula itu, ongkos pesawat mahaaaallll….</p>
<p>“Memasuki MTsN kamu mulai jarang sakit. Palingan mimisan, itupun waktu kelas 1 aja. SMA bisa dibilang nggak sakit. Nah, kuliah ini, palingan waktu kamu sakit gigi yang terpaksa bikin kamu akhirnya ke rumah sakit,” ujar Ayah. Ayah menekankan pada kata “akhirnya”. Hehe.</p>
<p>“Tapi kemarin ini nih, sebelum kamu ke Kendari. Waktu Ibu umrah. Ayah yang panik. Bangun-bangun kamu udah pucat, kepalanya panas banget. Kayaknya itu sakit parah kamu yang kayaknya udah lama banget kamu nggak sakit, Na. Buru-buru kan kita ke Dokter. Yang ayah pikirkan, ibu nggak di rumah, kamu sakit, mau ke Kendari pula, sejauh itu,” sahut ayah dan menekankan di kata “Kendari”.</p>
<p>“Anehnya, Bu. Dua hari sebelum ke Kendari, dia udah sehat wal’afiat,” sebut ayah ke Ibu.</p>
<p>Aku senyam senyum mesem. Ibu menyimak sambil terus memeriksa hasil ujian muridnya di sekolah. Kendari… Hmm, waktu itu awal Mei. :”( Ya, awal Mei. Aku sakit tidak hanya karena kelelahan fisik tapi juga beban pikiran, beban perasaan, dan beban hati. Dan kekuatan untuk berangkat ke Kendari tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena kekuatan yang dikirimkan, dikirimkan melalui kata-kata yang menyejukkan dan memekarkan, yang menyemangati diri ini untuk kuat. :”( Ah, nggak mau mengulas ini lebih banyak.</p>
<p>Well, kupikir hidupku semasa kecil repot banget yah. Tepatnya banyak ngerepotin orang karena kondisi fisik yang lemah. Sejak dalam kandungan aja udah banyak “penyakit” yang nyamperin. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa aku masih bisa hidup sampai sekarang? Dan kalau diingat-ingat lagi, aku ini ternyata BENERAN BANDEL! Yaah, gimana nggak bandel, waktu di dalam kandungan aja bertahan hidup, pas ada wabah masih bertahan hidup, pernah lumpuh tapi nggak pernah ngaku (nggak ngerasain soalnya) Hehe. Yaa, satu hal yang kutahu, bahwa ternyata Allah SWT sangat sayang padaku, yang kutangkap bahwa Ia telah memilihku untuk tetap menjadi penduduk bumi ini hingga detik ini. :”) So, kenapa harus kusia-siakan. Cheer Up, Nilna. Masa depan menantimu.</p>
<p>Ah, lagi-lagi, ya masa depan yang selalu diingatkannya. Mau stagnant atau move On? Rabb, kuatkan aku. :&#8221;)</p>
<p>Oh iya, What’s the meaning of BAPARINGGO. Hmm, gimana ya jelasinnya. Paringgo/Baparinggo itu istilah untuk suatu keadaan, misalnya kain sobek trus dijahit lagi, atau kaca pecah trus di lem. Artinya sudah pernah kena, kalau nggak hati-hati, mudah banget kena lagi.</p>
<p>Itu yang dimaksud ayah. Ayah bilang, aku itu baparinggo. Mengingat semua “lemahnya” aku waktu kecil, ayah dan ibu cemas jika aku tak pandai menjaga kesehatanku sendiri maka akan dengan mudah aku sakit lagi, dan yang paling diingatkan ayah da ibu tentang laptop yang sehari-harian ditatapin terus, kepalaku yang paling mereka cemaskan.</p>
<p>Ah, Ayah… Ibu… :”)</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1191&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/baparinggo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/kecil-nih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Baju Monyet (tapi ini yang warna orensnya)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>G.I.G.I</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/g-i-g-i/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/g-i-g-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 14:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1183</guid>
		<description><![CDATA[Gigi. (nyengir dulu deh) Sebelumnya, saya mau bilang “Assalamualaykum wr wb, blogku.” Rasanya sudah sangat lama tidak menulis blog sebagaimana &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/g-i-g-i/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1183&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title=":D" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/gigi.jpg?w=161&#038;h=173" alt="" width="161" height="173" />Gigi. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  (nyengir dulu deh)</p>
<p>Sebelumnya, saya mau bilang “Assalamualaykum wr wb, blogku.” Rasanya sudah sangat lama tidak menulis blog sebagaimana sudah sangat lama tidak menulis catatan harian. #terdiam sejenak.<br />
 Ya, ada banyak perubahan dalam beberapa penggalan hidup saya beberapa bulan belakangan (mendekati setahun sepertinya). Termasuk juga dengan gaya menulis. Namun bukan berarti tidak konsisten, Insya Allah EYD masih dipertahankan, hanya saja gaya bahasanya sedikit atau bisa dibilang sangat informal. Mungkin para pembaca blog akan menemukan tulisan yang berbeda dari biasanya : tulisan yang santai.</p>
<p>Jadi ceritanya, kemarin saya ke FKG UNBRAH (Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah). Lagi ada Bulan Gigi Nasional yang mana di dalamnya ada “Pemeriksaan Gigi Gratis.” Ahaa, berbinar-binar dengan kata gratis. Bapak yang mengingatkan bahwa beliau mendengar radio yang memberitakan ada kegiatan Bulan Gigi Nasional di beberapa kota, salah satunya Kota Padang yang bertempat di FKG UNBRAH. Bapak yang miris melihat kondisi gigi saya dan juga miris karena saya selalu saja beralasan nggak ada waktu ke puskesmas untuk perawatan gigi, mengajak saya ikut ke kegiatan. Ya sudah saya ikut dengan catatan, saya nemenin Bapak bukan ditemeni Bapak.</p>
