Asal Nggak Ngelantur, MOS Masih Perlu

Masa Orientasi Sekolah, katanya, merupakan ajang adaptasi untuk memperkenalkan sistem sekolah bagi siswa baru. Benar nggak sih?
Kata Chika Aulia Husna, “MOS itu adalah masa memperkenalkan siswa dengan sekolah baru.” Lalu, lanjut siswi yang baru masuk SMA 1 Padang ini, “Mos juga dijadikan sebagai  ajang penampilan bakat dan mengekspos potensi disamping beradaptasi terhadap siswa baru.” Lain lagi pendapat M. Khairul Ikbal. Menurut cowok yang biasa dipanggil Ikbal ini, MOS berguna untuk mendidik dan melatih mental siswa-siswi baru. “Selain itu, saat MOS, kita diberi kesempatan buat mengenal lingkungan sekolah, senior-senior, serta staf pengajar,” lanjut pelajar baru SMAN 2 Padang ini. Bagi siswa yang terpilih menjadi King SMAN 2 Padang angkatan 2008 ini, MOS itu perlu.
Dari hasil wawancara para reporter P’Mails, sebagian besar mengatakan bahwa MOS masih perlu diadakan. Alasannya karena pada masa inilah siswa-siswi baru diperkenalkan dengan lingkungan barunya yang dibimbing oleh kakak-kakak kelas mereka. Namun, ada juga pelajar yang nggak setuju dengan diadakannya MOS. Namanya Rici Astuti.  Menurut siswi SMA Semen Padang ini, MOS merupakan ajang balas dendam senior kepada junior. Karena itu, ia menolak keras kehadiran MOS. Baginya, MOS lebih banyak menularkan efek negatif daripada positif. Sama seperti Rici, Edisman juga tidak mendukung kegiatan MOS. “MOS itu hanya akan menambah susah, ribet, dan capek. Apalagi sekarang MOS lebih banyak mengeluarkan biaya. Senior sering meminta dibelikan ini-itu,” jelas cowok yang juga duduk di SMA Semen Padang ini.
Sementara itu, Prihayi Ningsih dari SMAN 2 Padang mengatakan, “Tujuan utama dari MOS itu buat memperkenalkan para siswa baru dengan lingkungan barunya. Tapi kalau dilihat sekarang, tujuan utama ini sudah hilang karena kebanyakan kakak kelas sudah ngelantur dari tujuan.” Sejalan dengan Ningsih, Khairani dari SMAN 1 Padang mengatakan, “Selagi MOS masih berjalan pada koridornya, itu sah-sah saja. MOS menjadi tidak perlu jikalau para senior sudah tidak berjalan dalam koridor alias melakukan penindasan, kekerasan, dan main fisik.”
Khairani melanjutkan, “Yang tidak perlu pada MOS adalah tradisi senior yang memarah-marahi, menghardik, dan menguji mental para juniornya. Junior kan masih baru, sebaiknya tidak ada tugas-tugas yang memberatkan.” Pendapat Khairani didukung Surati Neneng. Kata Neneng, yang perlu dihapuskan dalam MOS adalah bagian yang suka marah-marah, ngebentak-bentak, dan nyuruh-nyuruh. Sedangkan, menurut Edisman, yang tidak perlu pada MOS adalah bagian-bagian yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan, seperti berjemur, dikerjain, dan memakai atribut yang tidak karuan. Soal atribut juga diributkan oleh Mira Susanti. Mira yang notabene siswa baru SMA Pertiwi 2 Padang ini mengatakan atribut MOS itu merepotkan.  “Atribut MOS itu ngerepotin banget. Apalagi zaman sekarang semua serba mahal!” gerutunya. Tapi bagi Nadia Kemala Putri, kostum MOS bukan masalah, yang menjadi masalah itu adalah perlakuan panitia MOS terhadap siswa baru. “Bagi kakak OSIS (panitia,-red), nggak perlu sok galak deh! Sok berkuasa, juga tuh! Nggak penting banget gitu loh!” tandasnya.
Sementara itu, Rivo Amelia dari SMAN 2 Padang menyebut, bagian MOS yang tidak perlu itu seperti kekerasan fisik dan mental, pembentakan dengan kata-kata kasar dan jorok, dan menghukum junior tanpa alasan. Sama halnya dengan teman-teman dari SMA Semen Padang, Rivo pun punya pandangan lain terhadap MOS. Baginya MOS adalah ajang perkenalan, penyiksaan, balas dendam dan perpeloncoan dari senior-senior terhadap siswa baru. Bedanya, pelajar kelas XII IPS 2 ini masih mendukung MOS. “MOS masih perlu buat pengenalan. Tapi tujuan MOS itu sendiri sering terlupakan,” ujar cewek yang mengaku punya pengalaman buruk sewaktu MOS dua tahun lalu.
