Belajar Psikologi membuatku Gila

Belajar psikologi membuat saya sakit jiwa. Setiap pertanyaan yang muncul selalu berhubungan dengan kelainan jiwa. Skizofernia, klepto, phobia, imsomnia, dan penyakit-penyakit nyaris gila lainnya. Bahkan seorang yang terlalu pintar pun disebut memiliki kelainan jiwa. Termasuk para peramal, ilusioners, dan orang-orang berkemampuan sedikit luar biasa dari manusia pada umumnya.

 “Apakah orang gila juga jatuh cinta?”
“Bagaimana dengan mimpi yang diiringi de javu, apakah berkaitan dengan ilmu psikologi, ilmu jiwa?”
“Apakah phobia dapat ditularkan?”
“Apakah seorang klepto bisa disembuhkan?”
“Saya pernah bermimpi pergi ke kamar mandi. Dan ketika terbangun sudah berada di kamar mandi. Apakah itu juga berhubungan dengan kelainan jiwa?”
“Di lingkungan rumah saya, ada orang gila yang selalu jalan mundur. Itu kenapa?”
“Kenapa kalau kita lari, orang gila mengejar kita?”
“Apakah seorang bayi juga mengalami masalah?”
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mengapa ada seorang anak yang sikapnya kurang ajar? Berbeda dengan ayah dan ibunya yang alim?”
“Apa itu insting?”
“Samakah insting manusia dengan insting hewan?”
“Kenapa bayi juga tertawa?”
“Kalau orang gila dengan orang gila dikawinkan, apakah anaknya juga gila?”
“Mungkinkah gila penyakit keturunan?” 

Dan pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya, mulai dari yang benar-benar bertanya sampai kepada yang asal-salan bertanya. Berawal dari pertanyaan, lalu ada yang membantu menjawab, kemudian terjadi diskusi, dan akhirnya timbul perdebatan. Sebenarnya ini metode belajar yang baik tapi pertanyaan yang muncul selalu saja melenceng dari topik pembicaraan awal. Yang menyebabkan kurikulum tidak terselesaikan. 

Ditambah pula dengan iming-iming bahwa siapa yang bertanya akan mendapatkan nilai plus dari dosen. Kalau begitu siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan ini? Selagi masih ada pertanyaan di kepala, kenapa tidak ditanyakan? Bahkan ada yang sengaja berpikir keras agar memiliki sebuah pertanyaan atau berusaha mencuri dengar bisik-bisik teman di belakang. Fenomena yang sesungguhnya sudah taka sing lagi tapi tetap terasa aneh. Aneh.

About these ads

3 thoughts on “Belajar Psikologi membuatku Gila

  1. belajar psikologi membuat aku merassa seperti burung yang tidak puya sayap dan tidak punya kantung kemih jadi tidk bisa kecing..

  2. Iseng-iseng nih jawab pertanyaannya..kek ujian psikologi abnormal aja nih

    “Apakah orang gila juga jatuh cinta?”
    =Tidak. Penderita tidak mampu mengendalikan emosi dan perasaan.

    “Apakah phobia dapat ditularkan?”
    =Tidak. Phobia itu ketakutan yang tidak logis. Tidak semua orang merasakan ketakutan yang tidak logis tersebut.

    “Apakah seorang klepto bisa disembuhkan?”
    =Bisa.

    “Saya pernah bermimpi pergi ke kamar mandi. Dan ketika terbangun sudah berada di kamar mandi. Apakah itu juga berhubungan dengan kelainan jiwa?”
    =itu namanya tidur berjalan (somnabulisme).Kelainan jiwa tentu tidak, tetapi somnabulisme hanya salah satu dari sekian banyak gangguan tidur.

    “Kenapa kalau kita lari, orang gila mengejar kita?”
    =tidak selalu.

    “Apakah seorang bayi juga mengalami masalah?”
    =Ya, seperti problem makan, gangguan tidur kronis, tonus otot lemah, apatis, dan ketakutan terhadap objek atau benda yang bergerak cepat. Untuk mendeteksi bayi tersebut menderita schizophrenia atau tidak harus sangat teliti.Pada masa bayi sangat sulit dibedakan antara gangguan jiwa (neurosis), seperti autisme, hiperaktif, dan sindrom Asperger, dll.

    “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mengapa ada seorang anak yang sikapnya kurang ajar? Berbeda dengan ayah dan ibunya yang alim?”
    =Banyak faktor yang mempengaruhi sifat dan tingkah laku seseorang; faktor internal, faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor lingkungan.

    “Kalau orang gila dengan orang gila dikawinkan, apakah anaknya juga gila?”
    =Orang gila tidak mungkin jatuh cinta apalagi kawin. Karena setiap penderita mengalami ketidakmampuan dalam berpikir yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan perasaan.

    “Mungkinkah gila penyakit keturunan?”
    =Mungkin. Menurut pendapat saya, genetiknya penyakit ini disebabkan oleh beberapa hal yang terkait dengan lingkungannya. Pengasuhan yang salah menjadi salah satu pemicunya. Jika anak tumbuh menjadi individu yang manja, maka ia lebih berpotensi mengidap penyakit ini. Selain itu, keluarga besar (memiliki banyak saudara) juga menjadi salah satu penyebabnya. Problem saudara rentan terjadi sehingga memicu stress dan depresi pada individu.

  3. agak bingung dengan istilah orang gila,, apa maksudnya orang skizophrenia? tapi ada kasus dimana penderita dengan skizoafektif masih punya insight yang baik dan bisa mencari pertolongan dan hidup seperti biasa? rasanya kurang setuju kalau disamaratakan orang gila gak bisa jatuh cinta.. hmmm ada juga seorang penderita skizophrenia yang masih mempunya emosi yang sungguh2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s