<p>Dan ini adalah mengunjungi DOKTER GIGI yang keDUA selama hidup saya. (Aduuh, parah banget deh saya. Jangan ditiru!) Dan oleh sebab itu berdasarkan catatan sang dokter gigi ko-ass yang memeriksa gigi saya, ada teeeeet (sensor) gigi yang harus dicabut, teeeeet (sensor juga) gigi yang harus ditambal, dan sebaiknya pakai BEHEL. Ya Rabbi, BEHEL? (dalam hati ngakak, akhirnya pakai behel juga, jadi ingat saya pernah ngasi saran ke anak-anak HIMA agar bikin KLUB BEHEL PSIKM saat melihat hampir tiap hari ada aja mahasiswa yang nambah magarin giginya, termasuk juga para dosen. Hehe.)</p>
<p><span id="more-1183"></span><br />
Nah, berhubung ini gratisan, maka yang mendapat perawatan hanyalah 1 gigi saja. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Terjadilah diskusi panjang antara sang dokter co-ass dengan sang asdos co-ass (ternyata asdos koasnya tetangga saya, rumahnya depan-depanan,  saya tahu tu kakak kuliah di FKG, masalahnya adalah kenapa saya nggak pernah nanyain soal gigi ke kakak ituh. Yah, keduanya diskusi panjang untuk memilih gigi manakah yang harus diberi tindakan. Parah banget deh, saking banyaknya kondisi gigi yang parah mereka pakai acara diskusi dulu mana yang bakal jadi “juara” terparah untuk diberi tindakan.</p>
<p>Sang drg koas : mau dicabut nggak dek?<br />
Saya : Nggak (dengan sangat mantap, hadeeeh gag mau dicabut)</p>
<p>Maka dipilihlah 1 gigi untuk ditambal. Pengeboran pun berlangsung sekitar 30 menitan. Lumayan capek mulutnya. Nggak hanya capek karena mesti mangap gitu tapi juga karena jari jemari sang dokter koas yang notabene masih belajar sedikit “kurang main cantik” ke gigi dan mulut saya. Saya meringis.</p>
<p>“Sakit dek?,” tanya sang kakak.<br />
Saya cuma bisa mengangguk.<br />
“Tahan yaa,” sambungnya.</p>
<p>Saya akhirnya menunjuk-nunjuk tangan ke mulut. Sang drg koas heran dan memberi kesempatan saya bicara.</p>
<p>“Bukan karena tambalannya kak. Tapi jarinya kakak neken bibir saya. Sakiit,” sampai mengeluarkan air mata saya ke kakaknya. Serius deh.</p>
<p>Sang kakak langsung minta maaf, ganti posisi duduknya, dan yang pasti ganti gaya tangannya agar tidak lagi menyakit saya. #aseek. Ada-ada saja memang yang terjadi selama tindakan : bor yang kepeleset sampai lidah juga tambalan yang terlalu tinggi, dan lain-lain. Yah, maklum deh gratis dan juga memaklumi sang kakak yang belajar yang masih suka konsul sana-sini sambil memberi tindakan.</p>
<p>Proses tambalan berjalan dengan sangat lama (menurut saya) sampai-sampai saya ketiduran di dental chair. ;D (kecapekan bu, insomnianya masih berjalan lancar dan tertib semalam <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Begitu selesai tambalan, sang kakak drg koas minta nomer HP saya dan kita change2an nomer HP dan bikin jadwal untuk bertemu lagi plus perawatan lagi di luar kegiatan artinya BAYAR.</p>
<p>Saya : nanti biayanya berapa kak?<br />
Drg co-ass : Kalau perawatan bisa digratiskan. Tapi kalau mau cabut dan pakai behel nanti kita bicarakan lagi.<br />
Saya : (angguk-angguk tanda mengerti)</p>
<p>Nah ternyata, di dunia kedokteran gigi, kelulusan seseorang sangat ditentukan dari berapa pasien yang sudah ditanganinya. Tantangan mereka adalah mencari pasien. Jadi win-win gitu, drg koasnya dapat pengalaman (dan pastinya nilai), pasiennya bisa dapat perawatan dengan harga nego (nggak jarang gratis tergantung kesepakatan dan kedekatan hati keduanya, hehe).</p>
<p>So, tips juga nih buat teman-teman.<br />
1. Jangan tiru saya! Saya ini bandel sukanya eskrim dan coklat sampai sekarang tapi gosok giginya standar banget 2 kali sehari saja. (Padahal banyak iklan di tipi yang ngasi petunjuk kapan waktu2 gosok gigi yang baik dan benar)<br />
2. Jangan tiru saya!! Saya juga paling males ke dokter. Nggak hanya ke dokter gigi sebenarnya, ke dokter manapun saya malas. Alasannya waktu. (Sok sibuk banget yah saya!) Ini mumpung ada momen aja nih ditambah dengan Bapak yang saya nggak enak nolaknya. (Saya sayang Bapak dan senang sekali jika beliau mengajak ke sana kemari. Sejak kecil sering diajakin Bapak kemana-mana sampai Bapak mau pangkas rambut pun minta ditemeni saya. Hahay.)<br />
3. Jangan tiru saya!!! Saya bego banget yah nggak manfaatin peluang tetangga yang ternyata udah jadi dokter gigi. Perasaan baru kemarin sang kakak pindahan ke rumah di depan rumah saya untuk jadi seorang mahasiswa FKG. Hoho. Sekarang udah jadi dokter gigi ajah. Jadi kemana aja saya selama ini? Hadeeh. Jawabannya simpel saja, saya nya yang jarang di rumah dan kalau udah di rumah ya di dalam rumah aja, nggak main-main keluar, ke warung depan pun malas.<br />
Semoga tips Jangan Tiru Saya ini menjadi berkah bagi kita semua. Aamiin.</p>
<p>Akhir cerita, malam ini saya buka lagi buku “ga-gi-gu GiGi” yang ditulis oleh Lia Indra Andriana, salah seorang anak FKG di negeri ini, buka acak dan baca salah satu Babnya. Wkwkwkwk, ngakak luar biasa, lucu sekali. Ternyata meski udah pernah dibaca, buku ini masih bisa bikin kita untuk tertawa kembali. Yaah, lumayan lah, Alhamdulillah mulutnya masih bisa ngakak, meskipun hati ini masih belum. Jangankan ngakak, senyum aja belum bisa. Oow!</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1183&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/10/18/g-i-g-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/10/gigi.jpg?w=161" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ci Mancik</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/07/09/ci-mancik/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/07/09/ci-mancik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 16:17:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1177</guid>