Memang, MOS sering diidentikkan dengan kekerasan. Kekerasan yang terjadi lebih berupa kekerasan mental seperti bentakan dengan kata-kata kasar. Namun, teman-teman yang diwawancarai reporter P’Mails relatif tidak setuju dengan kata ‘kekerasan’. “Dibilang kekerasan sih nggak ada ya tapi ada sedikit hal yang kadang bikin junior nangis,” terang Rici. Begitu juga komentar Syinta Masyitah, “Nggak ada kekerasan, yang ada uji mental. Kalaupun uji fisik hanya diberlakukan untuk calon king dan queen, seperti push up,” ucap dara kelahiran 18 Juni 1992 ini. Yolanda yang juga bersekolah di SMAN 9 Padang mengganti kata kekerasan dengan hukuman. “Nggak ada kekerasan, cuma hukuman,” sebutnya. Begitu juga pengakuan M. Khairul Ikbal, kata cowok asal SMPN 6 Batam ini, kekerasan tidak ditemukannya dalam MOS tahun ini. Lalu, Anggi Putri yang merupakan queen 2008 SMAN 2 Padang berkata, “Kayaknya nggak ada kekerasan. Soalnya senior dan guru-gurunya baik-baik. Paling dikerjain dikit, sekedar disuruh nyanyi, nari, dan lain-lain.” Senada dengan Anggi, kata Nadia Kemala Putri, di sekolahnya SMAN 6 Padang, nggak ada yang namanya kekerasan dalam masa MOS. “Paling-paling disuruh bawa coklat, permen, dan surat cinta. Itu doang!” cuapnya.
Namun, ada beberapa sekolah yang masih memberlakukan kekerasan fisik. “Kekerasan yang terjadi itu seperti ditampar dan ditendang,” aku Mira Susanti, “tapi saya belum pernah kena’ tuh,” sambungnya. Tapi, menurut Fitri Handayani, kekerasan yang ada pada MOS itu seperti lari-lari berkeliling sampai beberapa kali.
Siti Khairunnisa dari SMAN 3 Payakumbuh menjelaskan bahwa tindak kekerasan ini terjadi karena tidak ada pengawasan oleh guru. Pendapat pelajar yang juga pengurus OSIS ini didukung oleh Chika Aulia Husna. Chika yang baru duduk di kelas X.2 SMAN 1 Padang menyebutkan, “ Sekolah membiarkan mungkin hanya karena faktor ketidaktahuan. Sebab dasarnya seluruh wewenang pelaksanaan MOS dilimpahkan pada OSIS di bawah pimpinan ketua MOS.”
MOS yang ideal itu, seperti kata teman-teman dari SMA Semen Padang, adalah MOS yang memiliki unsur pendidikan. Yuswinda Gustanti misalnya, menurut cewek yang dipanggil Indah ini, MOS ideal adalah MOS yang membimbing, mendidik, dan mempertanggungjawabkan hal-hal yang perlu dalam menyesuaikan siswa dengan lingkungan sekolah yang baru. Menurut Yogi Aprilia Pranata, “MOS yang ideal itu seperti anak didiknya yang baik-baik, patuh-patuh, dan nggak banyak cingcong. Terus kakak OSIS yang ramah-ramah, pokoknya yang the best of the best,” harap pelajar SMAN 12 Padang ini. Agusdiana agak lain, baginya MOS ideal itu adalah MOS yang sesuai Hak Azazi Manusia (HAM) tanpa mengutamakan rasa senioritas.
Teman kita dari SMAN 3 Payakumbuh, Vani Wulandari, Siti Khairunnisa, Ari putra, dan Ryand Kusuma punya pendapat berbeda. Vani Wulandari  mengatakan MOS ideal itu adalah MOS yang masih wajar dengan mengembangkan bakat siswa serta punya disiplin dan atribut. Kata Siti Khairunnisa, MOS yang baik itu adalah MOS yang mengenal lingkungan dan lebih menekankan unsur sosialisasi. Ari Putra menambahkan, “Tidak hanya diadakan sosialisasi terhadap lingkungan orang-orang baru tetapi juga mengenai mental (tampil di depan umum) dan fisik (push up, scot jump atau lari).” Sedangkan Ryand Kusuma menyebutkan, “MOS ideal yaitu MOS yang atribut-at ribut bagi siswa baru itu aneh-aneh dan gokil karena dengan demikian suasana MOS akan terlihat benar-benar asyik dan ideal serta tanpa adanya kekerasan.”
