• Tentang Nilna

Nilna.R.Isna

~ Kata Tanpa Jeda

Nilna.R.Isna

Daily Archives: October 31, 2011

Selamat Pagi, Nayella !

31 Monday Oct 2011

Posted by Nilna R.Isna in cerpen

≈ Leave a Comment

Pagi ini, mentari bersinar seperti biasanya begitupun angin, daun, langit, dan hidupku. Aku terlahir sebagai anak kaku, pendiam, dan serba teratur. Bagiku, kalimat orangtua adalah cambuk kehidupanku. Sekali saja aku tidak mengikuti perintah mereka, berkali-kali aku menerima pesakitannya. Terkadang aku muak dengan diriku sendiri. Aku bosan dengan diriku yang terlahir sedemikian rapi. Sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; sarapan pagi, tidur siang, dan makan malam; begitu seterusnya.

Aku membolak balik koran pagi ini. Ini penting bagi aku sebelum aku benar-benar ketinggalan. Aku rasa kehidupanku telah memenjarakanku. Sampai saat ini pun aku hanya bisa makan, tidur, dan makan. Aku tidak kenal dengan apa yang disebut teman. Aku terkurung dalam rumah. Rumah besar yang aku diami bertahun-tahun. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi di luar. Koranlah yang menjadi harapan bagiku untuk mengenal dunia di luar sana. Aku ingin menjalani kehidupan seperti orang-orang yang bebas seperti mereka. Bukannya menjadi gelandangan di rumah besar ini.

“Mbak, waktunya sarapan.” Aku membaca kertas berbentuk notepad yang disuguhkan salah satu pekerja di rumahku. Aku mengedipkan mata. Ia mengerti dan berbalik ke dalam. Aku beringsut ke meja makan. Kedua orangtuaku telah duduk di meja makan. Sementara sebelas pekerja duduk di meja yang lainnya. Keluargaku cukup baik untuk mengajak mereka makan dalam waktu yang sama meskipun pada tempat yang berbeda. Dengan ini, kehormatan orangtuaku tetap terjaga.

”Nayella Istana, silahkan duduk dan makan.” Kalimat yang setiap hari aku lihat. ”Andrita Millia, silahkan duduk dan makan.” Begitu juga dengan kata-kata ini. Setelah aku, ayahku, dan ibuku duduk di meja makan, sebelas pekerja ikut duduk di meja yang lain. Sarapan pagi kami adalah sarapan tanpa denting. Tidak boleh sedikitpun terdengar suara. ”Nayella, mama dan papa pergi dulu. Kamu hati-hati di rumah.” Aku mengedipkan mata pelan. Dia ibuku, Andrita Millia, ia selalu menyapaku setiap pagi lewat secarik kertas bergambar hati. Hanya setiap pagi aku bisa melihat senyumnya. Dan ayahku, aku selalu lupa namanya, sedetikpun tak menolehkan pandangannya padaku. Sarapan pagi adalah pertanda waktu bagiku untuk menunggu siang hingga pekerja di rumahku menyerahkan secarik kertas. ”Mbak, waktunya tidur siang.”Dan aku akan beranjak dari tempatku duduk menuju kamar yang telah dirancang khusus untukku.

Aku Nayella Istana. Lahir dari keluarga terhormat tanpa cela. Ayahku dan ibuku mengizinkan aku hidup. Aku beruntung bisa hidup. Pada kenyataannya, aku anak kelima dari lima bersaudara. Tapi, keempat saudaraku lebih memilih untuk berhenti hidup. Akulah yang bertahan hidup. Akulah yang berhasil hadir menemani keluarga terhormat ini. Tapi, aku tak pernah berpikir dan tidak mau sadar bahwa aku anak seorang keluarga tanpa cela. Karena akulah cela itu.

Entah dosa apa yang aku lakukan. Aku terlahir tuna rungu. Aku lemah, lumpuh, dan tidak berguna. Semua yang aku lakukan digerakkan oleh alat. Hidupku hanya di dalam rumah. Aku dijaga oleh belasan pekerja ayahku. Orangtuaku tidak mau menjagaku. Mereka lebih suka menjaga kehormatannya daripada menjaga diriku. Karena itulah, aku tidak pernah tahu keadaan selain di dalam rumahku. Aku tidak sekolah, aku pun tak punya teman, dan aku tidak mengenal Tuhan.

Aku tahu sekolah, teman, dan Tuhan dari koran. Tiga kata itu aku temukan dimana-mana. Tiga kata itu selalu ada di sudut-sudut yang menyenangkan. Aku juga ingin belajar, pergi ke sekolah, dan bertemu teman-teman. Kurasa tak ada yang lebih baik dari sekolah dan tak ada yang sebaik teman. Tuhan? Oh, seperti apa dia? Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya. Sepertinya Tuhan begitu dicintai oleh semua penduduk bumi. Tapi aku tidak mengenal Tuhan. Siapa dia?