		<description><![CDATA[Ci Mancik Nilna R. Isna Kita berlarian menuju pohon ceri . Berkejaran berganti-gantian. Kadang-kadang kau yang jaga, aku sembunyi. Kadang-kadang &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/07/09/ci-mancik/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1177&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Ci Mancik</strong></p>
<p align="center"><em>Nilna R. Isna</em></p>
<p>Kita berlarian menuju pohon ceri . Berkejaran berganti-gantian. Kadang-kadang kau yang jaga, aku sembunyi. Kadang-kadang aku yang jaga, kau sembunyi. Kadang-kadang kita sembunyi bersama, tidak ada yang menjaga. Atau boleh jadi, kita yang jaga bersama-sama, tidak ada yang sembunyi.</p>
<p>“Ciek&#8230; Duo&#8230; Tigo&#8230;,” begitu aku berhitung jika sedang jaga.</p>
<p>“Satu&#8230; Dua&#8230; Tiga&#8230;.” Nah, kalau kau yang berjaga, ini bahasa yang kau pakai.</p>
<p>Lalu kita berganti-gantian bersembunyi di bawah pohon ceri.</p>
<p>Waktu itu, kau dan aku tak peduli siapa yang menang siapa yang kalah. Yang jelas kita sama-sama bermain, sama-sama tertawa. Kataku, permainan ini bernama Ci Mancik. Tapi kau menggeleng. Katamu, namanya Petak Umpet.</p>
<p>“Bukan, namanya Ci Mancik. <em>Itu kecek Ibu Rani </em>(Itu kata Ibuku).”</p>
<p>“Rani, aku juga sering main ini di Jakarta. Namanya Petak Umpet.”</p>
<p>Kita beradu mulut. Tapi akhirnya, aku mengalah, lalu kau pun ikut mengalah. Bukan Ci Mancik atau Petak Umpet, kita sepakat menamai permainan itu &#8220;Mencit&#8221;.</p>
<p>Bermain Ci Mancik seakan sudah menjadi perkara wajib bagi kita. Setiap hari sepulang sekolah, kita bermain Ci Mancik tanpa mengganti seragam terlebih dahulu bahkan tanpa pulang ke rumah untuk sekedar meletakkan tas. Kalau sudah begini, Ibu selalu berang ketika aku pulang dengan seragam yang awut-awutan. Ia menjewer telingaku dan menyeret masuk ke kamar.</p>
<p>&#8220;Ganti seragam dulu sepulang sekolah, makan, bikin PR, baru pergi main,&#8221; teriak Ibu marah.</p>
<p>Aku tertunduk malu campur kesal.</p>
<p>&#8220;Kenapa sih, Ibu tidak pernah mau melihat anaknya senang sebentar,&#8221; batinku dalam kekanakanku sebelum masuk ke kamar lalu membanting pintu.</p>
<p>Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu ketika pulang dengan kondisi awut-awutan sepertiku. Mungkin kau dimarahi dan dijewer sepertiku. Mungkin juga kau dibelai lembut oleh ibumu, ia mengganti bajumu yang kotor, dan kau dipersilahkan makan dengan tenang. Aku berpikir begini karena tidak pernah melihat telingamu merah di pagi hari ketika kita sama-sama berangkat sekolah. Kau selalu cantik dengan kepang rambutmu yang rapi, bajumu juga licin dan putih bersih. Meski aku tahu, kau tak pernah memakai baju baru. Bajumu selalu saja bekas baju kakakmu. Tidak seperti aku yang setiap tahun memakai baju baru. Untuk hal ini, aku merasa menang dari dirimu.<span id="more-1177"></span></p>
<p>Hari ini, kita pulang sekolah dengan riang gembira. Seperti biasa, kita berjalan kaki dari sekolah ke rumah. Jarak rumah dengan sekolah cukup jauh kalau tidak mau dibilang dekat. Aku selalu menawarimu naik angkot.</p>
<p>&#8220;Naik angkot saja. Lebih cepat. Tidak mengeluarkan tenaga. Ayo!,&#8221; ucapku merayu.</p>
<p>Kau menggeleng, malah balik merayuku.</p>
<p>&#8220;Kita jalan kaki saja, Rani. Kalau kita jalan kaki, bisa beli es di warung Babe, bisa main ayunan di TK depan, terus kita main Mencit di dekat pohon ceri. Nanti kau sembunyi saja di bawah pohon. Seperti biasa,&#8221; ucapmu sambil mengerlingkan mata.</p>
<p>Ah Tika, kau terlalu pandai merayuku. Aku mengikuti keinginanmu dan kita pulang jalan kaki bersama.</p>
<p>Kita sampai di warung Babe. Aku masih ingat pesan Ibu, ‘Jangan jajan sembarangan ya, Nak. Apalagi jajanan es. Kamu bisa sakit nanti.’ Tapi, karena kau tampak asyik mencucut es lima ratusan itu, aku tergiur juga. Aku mengikutimu membeli es yang sama. Lalu, mencucutnya berdua. Tertawa-tawa.</p>
<p>Puas minum es yang cukup melepaskan dahaga. Aku melihat keramaian di persimpangan masuk rumah kita. Terdengar suara-suara gendang darisana. Aku menarik tanganmu. Kau sempat protes.</p>
<p>&#8220;Rani, apa-apaan sih. Sakit tau kamu tarik begitu.&#8221;</p>
<p>Aku terus menarikmu sambil berlari, menjawab pertanyaanmu dengan mengacungkan telunjuk ke arah keramaian itu.</p>
<p>&#8220;Oh itu, masa kamu nggak tau. Itukantopeng monyet.&#8221;</p>
<p>Kau balik menarik tanganku, membuatku berhenti berlari. Aku menatapnya, sedikit ternganga.</p>
<p>&#8220;Topeng apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Topeng Monyet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa ya? Yang jelas ada monyet menari-nari sambil membawa payung. Kadang-kadang dia menarik gerobak kecil yang dibuat pemiliknya. Monyet itu berjoget-joget sesuai irama gendang yang ditabuh tuannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau tahu. Kita lihat yuk!&#8221;</p>
