Diskusi Nasionalisme : Untuk Indonesia Aku Ada

Ketika Nasionalisme Remaja Dipertanyakan

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki mengalun di Gedung Bagindo Aziz Chan yang saat itu berlangsung Minangkabau Book Fair 2008, pada Minggu, 8 Juni lalu. Lagu yang dinyanyikan oleh segenap remaja ini merupakan lagu pembuka diskusi yang digelar Komunitas Untuk Indonesia bertopik: Nasionaluisme. Komunitas dengan slogan ‘Untuk Indonesia Aku Ada’ ini menggagas kegiatan ini untuk kaum remaja agar terbiasa berdiskusi dan berpikir kritis serta kreatif. Diskusi ini ditujukan untuk menggelitik rasa nasionalisme remaja Indonesia dengan beragam pertanyaan : Bagaimanakah masa depan Indonesia di pikiran remaja? Apa benar remaja sekarang tidak nasionalis? Apakah pernah remaja berpikir tentang nasionalisme?
Diskusi ini dilaksanakan oleh Komunitas Untuk Indonesia, didukung Revolt Institute dan Yayasan Citra Budaya Indonesia. Peserta terdiri dari para remaja, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum hadir untuk dipertanyakan rasa nasionalismenya serta ditantang untuk ‘kembali ambil andil’ dalam penentuan masa depan Indonesia lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Penanggap ahli dihadirkan dari tiga universitas di kota Padang yaitu Israr Iskandar dari Unand, Eka Vidya Putra dari UNP dan M. Taufik dari IAIN Imam Bonjol Padang.
Para penanggap ahli mengungkapkan kurangnya rasa nasionalisme remaja saat ini. “Ketika ada berita korupsi, kita tenang-tenang saja. Itu artinya kita tidak cinta Indonesia,” tutur Kak Eka. Ia menambahkan, “Nasionalisme adalah rasa. Rasa yang mesti diwujudkan.” Wujud dari rasa itu kemudian dikembangkan menjadi cinta hingga timbul pertanyaan : Bagaimana mewujudkan rasa cinta pada Indonesia?
Namun, sebelum pertanyaan itu dijawab, Kak Eka memancing peserta forum diskusi dengan satu pernyataan: Remaja saat ini tidak punya nasionalisme.
Maghriza Novita Syahti setuju atas pernyataan ini. “Remaja tidak punya nasionalisme. Bisa kita lihat saat upacara bendera dimana banyak dari remaja yang tidak serius dan lebih banyak main-main dan bercanda saat upacara,” ungkap mahasiswa Psikologi UNP ini. Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang menimpali, “Semestinya remaja tidak boleh bersikap seperti itu. Masa’ upacara yang cuma lima belas menit itu saja nggak mau.” Lily yang merupakan anggota pramuka ini merasa malu akan kondisi remaja yang diutarakan oleh Maghriza. Pasalnya, bagi Lily, upacara bentuk penghayatan lain dari rasa nasionalisme itu. Yang secara menukik sesungguhnya dikatakan Opi, upacara cara lain mengukur rasa nasionalis ramaja atau pelajar.
Sementara itu, Yogi Saputra mengatakan tidak mau remaja dianggap tidak nasionalis. “Semuanya itu berpaling pada diri sendiri. Saya tidak setuju remaja yang disalahkan dan dianggap tidak nasionalis. Apa bapak-bapak yang duduk di DPR itu juga punya rasa nasionalisme?” tanyanya keras, membuat peserta lain menerawang pada bapak-bapak yang duduk di DPR itu.
Mendukung pendapat sebelumnya, Alfian setuju atas pernyataan remaja sekarang tidak nasionalis. Golongan tua dijadikan kambing hitam dalam kalimatnya. “Nasionalisme itu warisan. Warisan nasionalisme itu yang tidak diberikan oleh generasi di atas kita,” ujarnya menggebu. “Bagaimana pelajar bisa tenang upacara jika guru juga tidak tenang (mengobrol,-red) saat upacara,” tambahnya lagi. Ihiks. Nyerempet ke guru nih. Karena, banyak bukti di sekolah, kala upacara misalnya, ada beberapa guru yang setengah hati mengikuti upacara. Bahkan diperhatikan murid, ada yang ngobrol bisik-bisik.
Menanggapi pernyataan peserta, Kak Taufik angkat bicara soal wujud nasionalisme. Menurut dosen IAIN Imam Bonjol Padang ini, Nasionalisme terbagi pada dua macam. Pertama nasionalisme secara simbolik dan nasionalisme secara hakikat. Melaksanakan upacara dan memakai barang-barang dalam negeri adalah wujud nasionalisme secara simbolik. Sedangkan nasionalisme secara hakikat adalah bagaimana menghayati nasionalisme itu sendiri. “Sebagian dari identitas kebangsaan itu bahwa kita adalah Indonesia dan Indonesia adalah kita,” serunya.
