pada suatu magrib
aku gelisah. berkeliaran bersigegas, bertingkah bergejolak.
kau belum datang!
berusaha bersikap tenang, walau galau tak urung tersembunyikan.
“jangan resah begitu,” ujar seorang teman di sebelah kanan.
kupikir aku bisa bersikap tenang dan meledeknya yang meledekku di sebelah kanan.
setengah berbisik kau kupertanyakan, “sudah ada dimana?”
tapi mereka sibuk dalam kesibukan, mengurusi kertas-kertas, berbicara keras-keras
kau masih dalam perjalanan.
tak semestinya aku merawat kegelisahan, “dia sudah dewasa,” kata mereka.
aku diam.
kau datang!
ah, akhirnya kau datang dalam keadaan yang melekat di pandangan.
kupastikan jalanan dan orang-orang kota ini membuatmu sesak.
aku beranjak, ingin menyambut dengan memeluk.
tapi yang terlakukan hanya bertanya, “jam berapa sampai di terminal?”
kau menjawab, tapi jawabanmu tak melekat di kepalaku,
yang melekat hanya wajahmu, wajah yang selama ini kulihat dengan suara.
pada magrib yang menua,
aku memandangmu dalam-dalam
di sebuah kota,
Jakarta,
pertemuan pertama
setelah kudengar suara-suara.