<p>Rani mengangguk. Kemudian kita berlari kecil menuju arena topeng monyet itu. Sekali lagi aku ternganga. Baru sekali itu aku melihat topeng monyet. Aku tertunduk malu. &#8220;Tika memang pintar,&#8221; batinku, &#8220;dia tahu segalanya. Dia pernah tinggal diJakarta. Aku saja yang belum pernah keJakarta. Huh.&#8221;</p>
<p>Selama ini, sejak kepindahanmu dariJakartakePadang. Aku selalu menemanimu bermain. Bermain ini-itu. Kadang-kadang kau menginap di rumahku. Kita bermain boneka bersama. Atau kita bermain tali karet yang ujung-ujungnya diikatkan ke tiang-tiang teras rumahku. Tapi, aku tak pernah main apalagi menginap di rumahmu. Tidak boleh oleh Ibuku.</p>
<p>Kau selalu berbahasaIndonesiakepadaku. Tentu saja, dulu kaukantinggal diJakarta. Kau tak pandai bahasa Minang. Karena kau berteman denganku dan aku ingin berteman denganmu, aku mengikutimu berbahasaIndonesia.</p>
<p>&#8220;Jadinya aku bisa dua bahasa : Minang dan Indonesia,&#8221; kilahku pada Ibu yang heran sejak aku berteman denganmu selalu menggunakan bahasa Indonesia.</p>
<p>Sebenarnya bukan itu alasanku. Aku hanya tidak mau dibilang kampungan oleh teman-teman di sekolahku. Kitakanmasuk sekolah di hari yang sama, di kelas yang sama, di bangku yang sama pula. Kau lincah sekali memperkenalkan dirimu di depan kelas. Aku pun ingin sepertimu. Maka, aku memperkenalkan diriku di depan kelas meniru kalimatmu. Yah, tidak selincah dan seanggun sepertimu. Tapi paling tidak, orang-orang menatap kagum padaku karena aku teman dekatmu, aku tinggal bertetanggaan denganmu, dan aku berbahasaIndonesiasepertimu. Itu sebabnya, aku menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulanku hingga sekarang. Bahasa minang hanya kupakai apabila berbicara di rumah atau berhitung ketika kita main Mencit.</p>
<p>“Tika, kita main Mencit dulu, yuk!,” ajakku setelah tontonan topeng monyet itu berakhir.</p>
<p>Seperti biasa, kau menjawab dengan anggukan. Kita mempercepat langkah menuju pohon ceri, takut tidak cukup waktu karena terlalu lama menonton topeng monyet tadi. Sesampainya di bawah pohon ceri, kita menanggalkan tas, lalu suit.</p>
<p>“Suit!”</p>
<p>Aku jempol, kau telunjuk. Aku yang menang. Kau yang jaga. Aku berpikir jahil kala itu. Aku pun bediri saja di belakangmu. Kau mulai menghitung, “Satu&#8230; dua&#8230; tiga&#8230;,” sampai sepuluh. Aku terkikik tertahan di belakangmu. Mungkin kau berpikir aku akan bersembunyi di antara semak-semak di bawah pohon ceri. Sebentar lagi, kau mengakhiri hitunganmu, “delapan&#8230; sembilan&#8230;.”</p>
<p>“Hap!” Aku menyentuh batang pohon ceri yang kau jaga tepat saat kau mengakhiri hitunganmu yang ke sepuluh. Kau bersungut-sungut kesal.</p>
<p>“Aku menang!&#8230; Aku menang!&#8230; Aku menang!..,” teriakku girang.</p>
<p>“Ah, kamu curang! Curang! Aku benci kamu. Kamu curang!”</p>
<p>Tindakanmu sungguh mengagetkanku, Tika. Kau berlari menjauhiku sambil terus mengucapkan kata “curang”. Kulihat air matamu menitik. Aku terpana melihat tingkahmu. Aku merasa bersalah seakan-akan telah melakukan dosa besar padamu. Aku menyalahkan diri.</p>
<p>“Oke, aku kalah!,” desisku.</p>
<p>Tapi kau terus berlari.</p>
<p>Nyaris dalam setiap hal, aku mengalah demi dirimu. Jangankan mengalah, aku memang kalah dibandingkan dengan dirimu yang cantik, rapi, pintar, dan dulu tinggal diJakarta. Apakah salah jika aku sekali-kali berteriak menang di depanmu. Aku terus menatapmu hingga kau berbelok ke pekarangan rumahmu, hingga kau hilang dari pandanganku.</p>
<p>Sejak saat itu, aku jarang sekali bertemu denganmu, Tika. Hanya sesekali aku dapat melihat sekelebat bayanganmu dari balik jendela. Kita tidak pernah lagi pergi ke sekolah bersama. Kita tak pernah lagi pulang sekolah berjalan kaki sambil bergandengan. Kita juga tidak pernah bermain Ci Mancik di bawah pohon ceri. Pun di sekolah, kau tak pernah mau menatapku apalagi berbicara padaku.</p>
<p>Sebenarnya, aku ingin teriak marah di depanmu. Menghujammu dengan kata-kata bengis.</p>
<p>“Kau egois! Mau menang sendiri! Kau jahat! Kau memojokkanku! Apa sih salahku! Dasar anak manja! Egois!”</p>
<p>Tapi, kata itu tak pernah sampai di telingamu, Tika. Aku hanya mampu memendamnya di dalam hati.</p>
<p>Setiap malam, aku menyalahkan diri. Sesekali aku mengumpatmu di balik bantal. Hingga suatu hari, aku mendengarmu pindah rumah ke Jakarta lagi. Aku tahu, kepindahanmu ini tidak ada sangkut pautnya dengan pertengkaran kita. Tapi kau pasti senang karena kau tak perlu lagi bertemu denganku di sekolah atau memergokiku mengintipmu di dalam rumah. Kau pasti senang sekali, Tika.</p>
<p>Bertahun-tahun setelah pertengkaran itu, aku tumbuh remaja, sama seperti dirimu. Kita tumbuh bersama-sama menjadi remaja, menjadi dewasa. Tapi kita berada dikotayang berbeda. Aku meninggalkan bermain Ci Mancik di bawah pohon ceri seperti kau meninggalkanku. Aku benar-benar merindukan permainan itu, permainan Ci Mancik yang namanya kita ciptakan sendiri : Mencit. Tika, aku pun merindukanmu di bawah pohon ceri tempat kita bermain dulu.***</p>
<p><strong>Nilna R. Isna. </strong>Lahir di Padang, 31 Mei 1989. Sekarang kuliah di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat F. Kedokteran Universitas Andalas. Bergiat di Sanggar Sastra Citra Hati Sumatera Barat.</p>