”Sh”Aku menyentuh salah satu pekerja di rumahku. Dia menoleh padaku, sedikit terkejut. Kurasa dia mengucapkan kata ’ya’. Dia berjongkok sehingga kepalanya sejajar dengan kepalaku. Segera ia menggerakkan tangannya dengan cepat, ”ada apa mbak?”. Dia satu-satunya pekerja yang mengerti bahasa komunikasiku selain lewat secarik kertas, bahasa isyarat. Dia yang mengajarkannya padaku, bukan ayah atau ibuku. Dia juga yang mengajarkan aku membaca dan menulis, bukan ayah atau ibuku. ”Bisakah kau tunjukkan padaku dimana Tuhan? Jelaskan padaku tentang sekolah? Dan beri tahu aku apa yang disebut dengan teman?” Dia tersenyum. Entah apa maksud senyum itu. Ia menarik napas sejenak lalu mulai menggerakkan tangannya. Kali ini lebih lambat agar aku mengerti. Aku meneliti tiap gerak tangan dan jemarinya yang terlihat lebih tua dari umurnya. ”Tuhan adalah Dia yang memberimu hidup, Dia yang mengatur seluruh alam semesta, dan Dia yang kamu sembah, kepadaNya kamu meminta pertolongan.” Dia mengehela napas lalu melanjutkan, ”Sekolah adalah tempat dimana seluruh ilmu diajarkan. Di sekolah, kamu akan menemukan teman. Teman adalah dia yang duduk-duduk di beranda bersamamu tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu kau meninggalkannya seakan-akan telah bercakap-cakap lama denganya. Kau mengerti?” Aku diam agak lama. Pikiranku menerawang jauh, mencerna kembali gerak-gerak tangan tadi. Aku memandangnya kemudian mengedipkan mata. Dia tersenyum. Senyum itu membuatnya tampak lebih muda daripada tadi aku menyentuhnya.

Aku meninggalkannya dengan tergesa-gesa. ’Aku akan mencari Tuhan, sekolah, dan teman,’ itu pikirku. Dengan kursi roda, aku berputar-putar di dalam rumah. Banyak pekerja yang terheran-heran denganku. Tidak biasanya aku berada selain di dalam kamar, kecuali jika sarapan dan makan malam.

Aku menemukan sesuatu, seorang bocah berbaju putih dan memakai rok berwarna merah hati. Ada bando merah-putih di kepalanya dan tas besar di punggungnya. Ia sedang asyik bercengkrama dengan seorang lagi, anak laki-laki berbaju putih lengan panjang yang memakai sarung dan sesuatu berwarna putih menutupi kepalanya. Bocah berbando itu tertawa terpingkal-pingkal sedangkan anak laki-laki di sebelahnya diam seribu bahasa namun masih tergurat senyum di bibirnya. Anak laki-laki itu kemudian menggerakkan kedua tangannya ke atas dengan telapak menghadap ke depan, kemudian ia menunjuk pada jam, lalu menyerahkan dua helai kain putih pada bocah berbando. Bocah yang memakai bando itu terlihat mengerti. Ia meletakkan tasnya, membuka sepatunya, dan beranjak ke kamar mandi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan. Bocah berbando itu keluar dengan wajah, tangan, dan kaki yang terlihat basah. Telinga dan rambutnya juga tampak basah. Ia mengenakan dua kain putih tadi. Aku melihat sesuatu yang berbeda darinya, wajahnya tampak lebih cerah daripada yang kulihat pertama kali tadi. Sekilas, aku melihat semburat cahaya yang menaungi mereka. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya. Anak laki-laki tadi kembali mengangkat tangannya, tapi sambil menggumamkan sesuatu. Pemandangan ini sangat aneh bagiku. Apa yang dilakukan anak laki-laki itu? Dan kenapa bocah berbando tadi memakai kain yang menutupi seluruh tubuhnya? Aku hanya bisa melihat wajah cerahnya karena selebihnya tertutup kain. Bocah yang dibungkus kain putih itu mengikuti setiap gerak yang dilakukan anak laki-laki di depannya. Aneh sekali, mereka tidak berhadap-hadapan, mereka tidak saling melihat, tapi mereka bergerak teratur. Lebih teratur dari sarapan pagi yang biasa aku lakukan. Aku bergegas pergi dari tempat itu. Itukah yang dimaksud dengan teman? Itukah yang mereka lakukan untuk Tuhan?

