terbit di Padang Ekspres, 14 Desember 2008
Cerpen Nilna R. Isna
Pak Haji Guru sungguh benci dengan guyonan lokal yang sedang ngetrend di kompleknya. Guyonan itu tak lain datang dari Udin yang baru pulang merantau dari kota. Udin menebarkan virus ‘kota’nya kepada pemuda-pemuda sebayanya. Tak ayal, hampir semua muda-mudi kampung mengikut gaya trendy Udin. Membuat Pak Haji [...]
December 21, 2008
Categories: cerpen . Tags: Sastra . Author: Nilna R.Isna . Comments: 2 Comments
Cerpen Anak Nilna R. Isna, terbit di halaman Ceria P’Mails
Siang ini Dola belajar masak bersama mama. Dola sudah berjanji pada mama akan membuat kue bika ambon. Semua bahan-bahan sudah dipersiapkan di dapur. Ada tepung sagu, gula pasir, mentega, santan dan telur.
Alat-alatnya juga sudah ada. Ada oven untuk memasak, loyang untuk meletakkan adonan, dan baskom plastik [...]
August 10, 2008
Categories: cerpen . Tags: Sastra . Author: Nilna R.Isna . Comments: Leave a Comment
Cerpen Nilna R. Isna terbit di Harian Haluan Minggu
Nyawaku Suara
Nilna R. Isna
Anak-anakku bertengkar hebat dengan anak-anaknya di dalam rumahku, di luar rumahku, dan di sebelahku. “Alia, sudah kukatakan padamu, jangan pulang lewat senja. Kamu ini wanita. Sekali lagi kamu pulang lewat senja, kutampar kau!” Itu anak tertuaku. Di luar rumah, ia melayangkan tangannya hendak [...]
July 14, 2008
Categories: cerpen . Tags: Sastra . Author: Nilna R.Isna . Comments: 1 Comment
oleh : Nilna R. Isna
Pagi ini, mentari bersinar seperti biasanya begitupun angin, daun, langit, dan hidupku. Aku terlahir sebagai anak kaku, pendiam, dan serba teratur. Bagiku, kalimat orangtua adalah cambuk kehidupanku. Sekali saja aku tidak mengikuti perintah mereka, berkali-kali aku menerima pesakitannya. Terkadang aku muak dengan diriku sendiri. Aku bosan dengan diriku yang terlahir sedemikian [...]
December 1, 2007
Categories: cerpen . . Author: Nilna R.Isna . Comments: Leave a Comment
Saya tidak tahu, kenapa malas senang sekali dekat-dekat dengan saya. Ingin saya usir malas itu, saya depak ke luar kamar, dan saya bisa hidup tentram. Tapi, sama saja. Sekalipun malas sudah saya tendang jauh-jauh, malas kembali datang. Kali ini bukan malas yang ingin dekat dengan saya tapi saya yang memanggil malas.
“Nay, tolong Ibu menanak nasi, [...]
June 1, 2007
Categories: cerpen . Tags: Sastra . Author: Nilna R.Isna . Comments: 1 Comment