<p>Ket : <strong>Ci Mancik </strong>telah diterbitkan di P&#8217;Mails Padang Ekspres Tahun 2008</p>
<div><strong><br />
</strong></div>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/cerpen/'>cerpen</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1177&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/07/09/ci-mancik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Sakarek Ula Sakarek Baluik</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/06/28/anak-sakarek-ula-sakarek-baluik/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/06/28/anak-sakarek-ula-sakarek-baluik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 14:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1161</guid>
		<description><![CDATA[*mengenang satu hal yang digelitik Alm. Wisran Hadi “Amak bahaso minang, Abak bahaso minang, nan anak ndak ngarati jo bahaso &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/06/28/anak-sakarek-ula-sakarek-baluik/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1161&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1171" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/wisran-hadi1.jpg"><img class="size-full wp-image-1171 " title="wisran hadi" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/wisran-hadi1.jpg?w=529" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Wisran Hadi</p></div>
<p><em>*mengenang satu hal yang digelitik Alm. Wisran Hadi</em></p>
<p>“Amak bahaso minang, Abak bahaso minang, nan anak ndak ngarati jo bahaso minang(1),” ujar Etek(2) geram. Aku mendengarkannya sambil terus mengupas bawang. Pagi menjelang siang itu, aku dan Etek sedang mempersiapkan makanan untuk makan siang kami nanti. Lalu, anak tetangga kami yang masih berusia 4 tahun datang bersama kakaknya untuk meminjam sulo(3). Etek meminjamkan sulo itu tapi ia geram. Bukan karena sulo yang dipinjam, tapi karena bahasa yang digunakan oleh kedua anak adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa minang. Sehingga yang seharusnya dipinjam adalah “sulo” menjadi “sula”.</p>
<p>Bukan berarti Etek tidak suka bahasa Indonesia. Bukan begitu. Tetapi yang Etek tidak suka adalah para orangtua modern saat ini yang tidak lagi memperkenalkan bahasa daerah sebagai bahasa ibu di dalam keluarga. Akhirnya, sang anak yang punya darah minang tadi, tidak pandai bahasa minang. Lalu, dimana letak tanda-tanda keminangannya? Etek setuju setiap anak diajarkan bahasa Indonesia, tetapi Etek tidak setuju jika anak-anak tidak diajarkan bahasa daerah mereka.</p>
<p>Etek pun menceritakan kepada saya tentang sebuah acara yang ditontonnya di televisi lokal, TVRI SUMBAR. Etek yang notabene “ibu rumah tangga paling rumahan” itu bercuap-cuap tentang cuapan sosok budayawan minang yang menjadi pengasuh dalam acara itu. Pada acara itu Sang Budayawan menyindir ibu-ibu dan ayah-ayah yang tidak mengajarkan bahasa minang kepada anaknya sejak lahir hingga dewasa. Padahal ayah dan ibunya orang minang, kakek dan neneknya orang minang, ia lahir di minang, ia pun besar di minang, tapi tidak pandai bahasa minang. Sementara sang anak di lingkungan sosialnya akan sangat sering terpapar dengan bahasa minang baik di lingkungan pertemanan, sekolah, masjid/mushalla, pasar, angkot, sampai ke kedai-kedai di depan rumah ketika sang anak ingin membeli permen, coklat, atau ciki-ciki(4). Alhasil jadilah anak itu, meminjam istilah di acara tersebut : sakarek ula sakarek baluik(5).<span id="more-1161"></span></p>
<p>Sejak saat itupun Etek tak pernah meninggalkan barang sekali pun acara tersebut. Belakangan saya tahu, acara itu berjudul SURAMBI ADAT yang diasuh oleh budayawan terbaik di Sumatera Barat : Bapak Wisran Hadi.</p>
<p>Izinkan saya memunajatkan doa terlebih dahulu kepada beliau, kepada Pak Wis :<br />
Alloohummaghfir li Wisran Hadi warfa&#8217; darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi. Ya Allah ampunilah Bapak Wisran Hadi, angkatlah derajatnya dalam kelompok orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah penggantinya sesudah kepergiannya menyusul orang-orang yang telah berlalu, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan Alam Semesta. Berikanlah beliau kelapangan di dalam kuburnya dan terangilah beliau di dalam kuburnya. Aamiin.</p>
<p>Bapak Wisran Hadi adalah tokoh sastrawan dan budayawan yang mulanya melukis kemudian menjadi penulis. Beliau lahir di Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945 dan kemudian dibesarkan, besar, dan membesarkan anak-anak di ranah Minang, Sumatera Barat. Beliau memiliki 1 orang istri dan 4 orang anak. Istrinya, Profesor Raudha Taib adalah keluarga pewaris Kerajaan Pagaruyung.</p>
<p>Seperti AA Navis, Wisran Hadi adalah sastrawan Sumatera Barat yang membuktikan untuk terkenal dan menjadi sastrawan kaliber nasional bisa dari daerah. Setelah menamatkan pendidikan di ASRI Jogjakarta pada tahun 1969, beliau mewakili Indonesia dalam International Writing Program di Iowa University, Iowa, USA selama 4 bulan pada tahun 1977. Ia juga melakukan observasi teater modern Amerika Serikat di New York tahun 1978 dan di Amerika dan Jepang tahun 1987.</p>