Malam kali ini datang lebih cepat dari yang kemarin. Aku terengah-engah ketika seorang pekerja menyerahkan secarik kertas padaku, ”Mbak, waktunya makan malam.” Aku tidak berkedip. Aku tetap pada tempat dimana aku berada sekarang. Dia, pekerja itu, berlalu meninggalkanku. Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Aku mengerti sekarang, tak ada satu orang pun yang benar-benar memperhatikan aku. Dia pasti mengira aku akan mengedipkan mata, memutar kursi roda, dan beranjak dari tempat aku berada. Dia tidak melihat aku tidak mengedipkan mata kali ini. Dia pergi sebagaimana aku yang juga bisa pergi.

***

Aku membuka mata. ”Selamat pagi dunia! Mentari bersinar seperti biasanya begitu pun angin, daun, langit, dan hidupku. Hidupku?.” Ah, apa yang baru saja aku lakukan?

”Selamat pagi dunia!”

Tidak, hidupku tidak seperti biasanya. Aku mengucapkan kalimat pertama. Kalimat pertama yang terdengar dari mulutku sendiri. Aku tidak seperti biasanya. Aku berbicara. Aku mengeluarkan suara. ”Selamat pagi dunia,” teriakku keras. Aku mendengar gaung suaraku. Oh, apakah aku benar-benar berubah sekarang? Apakah aku benar-benar bisa berbicara dan mendengar? Bermimpikah aku?

”Selamat pagi, Neng.” Aku melihat bapak tua yang sepertinya berbicara denganku. ”Mau ke sekolah ya, Neng?,” tanya Pak tua itu. Aku mengerinyit dan melihat tubuhku sendiri. Astaga, aku benar-benar tidak seperti biasanya. Aku berdiri. Aku memakai baju yang sama dengan orang-orang yang lalu lalang di sekitarku. Baju putih dan rok merah. Dan apa yang diucapkan Bapak tua tadi? Kalau tidak salah dengar, dia mengucapkan kata ’sekolah’. ”Oh, Bapak tau. Neng, pasti yang baru pindah kemarin kan? Rumah Bapak di sebelah rumah Neng. Kita bertetanggaan, Neng.” Bak terkena mantra, aku mengangguk. Bapak tua itu bercakap banyak denganku menjelang sampai ke sekolah. Aku hanya mengangguk, sekali-kali tersenyum. Bapak tua itu dengan baik mengantarkanku ke sekolah, ke tempat yang aku rindukan selama ini.

”Hai, namaku Nayella Istana. Kalian bisa memanggilku Nay. Aku tinggal di dekat sini. Di belakang sekolah, gubuk nomor dua dari kiri, tepat di depan mushalla.” Kalimat kedua yang aku ucapkan dengan lancar, tanpa beban, dan sesungging senyuman.

Catatan kaki : Cerpen ini adalah cerpen pertama yang ditulis Nilna R. Isna pada tahun 2007. Nayella Istana adalah nama tokoh pertama yang kemudian menjadi nama lain dari Nilna.


Share this:

  • Facebook
  • Twitter
  • Tumblr
  • Email
  • Print
  • Digg
  • LinkedIn
  • Reddit
  • StumbleUpon

Like this:

Like
Be the first to like this post.

♣ Penulis

  • Nilna R.Isna

♣ Nilna R. Isna

Public Health Student | General Secretary of Association of Indonesian Public Health Students Organization @ISMKMI | love reading n writing | ordinary girl, who can fall in love | aspires to be a good wife and a good mom | IndonesiaLovers |

♣ Quote fr NY

People who continue to put their lives on the line to defend their faith, become heroes and will continue to exist on in legends. (NY)
The greatest warrior not coming from the comfortable palace, but he come from the deepest, hardest, and dangerous valley. (NY)

♣ Kalender

October 2011
S M T W T F S
« Jul   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

♣ Halaman

  • Tentang Nilna

♣ Categories

  • Artikel Padek (15)
  • Catatan Harian (123)
  • cerpen (7)
  • Opini (16)
  • Pmail's Journal (149)
  • puisi (21)
  • Uncategorized (49)

♣ Yang digemari

  • Mengenal Kanker Payudara Sedari Dini
  • Cacing-cacing Berbahaya yang Hidup di Usus Manusia
  • Rahasia Burung Hantu di Gelap Malam
  • Sejuta Khasiat Teh Hijau
  • Mengenal Jenis-jenis NAPZA
  • MEKANISME DAN TERAPI ALERGI
  • Makanan Sehat Agar Remaja Bugar dan Ideal
  • I-Unit, Mobil Masa Depan yang Ramah Lingkungan
  • Tahu dan Tempe Penting Bagi Wanita
  • Wirausaha yang cocok Bagi Pelajar

