Sajak-sajak Nilna R. Isna [di edisi khusus penyair perempuan]

Di seberang jalan
: Efri
Engkau yang berada di seberang jalan
menyapa sesenggukan
Aku yang berada di seberang jalan
menyikat kenangan
Padang, Mei 2008
Laut (2)
demi pasir yang menyusup ke telapak kaki
bahwa pantai menebal dan nya semakin tipis
semusim bocah dikejar laut
dengan setampuk gelisah beraroma tawa
dengan luka gerai
pada sekali yang ombak
dan tanya yang elus
PadaNya,
simpan nafas kita

Padang, Juni 2008
diterbitkan di Tabloid P’Mails edisi khusus [...]

Sajak Sebelum Tidur

Sebelum Penyakit Itu Datang
9 Maret 2008
22:45:00

Aku sendirian di rumah
Kamu apa kabar?

dan penyakit kesepian hinggap selalu
setiap malam sebelum dia tidur
memaksanya membongkar rak-rak
tempatnya menyembunyikan berlembar koran
yang kabarnya tlah usang

sebelum penyakit itu datang

Nasib Sang Nasib
12 Maret 2008
22:05:00

Dan sang nasib tak lebih mujur daripada daun
Yang kering terserak digugah angin malam
Pun daun masih terpedulikan bagi [...]

Menyeruak belukar

: ru

Fajar melepas terang pada pagi
di kilau cahaya embun pematang
berderai-derai
Lirik lama membujuk kalbu
berlomba mengejar langit
matahari kini
Inilah segelintir pasir di kaki bukit
menyeruak belukar
dalam jerami menggunung

Lantai dua, Maret 2007

Antologi Puisi Temu Penyair 2008 : Kampung Dalam Diri

26 Februari

lalu aku terjaga, 26 Februari
ketika matahari merongrong bumi
Baru kini aku merasa lain seperti menggigil
Hawa mencuat membeku di kening dan
rama-rama melesat melewati anggrek
satu biji, dua biji, 26 Februari

dan ranting melintang
dari jarak yang kita atur dengan jemari
oleh rasa yang campuri hati
tiada luka tersakiti, tanpa linang di pipi
hari ini, 26 Februari

Waw, ada kembang merekah di dadaku
seribu salju [...]

Edisi Kelebat

Nilna R. Isna

Kelebat 1
Akhirnya kaubuka juga penggalan-penggalan kisah yang disimpan bertahun-tahun lamanya itu. Berkelebat dalam garis-garis nasib. Nasib yang menggiringmu ke dermaga batinku. Ingatanku kembali menyapu ruangan sesak yang membekap dirimu dan diriku di awal pertemuan kita. ”Astaga, negeri apa ini? Sempit. Dan mengapa manusia betah bertahan disini? Lalu untuk apa kita kemari?”
Awal November, [...]

Semakin Kabut

malam menyapa kabut
gelak terkekeh, kadang terkikik
pukul sebelas, mendekati dua belas
nina bobok tak terdengar sudah
tak ada lagi ibu-ibu yang mendongeng
berdendang, atau bertepuk
sajak dan lirik berceceran, tak teratur
dan malam kembali menyapa kabut
yang kini semakin kalut

kayu tanam. desember 2006

Singgalang, 8 Februari 2007
Riau Pos,

Sajak Kumala

terpaksa menerobos pintu pemisah waktu
padahal sajak tak hanya berirama sendu
selasa menyusut menyerobot kicauan burung
melawan arus timbang teratai
pondok jamur, sarang laba, makanan burung
oi, kumala tersenyum pada bungalow
pada alam, sepassang merpati menari
seekor angsa kehilangan pasangan
–dan rabu pagi kumala tersenyum nanar
2006
Singgalang, 8 Februari 2007
Riau Pos,