<p>Pada tahun 1991 dan tahun 2000, Wisran Hadi mendapatkan penghargaan sebagai Sastrawan Terbaik Indonesia oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2000 mendapat penghargaan South East Asia (SEA) Write Award. Tahun 2003 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia. Beliau dua kali dia dianugerahi penghargaan oleh Pemerintah Kota Padang (1976 dan 2005) sebagai seniman teladan dan budayawan Indonesia.<br />
Tak hanya itu, beliau juga mengajar dengan menjadi dosen tamu untuk mata kuliah Sejarah dan Filsafat Seni dan Penulisan Kreatif pada Akademi Seni Kebangsaan (ASK) Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia di Kuala Lumpur. Sebelumnya menjadi dosen luar biasa pada Fak.Sastra Universitas Andalas Padang.</p>
<p>Kita bisa membacanya pada surat kabar Padang Ekspres, surat kabar Singgalang dan Haluan. Kita juga bisa melihatnya pada acara Surambi Adat Wisran Hadi di TVRI Sumatera Barat. Selain menulis, melukis dan mengajar, dia juga banyak memberikan makalah pada berbagai seminar, baik di Indonesia maupun di Malaysia.</p>
<p>Namun, pada selasa pagi yang mendung, Pak Wisran Hadi meninggalkan kita, meninggalkan Surambi Adat yang masih ingin ditonton oleh Etek, meninggalkan Jilatang dan Sabai Nan Aluih yang menggelitik di Harian Pagi Padang Ekspres, meninggalkan ratusan naskah yang lebih banyak dari naskah teaternya William Shakespare, meninggalkan anak-anak muda yang sangat dekat di pikirannya sebagai generasi penerus moral ABS-SBK6, meninggalkan keluarga yang dicintai, sahabat-sahabat yang disayangi, serta meninggalkan semua masyarakat minang yang mencintai dan menyayangi beliau.<br />
Wisran Hadi meninggal pada Selasa pagi, 28 Juni 2011, pada saat mengetik di depan komputer sembari menunggu salah satu tulisannya yang dimuat di Koran lokal Sumatera Barat, Haluan. Beliau tiba-tiba terkulai jatuh dan kemudian dipapah putranya ke dalam kamar, di kamar itulah beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Selamat jalan Pak Wis, ayahanda yang mengingatkan saya akan pentingnya bahasa ibu sebagai tetanda. Sungguh, saya masih membutuhkan kehadiran Bapak, tetapi Allah SWT telah berkehendak. Setidaknya, Bapak Wisran Hadi telah menunjukkan salah satu kunci sorganya dalam amalan yang tak pernah terputus yaitu Ilmu yang bermanfaat : karya-karya yang tetap hidup di sanubari tanah ini hingga bertahun-tahun setelah ini.</p>
<p>Keterangan :<br />
(1) Amak bahaso minang, Abak bahaso minang, nan anak ndak ngarati jo bahaso minang, terjemahan : Ibu berbahasa Minang, Ayah berbahasa Minang, anak tidak mengerti (tidak pandai) berbahasa Miinang&#8221;<br />
(2) Etek, panggilan Minang untuk Tante.<br />
(3) Sulo, bahasa minang untuk alat pengupas kelapa<br />
(4) Ciki-ciki, istilah di Padang untuk makanan ringan<br />
(5) Sakarek ula sakarek baluik, terjemahan : sekerat ular, sekerat belut = pribahasa yang maknanya orang yang tidak memiliki pemahaman yang utuh akan sesuatu perkara, sehingga suka main comot sana dan sini.</p>
<p>Beberapa tulisan yang menjadi rujukan :<br />
1. “Tentang Wisran Hadi” dikutip dari http://wisranhadi.wordpress.com/tentang-wisran-hadi/<br />
2. “Detik-detik Terakhir, Wisran Hadi Tengah Menulis” dikutip dari http://inioke.com/konten/7224/detik-detik-terakhir-wisran-hadi-tengah-menulis.html<br />
3. Cerita-cerita di Pandam Pekuburan Keluarga Wisran Hadi di Siteba</p>
<div id="attachment_1165" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px"><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/p5289553.jpg"><img class="size-full wp-image-1165" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/p5289553.jpg?w=529" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">In Memorian with Wisran HadiMasjid dimana Ayahanda Wisran Hadi disholatkanPeristirahatan terakhir, Karangan Bunga, dan Keluarga yang ditinggalkan</p></div>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/catatan-harian/'>Catatan Harian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1161&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/06/28/anak-sakarek-ula-sakarek-baluik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/wisran-hadi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wisran hadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/06/p5289553.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OLYMPUS DIGITAL CAMERA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memberi</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/05/08/memberi/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/05/08/memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 14:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pmail's Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1156</guid>
		<description><![CDATA[ Kita lebih sering berharap menerima daripada berpikir untuk memberi. Dari pagi, ketika bangun tidur, kita telah menerima perhatian dari seorang &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/05/08/memberi/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1156&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/05/giving.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1159" title="giving" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/05/giving.jpg?w=529" alt=""   /></a> Kita lebih sering berharap menerima daripada berpikir untuk memberi. Dari pagi, ketika bangun tidur, kita telah menerima perhatian dari seorang ibu yang membangunkan pagi. Setelah itu, kita menerima sarapan pagi yang kembali disuguhkan oleh ibu. Kemudian, kita menerima uang jajan dari ayah dan diantarkan ke sekolah. Di sekolah, kita menerima pelajaran dari guru. Ketika istirahat sekolah, ditemanin makan siang oleh seorang sahabat. Sewaktu pulang sekolah, kita menerima jasa angkot hingga sampai di rumah. Di rumah, kembali menerima santapan makan siang. Begitu seterusnya hingga malam, hingga pagi lagi.</p>