Sementara itu, menurut M. Khairul Ikbal, MOS ideal itu yang propertinya tidak merepotkan, perkenalannya asyik, kita dibawa keliling sekolah untuk melihat fasilitas apa saja yang ada, serta dapat berkenalan dengan kakak-kakak, teman-teman, dan guru-guru. “Pokoknya kayak MOS di sekolahku sekarang deh. Kita juga diberi pengarahan non akademis loh, seperti narkoba, peduli lingkungan, kesehatan, dan lain-lain,” jelasnya panjang lebar.
Nah, menurut teman-teman lebih enak mana, pakai MOS atau nggak pakai MOS ? “Pake MOS dong. Kalau nggak, nggak seru!” jawab Fitri Handayani dari SMA Don Bosco Padang. “Mungkin nggak usah pakai MOS. Karena, nggak ada MOS pun, para siswa baru toh bisa beradaptasi,” jawab Edisman, siswa SMA Semen Padang. “Iya, pakai. Soalnya asyik. Kalau langsung belajar, apaan tuh?!” seru Septra Honny, siswa baru dari SMAN 9 Padang. “Sebenarnya sih MOS itu asyik. Tapi karena saat ini MOS dianggap sebagai ajang balas dendam. So, sekarang lebih baik nggak,” pilih Rici Astuti, siswi SMA Semen Padang. “Lebih enak pakai MOS, biar kita kenal sama orang-orang. MOS kan cuma satu kali selama sekolah. Jadi, kenapa nggak?!” tutur Rivo Amelia. “MOS itu nggak enak, kakak-kakaknya suka marah-marah, terus acara-acara yang dikasih membosankan. Masa’ kita disuruh berjemur, terus kakak-kakak satgasnya malah enak-enakan berteduh. Tapi kalau untuk kenalan, masih enak pake MOS lah,” jawab Sylvia Noberlin dari SMAN 12 Padang. “Pada MOS kita kan ngelakuin hal-hal konyol. Kapan lagi coba? Ya kan?!” sebut Nadia Kemala Putri. “Dibilang nggak enak sebenarnya perlu juga tapi karena sekarang banyak unsure yang negatifnya. Jadi, lebih baik nggak lagi deh,” bilang Wahyudi P, siswa SMA Semen Padang. “Pake MOS dong, biar bisa banyak teman,” terang Suci Monasti, siswi baru SMAN 12 Padang.  “Adanya MOS juga enak. Kan buat perkenalan dan ini akan diingat sampai saya jadi nenek-nenek. Tapi kalau nggak ada MOS juga enak. Kan beribet tuh, bawa-bawa yang disuruh kakak kelas,” terang Mira Susanti memandang dari dua sisi.
Kalau seandainya MOS dihapuskan, bagaimana? “Setuju aja soalnya MOS sekarang nggak mendidik,” sebut Wahyudi dari SMA Semen Padang. Fitri Handayani lebih halus, siswi kelas XII IPA 2 ini berkata, “Jika MOS sekarang banyak tindak kekerasan, sebaiknya dihapuskan saja.” Agusdiana dari SMA Don Bosco Padang juga setuju. Menurut siswi kelas XII IPA 3 ini MOS sekarang tidak ada rasa kemanusiaannya.
Tapi, Silvia Quentasari tidak setuju. “Saya nggak setuju MOS dihapuskan. Kalau nggak ada MOS, kita nggak bakalan ngerasa seneng masuk sekolah baru. Kita nggak ngerasain betapa enaknya dikerjain. Pokoknya MOS wajib harus selalu ada!” tegasnya. Husnunnisa dari SMAN 2 Padang juga tidak setuju. Kata Icha, panggilan akrabnya, “Nggak asyik kalau nggak ada MOS. Kalau nggak ada MOS siswa-siswi baru jadi nggak peduli lingkungan soalnya nggak tahu nama-nama guru dan fasilitas sekolahnya.” Sementara itu, Khairani berteriak, “Jangan!” Kata Rani, sekolah baru tanpa MOS bagai sayur tanpa garam, ibarat taman tanpa bunga. “Sebenarnya, MOS itu adalah sesuatu yang positif. Kalau ada senior yang melakukan hal yang di luar batas kewajaran barulah MOS patut dihapuskan,” ujar pelajar baru SMAN 1 Padang ini. (Nilna Rahmi Isna)

dirangkum dari laporan reporter P’Mails pada edisi 27 Juli – 2 Agustus 2008

About these ads

One thought on “Asal Nggak Ngelantur, MOS Masih Perlu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s