Bagimu, jiwa baik yang cintanya dinistai,
langit ini runtuh, bumi ini gelap, laut mendidih, udara serasa pekat berjelaga, dan air serasa pasir, …
tapi sesungguhnya engkau terluka bukanlah oleh rasa kehilangan orang yang kau cintai; tapi karena rasa terhina, terbuang, tersia-siakan, dan dirampoknya rasa berhak untuk hidup dengan baik.
Pengkhianatan cinta tidak mencabik orang itu darimu, tapi merusak rasa hormat dirimu.
Engkau dibuatnya merasa tak berguna, tak bernilai, tak pantas dihargai, dan tak dipertimbangkan dalam mengalihkan perhatiannya kepada orang lain yang belum tentu sebaik dirimu.
Engkau dibuat bertanya-tanya dalam kesendirianmu mengenai apa yang memantaskanmu bagi perlakuan senista ini.
Memang …,
Pengkhianatan cinta adalah penghinaan terkejam kepada rasa hormatmu kepada dirimu sendiri.
Itu yang menjadikanmu geram dan ingin melihatnya meregang terpanggang api neraka, dan terlantar antara pingsan dan mati di belantara penuh duri dan racun .
Ooh … betapa dendam itu mentenagai malam-malam panjang yang berselang-seling antara tangis dan rencana pembalasan dendam.
Tapi …, karena kebaikan jiwamu – engkau tahu, engkau tak mungkin berlaku kejam bahkan kepada orang yang mengejamimu, … alih-alih engkau melunglai lemah dalam keinginan untuk lari dan menghilang dari kesadaranmu, agar engkau lupa betapa rendahnya engkau diperlakukan.
Continue reading »
Jiwa Baik yang Cintanya Dinistai
22 Saturday Oct 2011
Posted in Opini



Beberapa hari belakangan, saya diramaikan oleh satu kata yang agak merisaukan hati : memilih. Tidak hanya memilih untuk diri sendiri tapi juga memilihkan untuk orang lain. Bukan hanya memilih yang akan menghebohkan orang sejagad tapi juga memilih yang hanya untuk pribadi sendiri. Tentu teman-teman juga tengah mengalami hal yang sama.