<p>Kita lebih sering menerima hak dan jarang berpikir untuk memberi hak orang lain. Seorang ibu juga berhak diringankan beban pekerjaan rumahnya, misalnya menyapu rumah, mencuci piring, bahkan membersihkan tempat tidur sendiri dan meletakkan sepatu pada tempatnya juga sudah meringankan beban ibu, dengan kata lain memberikan hak ibu. Pergi ke sekolah tanpa diantarkan oleh ayah juga sudah merupakan bentuk memberikan hak ayah, yaitu diringankan bebannya. Begitu juga dalam lingkungan sekolah, pertemanan, bertetangga, bersaudara, dan bermasyarakat secara luas.</p>
<p>“Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual,” tulis seseorang dalam artikel yang pernah saya baca. Seorang pemberi memiliki rasa cinta pada orang yang diberinya. Karena memang inti cinta adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh lebih baik dan berbahagia karenanya.</p>
<p>Karena rasa cinta itu, kita dengan mudah memberi. Maka tak heran jika ada seseorang yang harus bersusah payah melaksanakan sesuatu demi memberi kepada orang yang dicintainya. Ukuran ketulusan dan kesetiaan cinta adalah apa yang diberikan kepada yang kita cintai untuk membuatnya menjadi lebih baik. Meskipun memberi itu mesti melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut. Orang-orang itulah ayah, ibu, saudara, teman, sahabat, dan orang-orang lain yang kita cintai.<span id="more-1156"></span></p>
<p>Memberilah pada orang-orang yang kita cintai. Memberi pada orang yang pernah memberi kepada kita. Dan memberilah pada orang yang mencintai kita. Memberi adalah perwujudan dari cinta. Dengan memberi, ada rasa tersendiri yang akan membuncah di dalam dada. Perasaan bahwa kita telah menunjukkan rasa cinta yang kita punya.</p>
<p>Dan pastikan, setelah memberi, kita pasti menerima. Jika tidak saat ini, esok, atau nanti pada saat-saat yang tidak terduga. Karena secara alamiah, memberi memantulkan menerima.</p>
<p><strong>(terbit di tabloid P&#8217;Mails awal tahun 2010)</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>, <a href='http://nilna.wordpress.com/category/pmails-journal/'>Pmail's Journal</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1156&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/05/08/memberi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/05/giving.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">giving</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ucapan &#8220;Innalillahi&#8221;, Pengantar Ucapan Selamat kepada Pemimpin Terpilih</title>
		<link>http://nilna.wordpress.com/2011/04/05/ucapan-innalillahi-pengantar-ucapan-selamat-kepada-pemimpin-terpilih/</link>
		<comments>http://nilna.wordpress.com/2011/04/05/ucapan-innalillahi-pengantar-ucapan-selamat-kepada-pemimpin-terpilih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 03:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilna R.Isna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilna.wordpress.com/?p=1152</guid>
		<description><![CDATA[: :Inalillahi wa ina ilaihi roji&#8217;un,..Selamat kepada saudari NILNA R. ISNA yang telah terpilih menjadi SEKJEN ISMKMI periode 2011-2013 melalui &#8230;<p><a href="http://nilna.wordpress.com/2011/04/05/ucapan-innalillahi-pengantar-ucapan-selamat-kepada-pemimpin-terpilih/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1152&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/04/pemimpin.png"><img title="pemimpin" src="http://nilna.files.wordpress.com/2011/04/pemimpin.png?w=280&#038;h=320" alt="" width="280" height="320" /></a>:</p>
<p style="text-align:center;">:Inalillahi wa ina ilaihi roji&#8217;un,..Selamat kepada saudari NILNA R. ISNA yang telah terpilih menjadi SEKJEN ISMKMI periode 2011-2013 melalui MUSYAWARAH MUFAKAT::</p>
<p style="text-align:left;">Pernyataan ini saya terima dari seorang teman yang menuliskannya di status Facebooknya. Saya kemudian lanjut pada ucapan-ucapan selamat yang muncul sesaat setelah saya terpilih sebagai SEKJEND ISMKMI periode 2011-2013, baik di wall FB, di status teman-teman, dalam postingan grup, maupun melalui sms. Hingga kemudian kembali saya menemukan kata-kata ucapan selamat yang ditulis seorang teman pada wall FB saya.</p>
<p style="text-align:center;">“Barakallah wa innalillahi wa innailaihi raji’un&#8230;.Semoga amanah baru menjadi peringan menuju Syurga…”</p>
<p style="text-align:left;">Jika boleh membuat award untuk “ucapan selamat terbaik”, maka pilihan saya jatuh pada dua untaian kalimat di atas.<br />
Pada awalnya, saya memang kaget. Kenapa justru ungkapan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” yang saya terima? Tetapi tanpa berpikir macam-macam, tanpa berburuk sangka, saya pahami bahwa ini adalah untaian kalimat terhormat yang saya terima. Bahwa saya telah diingatkan pada “hakikat kepemimpinan”.</p>