Ujung dari nasionalisme adalah bagaimana mencintai, mempromosikan, dan memberi pengertian bahwa Indonesia itu ada. Cara berpikir remaja dihidupkan dengan nalar. Ada pemikiran bahwa remaja belum menempatkan Indonesia sebagaimana mestinya. “Kita adalah bangsa Indonesia yang belum Indonesia. Maka nasionalisme digugah untuk mengindonesiakan Indonesia.”
Life style atau gaya hidup menjadi ‘tersangka’. Kenyataannya banyak remaja yang lebih cinta pada gaya hidup daripada Indonesia. Remaja sekarang suka glamour, kepingin nyeleb, mejeng di mall sehingga lebih hapal seluruh riwayat hidup artis, seperti misalnya Bunga Citra Lestari daripada Bung Karno atau Bung Hatta. Remaja sekarang diam-diam ingin dipeluk artis idola sehingga yang dipikirannya hanya sang artis akibatnya remaja lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai pelajar. Bahkan remaja saat ini tak kenal siapa itu M.Natsir dan H. Agus Salim. Saat ditanyakan mereka menjawab, “Tidak tahu” atau “Kayaknya pernah dengar namanya deh.” Sementara itu, ketika disebut nama Afgan dan Cinta Laura Khiel, semuanya mendongak dan menjerit histeris sebagai bukti cinta pada keduanya.
Sistem kapitalis telah meninabobokkan nurani bangsa. Bahkan negara Amerika sudah tidak punya rasa nasionalisme lagi. Nasionalisme Amerika sudah dirubah menjadi globalisme. Globalisme itu yang menghancurkan nasionalisme. Remaja Indonesia lebih suka memakan Fried Chicken daripada Rendang. Remaja Indonesia ahli membuat hamburger daripada pempek palembang. Remaja Indonesia lebih senang memakai model baju seperti Paris Hilton daripada mengikuti style kebaya seperti ibu Fatmawati.
Fenomena ini diakui Rifkia Khairati. Gadis berjilbab ini bersedih dengan remaja yang mengenal dan cuek dengan apa dan bagaimana Indonesia di awal, akhir, dan sekarang. Di lain pendapat, Iwan Ahmad mengungkit sumber daya alam Indonesia yang dibabat oleh negara lain menggunakan tangan bangsa kita, hal itu juga karena lengahnya remaja Indonesia.
Esha Tegar Putra yang berkuliah di Sastra Indonesia Unand mencontohkan nasionalisme remaja Indonesia pada grup band SLANK. “SLANK telah membantu KPK dalam pemberantasan korupsi dengan lagu kritisnya. Itu wujud nasionalisme Slank,” ucapnya. Lebih lanjut, Esha menegaskan kepada remaja untuk menimbulkan rasa ‘Saya Cinta Indonesia’ dan mewujudkannya.
Pemusik Untuk Indonesia pun ikut angkat suara. “Kita orang-orang minang sekali-kali mereferensi nasionalisme pada budaya,” katanya. Menurut penyuka lagu Iwan Fals ini, nasionalisme bisa diwujudkan dengan mencintai budaya.
“Nasionalisme itu adalah cinta kebenaran,” tukas Syamsul Bahri. Pria yang menjadi mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol Padang ini meletakkan kebenaran sebagai patokan. “Sebagai remaja apakah sudah benar sikap kita? Apa sudah serius belajar (benar dalam belajar,-red) ? Apakah tidak cabut dalam upacara (benar dalam upacara,-red) ? ” tanyanya memberikan gambaran.
Tamu jauh, Suhairi yang datang dari Jambi, mengatakan nasionalisme adalah cara pandang Indonesia kepada Pancasila dan UUD 1945. Ahmad Mukhlisin yang juga berasal dari Jambi menambahkan bahwa nasionalisme adalah bagaimana cara mengaplikasikan cara pandang itu.
“Apakah kita sudah merdeka?” tanya Kak Taufik. Pertanyaan itu mengejutkan nalar. Tersadar akan kealpaan, remaja dipaksa kembali mengingat-ingat persoalan yang sudah dan tengah dihadapi Indonesia. Multikrisis termasuk merajalelanya korupsi, ilegal logging, kemiskinan serta harga BBM yang tak pernah turun. Belum lagi masalah antarsuku, antarkampung, bahkan antaragama.
Kata Kak Taufik, remaja mesti memilah-milah mana yang harus dibanggakan dan mana yang tidak dibanggakan. “Secara ideologis atau teori, kita belum merdeka,” tegas kak Taufik.
Diskusi yang berlangsung selama dua jam itu berakhir dengan keyakinan, kita ada untuk Indonesia. Karenanyam, sedini mungkjin berbuat untuk Indonesia dari berbagai sisi kebaikan. (Nilna Rahmi Isna)