♣ Tulisan Tebaru

  • Bu Endang : Menkes Bersahaja, Penuh Karya Bermakna
  • 1360
  • HUKUM KEKEKALAN TAWA
  • #MayDay
  • PARIPURNA PURA-PURA
  • Maissy…. *terharu*
  • Ketika WASEKJEND Pulang ke Makassar
  • tipi minggu pagi | reblog
  • \
  • Rumah Impian

♣ Yang mereka katakan

Ono slembe on Rahasia Burung Hantu di Gelap…
niw on Mengenal Kanker Payudara Sedar…
kucing on Cacing-cacing Berbahaya yang H…
azhar on Cacing-cacing Berbahaya yang H…
muhammad alfath on Cacing-cacing Berbahaya yang H…
Naili Taya on Wirausaha yang cocok Bagi…
rivah on Mengenal Kanker Payudara Sedar…
rurimadani12 on “Cita-cita jangan satu, harus …
rurimadani12 on “Cita-cita jangan satu, harus …
ambocupu on Kuliner Mengesankan Sepanjang…
Arrez Alimbhook on Mengenal Kanker Payudara Sedar…
anto on Sejuta Khasiat Teh Hijau
nita on Demam Chikunguya, “Demam…
Nilna R.Isna on Tentang Nilna
Nilna R.Isna on Tentang Nilna

♣ Blog Spesifik Nilna

  • Blog Sehat Nilna
  • Catatan Kuliah
  • Cerpen Padang Ekspres
  • Sajak-sajak Nilna R. Isna
  • SMS diterima

♣ Komunitas

  • ISMKMI
  • KU INDONESIA
  • Save Child From Smoke

♣ Media

  • Padang Ekspres
  • Padang Kini
  • Padang Media
  • Padang Today

♣ Sahabat Menulis

  • Alfernado Arlis
  • andelisia Darmansius
  • Cesar Zaihan Camile
  • Chairan Hafzan Yurma
  • Chotic
  • Dedet Pratama Dinata
  • Elsya Crownia
  • Esha Tegar Putra
  • Fanz
  • Freshti Aldi
  • Kadek Ridoi Rahayu
  • Kenfi Stadiora
  • Lafi Munira
  • Maghriza Novita Syahti
  • Rahmadanil
  • Sayyid Madani Syani
  • Vinna Melwanti
  • Yulisa Farma
  • Yusrizal KW
  • Zara Novita Sari

♣ Archives

  • May 2012
  • April 2012
  • March 2012
  • January 2012
  • December 2011
  • November 2011
  • October 2011
  • July 2011
  • June 2011
  • May 2011
  • April 2011
  • January 2011
  • May 2010
  • December 2009
  • November 2009
  • July 2009
  • June 2009
  • May 2009
  • April 2009
  • March 2009
  • February 2009
  • January 2009
  • December 2008
  • November 2008
  • October 2008
  • September 2008
  • August 2008
  • July 2008
  • June 2008
  • May 2008
  • April 2008
  • March 2008
  • February 2008
  • January 2008
  • December 2007
  • November 2007
  • October 2007
  • September 2007
  • August 2007
  • July 2007
  • June 2007
  • May 2007
  • April 2007
  • March 2007
  • February 2007
  • January 2007
  • December 2006
  • November 2006
  • August 2006

♣ Awan Tag

Blak-blakan Buku Curhat dongeng event Iptren ISMKMI Jakarta kampus Kesehatan Komunitas Kuliah Lucu Makassar Nasionalisme P'Mailovers Pendidikan Pmail's Diary RAPIMNAS Sahabat Menulis Sastra SMS tips Tokoh Untuk Indonesia

♣ Blog Stats

  • 257,822 hits

♣ Yang Klik Saat Ini

web tracker

♣ Visitors

free counters

♣ klik www.inioke.com

inioke.com

♣ Facebook Nilna

Profil
Profil Facebook Nilna R. Isna
Buat lencana kamu sendiri

♣ Twitter Nilna

  • @inayahh Makasi kakakku yang cantik.... aamiin aamiinFollow Me16 hours ago
  • @SiskaWitdri Makasi ya dek.... :)))Follow Me16 hours ago
  • @Ayu_Fardila Makasi Ayuuu..Follow Me16 hours ago
  • @nessoo eh,, hehee.. hmmm. *bingungberkatakata* tp yg pasti makaaaasssssiiiiii nesssaaaaaaaaFollow Me16 hours ago
Follow @uninilna

♣

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 22 other followers

♣ Pooling

Nilai blog ini :
(polls)

♣ Milestone

The Big DayJanuary 26th, 2012
The big day is here.

Blog at WordPress.com. Theme: Chateau by Ignacio Ricci.

loading Cancel
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.