<p style="text-align:left;">Pada sebuah sumber ditemukan hakikat kepemimpinan yang mesti dipahami baik oleh para pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin, yaitu sebagai berikut :<span id="more-1152"></span></p>
<p style="text-align:left;"><strong>1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan.</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong> </strong><br />
Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggung jawabkannya,.</p>
<p style="text-align:left;">Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu  keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong> </strong><br />
Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi  ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3. Kerja Keras, Bukan Santai.</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><br />
Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dankesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>4. Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><br />
Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya.</p>
<p style="text-align:left;">Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan  hidup, ini berarti tidak ada keinginan sedikitpun untuk membohongin rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat atau  kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga  atau golongannya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong></strong><br />
Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor  dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.</p>
<p style="text-align:left;">Tanggungjawab, pengorbanan, kerja keras, melayani, serta keteladanan dan kepeloporan yang merupakan amanah bagi seorang pemimpin.</p>
<p style="text-align:left;">Namun apabila amanah tersebut lebih dipandang sebagai sebuah keistimewaan, fasilitas, kesantaian, kesewenangan, dan mengindahkan keteladanan, maka ia dapat menjadi musibah.</p>
<p style="text-align:left;">Jabatan, apalagi jabatan tertinggi dalam suatu kelompok, adalah amanah yang diberikan. Ia akan menjadi musibah bila kita tidak menjalankannya dengan benar dan ia bisa menjadi anugrah apabila kita telah “preventif” dengan memaknai hakikat kepemimpinan secara mendalam.</p>
<p>Dalam sebuah blog, saya menemukan kutipan berikut :<br />
“ Seandainya mau jujur, seharusnya para pejabat yang baru dilantik itu serempak mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun, tanda menerima musibah. Karena jabatan itu adalah amanah sekaligus ujian atau musibah. Bukan pemberian yang harus dirayakan dengan euforia tawa bahagia. Selain itu, rekan kerja, sahabat, keluarga, dan sejumlah instansi terkait yang memborong space halaman iklan ucapan selamat di sejumlah media massa, mestinya menyematkan ucapan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun juga, meski mungkin akan dianggap konyol.”</p>
<p style="text-align:left;">Sepakat dengan ini. Hanya saja Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun bukan ungkapan yang utama tetapi mesti diletakkan pada tempat yang pertama. Karena kalimat yang utama adalah “Selamat dan sukses kepada saudara yang terpilih mengemban amanah dan semoga dapat menjalankannya dengan sebaik-baiknya.”</p>
<p style="text-align:left;">Di Nigeria, ungkapan Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun yang ditujukan kepada pemimpin yang baru terpilih, sudah menjadi hal yang biasa. Ini diawali ketika . Pejabat Presiden Nigeria Jonathan dalam pidato kenegaraannya menyatakan “Jabatan adalah musibah, dan hanya ucapan innalillahi wa innailaihiroji’un yang pantas mengiringinya.”</p>
<p style="text-align:left;">Semoga tulisan ini dapat menjadi manfaat dan pemahaman baru bagi saya yang menulis dan bagi yang membacanya.</p>
<blockquote><p>Hanya akal &#8211; akal raksasa yang tercerahkan wahyu yang siap untuk menerima proyek besar peradabantitipan ALLAH SWT.</p>
<p style="text-align:left;">Sungguh, sangat terhormat posisi seorang pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan amanah, melaksanakan kepercayaan rakyatnya, dan menetapkan hukum sesuai prinsip keadilan. Allah swt akan menyediakan baginya di akhirat kelak mimbar kehormatan yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Ar-Rahman.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;"><a href="http://nilna.files.wordpress.com/2011/04/pemimpin.png"><br />
</a></p>
<p style="text-align:left;">(Nilna R. Isna, 5 April 2011)</p>
<br />Filed under: <a href='http://nilna.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilna.wordpress.com/1152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilna.wordpress.com/1152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilna.wordpress.com&amp;blog=1155883&amp;post=1152&amp;subd=nilna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilna.wordpress.com/2011/04/05/ucapan-innalillahi-pengantar-ucapan-selamat-kepada-pemimpin-terpilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/200728ba26ea2b6ea393575ab03d328e?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nilna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nilna.files.wordpress.com/2011/04/pemimpin.png" medium="image">
			<media:title type="html">pemimpin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