About these ads

10 thoughts on “Diskusi Nasionalisme : Untuk Indonesia Aku Ada

  1. Semua tentang Nasionalisme,
    AKu mohon beri aku cara dan beri aku saran, bagaimana aku harus mengangkat rasa nasionalisme dalam cerpen?

    Aku mohon_

    • jangan memaksakan ide. cari refrensi . bikin plot yang kere misal extreme plot hehehe. yang penting startegi menyisipi nilai nasionalis sampek pembaca sadar tanpa di gurui :-)

  2. Nice post…
    Menurutku skg kita terkesan byk mengejar NASIONALISME SIMBOLIK. Spt beramai2 mendukung timnas sepakbola atau tim olimpiade kita. Dan begitu bersedih bila mereka gagal. Namun, kita begitu cuek saat tahu bangsa ini semakin dijajah oleh korporasi2 asing. Kalau sudah spt ini, kemana nasionalisme kita?

  3. Sebenarny saya setuju bahwa kaum remaja yg kurangny rasa nasionalisme .
    Misalnya saja sekarang masih banyak kaum remaja yg masih menggunakan bahkan sangat bangga dengan produk luar negeri sedangkan mereka meremehkan produk Indonesia yg notabenny masih dibilang lebih rendah .
    Padahal jika seandainy mereka mnggunakan produk dalam nageri mereka masih punya rasa nasionalisme walaupun dgn hal yg sesepele itu .
    Mereka bahkan bisa mnjadikan brtambahnya kualitas produk itu sendiri .
    Sehingga dpt mnguntungkan negara

  4. saya tertarik dengan isi tulisan saudara……
    sebagai seorang mahasiswa kita harus lebih jeli dan teliti dlam menilik hal hal yg memberikAn dkonstribusi apa terhadap negara kita sendiri..apa sih maksud mereka??…
    sayangnya kita tidak memiliki seorang figur seperti Deng Xio Ping dari china yg berani menentang AS…..kalau kita di Indonesia sendiri pernahkah????
    lunturnya rasa nasionalisme di Indonesia ini sangan memilukan….hal hal sepele mungkin tak kita sadari , seperti tidak bisa berbicara dengan bahasa daerah nya sendiri , sungguh disayangkan ..padahal kita punya beragam budaya,bahasa, yg tidak dimiliki oleh negara2lain…….kenapa kita lebih memilijh mereka ketimbang negara kita sendiri???

  5. menurut saya kita harus belajar kepada bangsa Jepang mengenai nasionalisme terhadap bangsa dan negaranya, karena para remaja sekarang, (jgnkan remaja, mahasiswa, dan dewasa pun sama) hanya menumbuhkan nasionalisme pada tangal 17 Agustus 1945. setelah tanggal itu maka hilanglah rasa nasionalisme kita, bayangkan bagaimana mahasiswa ditanya mengenai siapa itu bung Tomo, dia mengatakan “tidak tahu”, lalu seorang pemain sepakbola nasional ditanya berapa jumlah bulu pada sayap burung garuda indonesia jawabannya “lupa”, lalu bagaimana dengan seorang mahasiswa yang ditanya mengenai siapa itu Sultan Agung maka dijawab “raja brunei” kan sangat ironis sekali, maka menurut saya sikap menumbuhkan rasa nasionalisme harus di pupuk sejak dini, caranya dengan memanfaatkan peran orang tua, dan para pejabat negara, tanamkan rasa nasionalisme dengan mengajak ke tempat situs2 perjuangan, jika mau cara yang ekstrem maka kita harus melarang semua produk sosial yang bersifat asing untuk masuk dalam negara indonesia. SEKALI INDONESIA TETAP INDONESIA,

    NB: ada gk sih forumnya untuk bergaung dengan remaja nasionalis???
    klo ada kasih tau caranya dengan mengirimkan syarat bergabung ke dalam email
    agungw166@gmail.com, ditunggu yah karena saya ingin bergabung

    ***

    nilna say : saya juga geli dengan rendahnya nasionalisme bangsa ini. Oke. forumnya ada. Namanya Komunitas Untuk Indonesia. Silahkan bergabung. Blognya : http://kuindonesia.wordpress.com

  6. Wajarlah karena paradigma remaja sudah di isi dengan hal-halyang heppi-heppi dan bermanfaat(sebenarnya nggak tapi kata remaja kebanyakan asyik bin enjoy ngelakuinnya).menurut saya ,remaja itu senjata ampuh kalo disalhgunain ya apa jadinya negara kite? sengaja mereka di buat seperti itu agar indonesia hancur bin ludes. tantangan kita yaitu mengajaka mereka naik bus menuju surga. jalannya sudah ada kadang cari jalan pintas eh malah nyasar ke neraka. tantangan bagi yang sadar tapi kadang yang sadar juga menikmati kesesatan meski nggak banyak (Wallahua’lam) tapi memang remaja kudu joss. mau nggak mau. mereka gantiin kekuasaan para tua-tua di atas sana. ya kalo mereka hedois dan terlalu fanatik ya tahu sendirikan?

  7. saya inigin membuat organisasi di indonesia yang peduli tentang perarturan dan aturan
    komunitas yg saya inigin dirikan saya berinama
    [ KAMI = Komunitas Anak Modern Indonesia ]
    umur saya baru 16 th
    saya ingin membuat organisasi tersebut dikarenakan maraknya anak modern atau anak muda jaman sekarang banyak yang tidak taat aturan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s